Beranda Seni Tradisi Festival Butabuh: Wakil Lamtim, Pesawaran, dan Lamsel Jadi Penampil Terbaik

Festival Butabuh: Wakil Lamtim, Pesawaran, dan Lamsel Jadi Penampil Terbaik

177
BERBAGI
Festival Butahub Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung (DKL) yang digelar di Kompleks PKOR Way Halim Bandarlampung, Sabtu (25/6/2016).

TERASLAMPUNG.COM — Kelompok Seni Budaya Melinting asal Kabupaten Lampung Timur; Sephikhiran dari Kabupaten Pesarawan, dan Hanuang Banding asal Kabupaten Lampung Selatan, ditetapkan sebagai tiga penampil terbaik Festival Butabuh 2016 yang digelar Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung Sabtu, (25/6/2016).

Ketiganya dipilih oleh tiga pengamat yang terdiri dari Drs Nurdin Darsan, I Gusti Nyoman Arsana, dan Andy Wijaya.

Sejak pukul 14.00, 12 grup perwakilan 15 kabupaten/kota se-Lampung menyuguhkan rupa-rupa teknik Tetabuhan dan lantunan syiar yang bernafaskan Islam. Festival Butabuh yang dihelat di PKOR Way Halim-Bandarlampung.

Kegiatan ini dihadiri Hery Suliyanto (Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung) yang didampingi Harry Djayaningrat, Farida Haryani (Budayawan Intelektual Lampung), Udo Z Karzi (Sastrawan-Budayawan Lampung), Syafril Yamin (Rajo Cetik), Agus Salim, dan sejumlah seniman Lampung lainnya.

Acara yang digelar Komite Tradisi Dewan Kesenian Lampung itu dipadati ratusan pengunjung, yang ingin menikmati keunikan salah satu khazanah musik asli Lampung itu. Masing-masing grup membawakan lima tajuk seni berbeda, mulai dari zikir lama, zikir baru, hadrah lama, hadrah baru, dan rudat. Berbekal rebana, mereka memainkan lagu berlirik rohani Islam dengan lantunan bait yang merdu. Bahkan, beberapa grup sengaja menampilkan penari dengan gerak tari tradisional.

Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung, Hery Suliyanto, mengatakan butabuh adalah pagelaran musik yang unik dan bercita rasa tinggi. Apalagi dalam bait-bait yang dilantunkan, terkandung makna filosofis yang bisa diambil pelajaran di dalamnya.

“Selain dari sisi seninya, grup penampil juga mengangkat khazanah Lampung dari segi fisiknya. Di mana, seluruh pemainnya mengenakan pakaian adat dan melantunkan lagu dengan bahasa Lampung,” kata Heri.

Ketua Pelaksana Festival Butabuh, Suttan Purnama,mengatakan kegiatan ini bertujuan  mengangkat kembali khazanah musik asli Lampung. Apalagi, seni musik tersebut kental dengan nuansa religius. Pelaksanaannya pun dinilai tepat apabila diadakan saat bulan Ramadan.

“Bicara soal masyarakat yang punya konsen ke seni butabuh, sebenarnya di Lampung cukup berlimpah dan mudah ditemukan. Apalagi hampir di tiap kabupaten/kota, bisa dipastikan memiliki rata-rata 5-6 grup butabuh. Seperti acara hari ini saja, kalau diundang semua grup butabuh di Lampung, kami kira festival ini nggak bisa digelar hanya sehari saja,” terangnya.