Beranda Teras Berita Fatin Hamama: “Saya Tidak Membeli Kawan-Kawan Sastrawan”

Fatin Hamama: “Saya Tidak Membeli Kawan-Kawan Sastrawan”

68
BERBAGI
Fatin Hamama (dok TIM)

JAKARTA–Nama Fatin Hamama belakangan menjadi perbincangan publik sastra Indonesia lantaran dia dianggap menjadi perantara Denny JA untuk mengajak 23 sastrawan menulis puisi esai. Proyek buku puisi esai ini kemudian bermasalah karena empat dari 23 penyair mengaku diperalat Denny.

Empat penyair itu adalah Ahmadun Yosi Erfanda, Chavcay Saifullah, Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang. Mereka merasa ditunggangi lantaran sebelumnya tidak mengerti tawaran Denny lewat Fatin akan dijadikan alat semacam legitimasi pengaruh konsultan politik itu dalam kepenulisan puisi-esai.

Tim 8, juri sekaligus penulis, memasukkan nama Denny JA ke dalam buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’ karena dia dianggap merintis genre sastra baru: puisi-esai. Setelah buku itu terbit awal Januari lalu, tidak lama lagi akan segera terbit buku yang merangkum puisi esai dari 23 penyair.

Nah, empat dari 23 penyair yang terlibat dalam proyek buku puisi-esai itulah yang belakangan sadar karyanya hanya akan dijadikan alat legitimasi pengaruh Denny JA, setelah buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’ terbit dan menjadi polemik. Pasalnya, saat menyetorkan karyanya, para penyair itu tidak tahu menahu bahwa akan terbit buku yang kini bikin heboh publik sastra Indonesia itu.

Bahkan, Ahmadun mengakui dirinya telah melacurkan diri kepada Denny JA lewat Fatin demi uang Rp 10 juta yang diterimanya.

“Setelah sempat tawar menawar (mirip pelacur ditawar lelaki hidung belang lewat mucikari) akhirnya Denny sepakat membayar puisi esai saya Rp 10 juta. Yah, sesekali tak apalah jadi pelacur sastra asal pelacur yang mahal, pikir saya. Kan hebat, satu puisi dibayar 10 juta…. He he he,” demikian tulis Ahmadun lewat sebuah komentar di salah satu postingan fan page Denny J.A’s World di Facebook seperti dikutip merdeka.com, Rabu (5/2).

Menanggapi pernyataan empat penyair itu, Fatin Hamama kepada merdeka.com memberikan klarifikasinya lewat sambungan telepon, Kamis (6/2). Dalam pernyataan yang kadang disertai intonasi tinggi, Fatin menegaskan, dia tidak membeli kawan-kawannya. Berikut wawancara merdeka.com dengan Fatin Hamama:

Empat dari 23 penyair, Ahmadun Yosi Erfanda, Chavcay Saifullah, Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang, merasa diperalat Anda soal proyek buku puisi-esai 23 penyair. Tanggapan Anda?

Kawan-kawan itu manusia-manusia dewasa, orang terpelajar dan terdidik, tidak mungkin mereka diperalat dan tertipu. Siapa yang bisa memperalat sastrawan besar seperti Mas Ahmadun, siapa yang bisa memperalat Mas Chavcay, Mas Kef dan Bang Sihar.

Mereka mau menulis setelah saya tawarkan. Saya menawarkan menulis puisi esai karena intinya saya tertarik mengangkat isu-isu diskriminasi dan kondisi sosial yang terjadi dalam masyarakat kita dan belum terangkat. Kalau sekarang disebut diperalat, saya katakan sama sekali tidak diperalat.

Memang berapa honor untuk sebuah puisi-esai?

Rp 3 juta. Temanya bebas. Khusus untuk Mas Ahmadun, sebenarnya gak mau mengangkat ini ke media, kalau (Ahmadun) tidak berbicara ke media, saya akan menutup.

Mas Ahmadun sebenarnya sudah deal dengan saya dengan Rp 3 juta. Sorenya dia telepon saya ‘puisi saya sudah jadi’, katanya ‘puisi saya bagus banget’. Dia mengatakan ga mau dibayar, tapi ‘saya lagi butuh uang karena keluarga ada yang sakit dan butuh untuk anak yatim’.

Jadi akhirnya honor untuk Ahmadun Rp 10 juta?

Ya, atas pertimbangan kemanusiaan. Kita tahu kebutuhan dia. Bukan honor lebih untuk orang lain, bukan membeda-bedakan. Memang itu karena kemanusiaan.

Soal memperalat tadi, empat penyair itu merasa diperalat karena tidak tahu buku ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’ akan terbit, sehingga menurut mereka buku puisi esai dari 23 penyair akan digunakan sebagai alat legitimasi pengaruh Denny JA dalam kepenulisan puisi esai. Tanggapan Anda?

Gimana kalau logikanya terbalik. Kalau memang ada desain untuk mengukuhkan, kenapa buku ’33 Tokoh Sastra’ meluncur dulu, baru meluncurkan ’23 penyair’? Kenapa tidak ’23 penyair dulu’ baru setelah itu diluncurkan ’33 Tokoh Sastra’.

Bukankah Denny JA sudah banyak mengadakan lomba puisi-esai sebelum ’33 Tokoh Sastra’ terbit?

Oh, itu sudah lama sekali.

Banyak kalangan menduga, ada proses awal memunculkan nama Denny JA lewat lomba-lomba puisi-esai untuk kemudian dinobatkan menjadi ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Proses setelah itu adalah legitimasi pengaruh sekaligus meredakan polemik. Tanggapan Anda?

Kalau pengaruh orang jadi ikut nulis puisi esai itu pengaruh amat dangkal. Pengaruh lebih dari itu, bahwa kita bisa menyaksikan orang-orang menulis puisi esai lewat cyber, dan sebagainya. Bukan berarti buku 23 penyair menunjang pengaruh ’33 Tokoh Sastra’

Apa komentar Anda soal ramainya kritik di media sosial soal Denny JA?

Saya menghormati pendapat dan argumentasi orang-orang. Saya menghormati orang bekerja untuk sastra. Tapi bagaimana saya bisa menghormati orang yang katanya berjuang untuk sastra, tapi berbicara kepada orang dengan caci maki dan tanpa martabat. Mending orang berkarya atau orang yang mencaci-maki?

Soal honor Rp 3 juta per penulis, apa itu benar dari Denny JA?

Bisa jadi. Honor itu saya yang ngasih.

Tapi apakah sumbernya dari Denny JA?

Apakah etis membicarakan sumber uang. Mas, ini sastra lho. Kalau pun uang dari Denny JA, lihatlah isi (puisi esai) dan manfaatnya dari kawan-kawan itu. Saya tidak membeli kawan-kawan.

Berapa banyak orang kaya yang menghambur-hamburkan uangnya tapi tidak pernah melihat sastra. Kalau yang diangkat persoalan-persoalan sosial, diskriminasi, bermanfaat ga uangnya? Kita bicarakan manfaatnya, bukan soal uangnya dari Denny JA.

Kita lihat betapa susahnya orang kaya untuk melihat sastra, banyak orang bikin proposal dan ditolak. Denny JA jangan dilihat sebagai pengusaha. Denny JA itu dulu pakai sendal jepit, sebelum kuliah ke PDS HB Jassin. Ketika sekarang kembali ke dunia sastra, apa yang salah?

Dugaan sejumlah kalangan kan Denny JA ‘membayar’ untuk bisa masuk menjadi ’33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh’. Kalau benar, bukankah uang yang dikeluarkannya untuk sastra ada kompensasinya dengan dia menjadi terkenal?

Salah ga menjadi terkenal? Kita lihat pada dunia nyata. Kita coba berpikir positif.

Dari empat penyair tadi, ada Sihar Ramses Simatupang yang ingin mengembalikan honor ke Denny JA dan meminta puisinya berjudul ‘Kisah Pohon Asam di Tanah Jakarta’ tidak dimuat?

Saya tidak punya nomor rekening Denny JA. Kalau soal menolak dimuat, ini buku sudah naik cetak, satu dua minggu lagi mungkin akan terbit. Saya bertanggung jawab dan masyarakat harus baca karena karya ini bagus untuk masyarakat.

Tapi penulisnya menolak dimuat, apa tidak takut akan memicu polemik lagi?

Kita sudah deal. Kalau membeli barang, berapa lama garansinya. Ini kan sudah beberapa bulan, kini sudah mau jadi mau ditarik. Dalam hukum bisnis itu gak fair.

Pertanyaan terakhir, empat penyair tadi menyebut Anda kurir atau perantaranya Denny JA. Tanggapan Anda?

Apa dosanya saya jadi teman Denny JA. Saya punya relasi dengan Denny JA. Ada kejahatan kah di sana?


Sumber: merdeka.com