Beranda News Budaya Fikar W. Eda, Membangkitkan Kesadaran dengan Puisi

Fikar W. Eda, Membangkitkan Kesadaran dengan Puisi

104
BERBAGI
Fikar W. Eda (Foto: Oyos Saroso HN)
Oyos Saroso H.N.
Berbilah-bilah rencong/dengan sarung dan tangkai berkilap/tak lupa kami selipkan/pertanda /martabat/dan keagungan/betapa pedih hati kami/dari Jakarta/kalian hujamkan mata rencong itu/
tepat di jantung kami!
Itulah penggalan puisi berjudul “Rencong” karya penyair Aceh, Fikar W. Eda. Puisi itu menjadi “puisi wajib” yang selalu dibacakan oleh Fikar W. Eda dalam pelbagai acara pentas puisi di berbagai  kota di Indonesia. Rencong adalah senjata tradisional Aceh yang bentuknya mirip keris. Bagi orang Aceh, rencong bukan hanya sebuah senjata, tetapi juga berarti harga diri.Selain puisi berjudul “Rencong”, Fikar W. Eda juga memiliki “puisi wajib” yang selalu dibacakan pada setiap acara pentas puisi, yaitu puisi berjudul “Seperti Belanda”. Puisi yang dibuat tahun 1996 itu berbicara tentang “keserakahan” Jakarta”. “Seperti Belanda” dan “Rencong” berkisah tentang kepedihan rakyat Aceh karena diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang oleh pemerintah Indonesia. Oleh Fikar, —dan banyak seniman Aceh—Jakarta selalu diindentikkan dengan Indonesia.

 Karena aksi panggungnya yang bagus dan memukau penonton, sesuai kedua puisi itu dibacakan Fikar biasanya penonton akan bertepuk tangan. Suasana pembacaan puisi biasanya akan terasa lebih hangat.Berbicara tentang kepenyairan Aceh, tak lengkap tanpa menyebut nama Fikar W. Eda. Pria kelahiran Takengon, Aceh,  pada tahun 1966 ini menjadi salah satu tokoh gerakan perlawanan rakyat Aceh terhadap kesewenang-wenangan penguasa lewat jalur seni. Dengan puisi-puisinya, Fikar menjadi “penyambung lidah” rakyat Aceh yang selama berpuluh tahun menderita karena kekayaan Aceh terus digali, sementara hanya sebagian kecil saja yang dinikmati rakyat Aceh.“Ketika orang takut menulis tentang pelanggaran HAM di Aceh pada masa Orde Baru, saya sudah menulis tentang kebijakan-kebijakan Soeharto dalam bentuk puisi. Saya membangunkan dan membangkitkan kesadaran orang-orang lewat puisi,”  kata Fikar.

“Ketika Soeharto sudah tidak ada lagi pun orang-orang harus dibangkitkan kesadarannya bahwa pelanggaran HAM yang pernah terjadi tidak boleh dilupakan begitu saja,”  tambahnya.

Aceh memiliki sejarah sastra dan perlawanan yang panjang. Sejak abad ke-17, saat orang-orang Eropa mulai mulai menduduki daerah yang disebut sebagai Serambi Mekkah itu, hingga abad ke-19, resistensi masyarakat Aceh terus bergolak. Pergolakan rakyat Aceh terhadap penjajah tampak pada syair-syair Aceh masa lampau. Syair yang paling terkenal adalah Hikayat Prang Sabi yang ditulis Teungku Chik Pantee Kulu dalam pelayaran pulang haji dari Jeddah ke Pulau Pinang. Syair itu kemudian diberikan kepada Teungku Chik Di Tiro di Sigli.

Ada juga puisi “Prang Kompeni” yang ditulis Abdul Karim atau dikenal dengan Do Karim, berisi semangat perjuangan melawan aneksasi bangsa Eropa. Bahkan, pada abad ke-14 saat Portugis menyerang wilayah Aceh, lahir Hikayat Prang Paringgi yang menyentuh perasaan dan mendorong semangat juang untuk berperang. Dalam hikayat itu disebutkan bahwa mati berperang adalah syahid, yang merupakan mas kawin untuk mendapatkan bidadari surga.

Para penyair modern di Aceh banyak menyuarakan karena persoalan politik dan keamanan akibat pertikaian antara Tentara Nasional Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Gambaran itu dapat dilihat pada kumpulan puisi Aceh Mendesah dalam Nafasku,
Kitab Mimpi,  Seulawah, dan lain-lain.

Di antara penyair modern Aceh, Fikar W. Eda termasuk paling menonjol. Salah satu penyebabnya, selain secara estetis karya-karya Fikar memang bagus, ayah tiga anak ini juga aktif di berbagai kampanye hak asasi manusia untuk rakyat Aceh dan sering membacakan karyanya di berbagai forum.

Menurut penyair Rendra, Fikar sangat fasih dalam memadatkan pengucapan dan selektif dalam menggambarkan detail.

“Ketangkasannya dalam menciptakan rima memang
sangat khas menunjukkan tradisi lisan Takengon yang mengalir dengan deras dalam darahnya. Inilah kumpulan puisi seorang penyair romantis yang dilanda kepedihan dan keprihatinan menyaksikan kampung halamannya berantakan akibat praktek
politik kekuasaan tanpa etika,” ujar Rendra dalam pengantar buku puisi berjudul Rencong.Selain dipublikasikan di banyak media cetak nasional, karya-karya Fikar juga di beberapa  buku. Antara lain Antologi
Puisi Indonesia ’87 (Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Sastra Aceh Seulawah (Yayasan Nusantara-Pemda Aceh 1996), Ranub (Yayasan Lempa 1985), Antologi Kemah Seniman Aceh (1997), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung 1997), Antologi Puisi Indonesia Jilid 1 (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Aceh Mendesah dalam Nafasku, Rencong (2004),
dan lain-lainMenyelesaikan pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Fikar memilih karir sebagai jurnalis. Penyair yang kini tercatat sebagai jurnalis di Harian Serambi Indonesia ini tidak hanya menuliskan kepedihan Aceh,  tetapi juga membacakannya di sejumlah kota di Indonesia. Antara lain di Banda Aceh, Solo, Jakarta, Lampung, Medan , Bandung, dan Jakarta.

Fikar sempat menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Aceh, dan Lembaga Penulis Aceh (Lempa) sebelum kemudian
hijrah ke Jakarta.

Dia pula yang kemudian mengetuai kegiatan kampanye seni untuk HAM Aceh di berbagai kampus dan tempat hiburan di Jakarta yang melibatkan banyak penyair Indonesia. Fikar juga ikut mengisi album kaset Puisi untuk Aceh (Penerbit Kasuha 1999) bersama-sama dengan Rendra, Taufiq Ismail, H Danarto, Leon Agusta, dan Sanggar Deavies Sanggar Matahari.

“Kami mengasong puisi di kafe-kafe bersama para penyair ternama Indonesia itu. Semua uang terkumpul disumbangkan untuk rakyat Aceh,” kata Fikar.

Fikar mengaku, membangun kembali seni dan kebudayaan Aceh setelah wilayah itu diterjang tsunami tidaklah mudah. Akibat tsunami, banyak seniman tradisi dan seniman modern Aceh yang meninggal.

“Untunglah Aceh tak hanya kaya minyak. Aceh juga kaya generasi muda seniman yang terus melakukan proses kreatif . Mereka
aset kebudayaan Aceh.. Merekalah masa depan seni dan kebudayaan Aceh,” kata penyair yang juga menjadi sekretaris jenderal Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) ini.Tentang aktivitasnya di gerakan HAM untuk Aceh, Fikar mengaku sebagai orang Aceh yang kini tinggal di Jakarta tidak bisa berdiam diri menyaksikan kampung halamannya hancur.

“Kami tetap berjaringan dengan teman-teman yang ada di Aceh dan daerah lain di Indonesia. Intinya, kami ingin Aceh kembali bangkit,” ujarnya.

Menurut ketua Forum Sastrawan Indonesia ini, aktivitas sebagai penyair dan aktivis HAM selama ini tetap tidak mengganggu
profesinya sebagai jurnalis.

“Semuanya (menjadi jurnalis, aktivis HAM, dan penyair) berjalan seiring sehingga tidak menganggu. Saya juga masih punya waktu untuk keluarga. Saya kira banyak juga sastrawan yang aktivitasnya tidak hanya di dunia sastra,” ujarnya.
“Penyair yang juga menjadi aktivis dan jurnalis justru lebih ‘kaya’ dibanding penyair yang hanya berprofesi sebagai sastrawan. Menjadi jurnalis dan aktivis memungkinkan saya mendapatkan lebih banyak informasi. Semua pengalaman saya olah kembali menjadi puisi untuk menjadi milik publik,” kata penyair yang banyak menghasilkan puisi berisi kritik sosial ini.
Loading...