Beranda Teras Berita Film Abad Kejayaan: Pangeran Mustafa Dibunuh Raja Lalim

Film Abad Kejayaan: Pangeran Mustafa Dibunuh Raja Lalim

2757
BERBAGI

Baginda Suleiman, Ayah yang Membenci Anaknya Sendiri (2)


PADA episode 123 yang ditayangkan ANTV malam ini (21/7/2015) Baginda Suleiman merancang pembunuhan terhadap anak sulungnya, Mustafa. Inilah adegan puncak dari tragedi film Abad Kejayaan yang kontroversial itu. Adegan 123 merupakan bukti bahwa Baginda Suleiman adalah raja yang superkejam yang pada dasarnya hanya mencintai kekuasaan dan dirinya sendiri.

Pangeran Mustafa dibunuh oleh ayahnya dengan cara dijerat oleh tim eksekusi yang dirancang oleh ayahnya sendiri. Caranya: Mustafa dipanggil masuk ke sebuah tenda, kemudian dijerat eksekutor hingga tewas. Ia mati di depan mata ayahnya sendiri.

Karena kontroversi inilah, maka film ini di Turki mendapatkan kecaman, Film ini dianggap tidak menunjukkan watak dan perilaku asli Raja Suleiman.

Kontroversi sikap Raja Suleiman ini pula yang menyebabkan pada awal penayangan film ini di ANTV mendapatkan tentangan dari kelompok Islam di Indonesia. Untuk meredam tentangan publik, kemudian dihadirkanlah para komentator dari kalangan ulama dan ahli agama dari MUI. Tugas para komentator itu untuk memberikan gambaran dan pemahaman kepada pemirsa bahwa film Abad Kejayaan bukanlah menggambarkan watak Raja Suleiman yang sesungguhnya. Menurut para komentator itu, Raja Suleiman adalah raja yang adil dan bijaksana, yang menaklukkan empat benua.

Raja Suleiman membunuh pangerannya sendiri hanya karena berdasarkan surat fitnah yang dirancang oleh Hurem dan Rusteem. Dalam surat itu disebutkan seolah-olah Pangeran Mustafa bersekutu dengan Pangeran Tamas dari Persia, musuh Baginda Suleiman.

Ketika Mustafa dipanggil ayahnya, semua orang sudah meyakini bahwa itu akan menjadi akhir hidup Pangeran Mustafa. Namun, hingga ajal menjemput Mustafa tidak yakin bahwa ayahnya akan setega itu. Ia masih sangat yakin bahwa seorang ayah tidak akan mungkin membunuh anaknya sendiri.
.
Cara pembunuhan Pangeran Mustafa menunjukkan Raja Suleiman adalah raja pengecut. Ia tidak berani menghadapi Mustafa dengan perang terbuka. Maka, ia pun merancang agar pertemuannya dengan Mustafa dilakukan di sebuah tenda yang jauh dari perkemahan. Pangeran Mustafa dijauhkan dari pasukan Janisari yang selama ini menjadi pendukung setianya.

Meninggalnya Pangeran Mustafa berarti matinya calon pengganti terkuat Raja Suleiman. Pangeran Mustafa dibunuh justru karean ia menjadi pangeran paling pandai, paling kuat, dan paling setia kepada ayahnya. Inilah sandyakala Kerajaan Ottoman. Kelak, Ottoman akan dipimpin oleh raja lemah yang hobi mabuk, Pangeran Selim.

Demi Tahta, Membunuh Anak Tidak Bersalah

Raja Suleiman tega membunuh anaknya sendiri, karena itulah yang diyakininya sebagai kebenaran. Ia merasa yakin paling benar. Membunuh baginya tidak berdosa, karena dalam sejarah nenek moyangnya itulah yang diajarkan. Ia pun pernah akan dibunuh ayahnya sendiri dengan baju jubah beracun,

Pengalaman akan dibunuh ayahnya itu, ditambah pengalaman melihat kenyataan ayahnya juga membunuh kakeknya demi mendapatkan tahta, menjadi kumpulan keyakinan Raja Suleiman bahwa kekuasaan harus dipertahankan sampai mati. Siapa pun harus disingkirkan demi mempertahankan kekuasaan. Termasuk anaknya sendiri. Inilah sebenarnya praktik paling nyata ajaran Machiavelli.

Raja Suleiman sendiri memang pernah  membaca buku Nicollo Machivelli yang dihadiahkan oleh Ibrahim Pasha. Jadi,kalau ia kemudian tega membunuh orang-orang yang pernah menyelamatkan nyawanya, maka bisa diyakini bahwa itu dilakukan bukan semata-mata karena dia meyakini membunuh orang terdekatnya adalah sah demi tahta. Raja Suleiman tega membunuh Ibrahim dan Pangeran Mustafa karena menjalankan ajaran Machiavelli

Dalam buku masternya, Ill Principe, Nicolo Machiavelli mengatakan seorang pemimpin harus mengabaikan pertimbangan moral dan mengandalkan segala sesuatunya atas kekuatan dan kelicikan. Dalam mempertahankan kekuasan, dibutuhkan cara kekerasan (dan kekejaman).

Kalau ada pesan moral yang bisa diambil dan diteladani dari film ini, tidak lain justru dari sikap dan persaudaraan antara Pangeran Mustafa dengan saudara-saudara tirinya. Pangeran Mustafa menyayangi adik-adik tirinya–terutama Pangeran Cihangir–seperti ia menyayangi adik kandungnya sendiri.

Pangeran Mustafa sangat mencintai Pangeran Cihangir.Begitu juga sebaliknya. Pangeran Cihangir pun dinilai kakak-kakak kandungnya lebih menyanyangi kakak tirinya dibanding kakak-kakak kandungnya. Itulah sebabnya, ketika Pangeran Mustafa meninggal, Pangeran Cihangir sangat sedih hingga jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.

Oyos Saroso H.N.

Loading...