Facebook, Pikiran atau Perasaan?

Bagikan/Suka/Tweet:

Wijang Warek Al-Mauti

Adakah yang telah salah dilakukan oleh Mark, Eduardo, Andrew, Dustin, dan Chris ketika mereka berlima mendirikan layanan jejaring sosial bernama Facebook atau akrab disingkat FB pada Februari 2004 di Melno Park, California, AS?

Sementara menurut mereka, FB ini dimaksudkan sebagai sarana sosial yang menghubungkan sekaligus menjaga hubungan orang-orang,  antartema yang berada di sekitarnya dengan cara saling bertukar kabar, berbagi foto, video, dan tautan agar bisa saling mengetahui lebih jauh dan dalam keberadaan masing-masing orang yang terhubung.

Tapi kenyataannya? Banyak orang atau pengguna yang telah keliru memanfaatkannya! Terutama pada beberapa waktu belakangan ini, Facebook  lebih banyak disalahgunakan untuk memprovokasi, mengindoktrinasi, propaganda, saling nista dan caci maki, berdagang komoditas, membentuk koloni yang eksklusif, memecah belah ‘devide et impera’, menyebarkan kebencian dan permusuhan, mencurahkan perasaan hati, dan lain sebagainya. Padahal jelas sekali pada jendela ‘status’ Faceboook telah dimunculkan pertanyaan “Apa yang Anda pikirkan?”, dan bukan “Apa yang Anda rasakan?”

“Apa yang Anda pikirkan?” mengandung maksud bahwa apa yang ingin disampaikan melalui jendela ‘status’ adalah berdasarkan akal(sehat). Sedangkan bila “Apa yang Anda rasakan?” tentu yang ingin disampaikan lebih dilandasi oleh perasaan(hati). Sementara “pikiran” dengan “perasaan”, sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda, bukan? Dan jujur saja, ‘status-status’ yang bertebaran selama ini lebih banyak mengungkapkan perasaan, dan bukan pikiran! Yuk, mengaca… Kasihan Mark dkk-nya yang akan turut menanggung ‘dosa’ akibat ulah para pengguna FB.

Mendadak saya teringat lirik lagu Ebiet G Ade “Lelaki Ilham dari Surga”…. ‘tetapi ternyata ia lebih banyak berjalan dengan pikirannya…’