Festival Krakatau dan Gebalau Budaya Lampung*

  • Bagikan
Tur Krakatau 2014 dalam rangka Festival Krakatau 2014. (Teraslampung.com/Mas Alina Arifin)

Meski agak berbeda dibanding Festival Krakatau tahun-tahun sebelumnya, kesan bahwa Festival Krakatau sebagai sebuah upacara rutin belum hilang. Sebabnya jelas: pertama, panitia utama festival tetap pihak lama (Dinas Pariwisata)—yang berarti melibatkan orang-orang lama. Kedua, pola penyelenggaraan tetap sama, yakni menyerahkan pada pihak ketiga tanpa ada informasi luas bagaimana proses lelang atau proses penunjukkannya. Ketiga, publikasi yang minim dan tidak berkesinambungan.

Publik yang selama ini berkecimpung di dunia wisata pasti tahu bahwa sejarah Festival Krakatau jauh lebih tua dibanding Jember Fashion Festival (JFF) di Jember dan Festival Musi (FM) di Palembang. Namun, harus diakui gaung dua festival yang jauh lebih belia usianya itu lebih besar secara nasional. Padahal, soal praktik pelaksanaaan tangkai even, saya kira eksotisme hasil eksplorasi tapis Lampung pada Parada Budaya Lampung di ajang Festival Krakatau tidaklah kalah dengan eksplorasi mode di ajang JFF.

Saya meyakini Festival Krakatau pada masa-masa mendatang kualitasnya tak akan pernah bergeser jauh (menjadi lebih baik) kalau tidak ada ‘revolusi mental’. Lama-lama Festival Krakatau akan menjadi seremoni yang terasing dari masyarakatnya.

* Tulisan ini juga dimuat Lampung Post 5 September 2014

  • Bagikan