Beranda Teras Berita Filosofi Mukjizat Sastra Al-Quran

Filosofi Mukjizat Sastra Al-Quran

1387
BERBAGI
Yuda Apriaansyah


Catatan ini khusus menjelaskan bagaimana Quran merupakan penjelasan terbaik akan adanya Tuhan(cocok buat atheist). Dan Quran sebagai bukti firmanNya melalui pendekatan filosofi.
Bismillahirrahmanirrahim. Dengan
Nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. “Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah satu surat (saja) yang SEMISAL/SERUPA Al Quran itu dan ajaklah
penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” 
(Qs. Al-Baqarah:23)
Menurut saya cara yang paling mudah
untuk menghancurkan Islam (tips bagi anti Islam). Yaitu memenuhi tantangan Quran. Tidak usah repot-repot buat situs
untuk membeberkan hal-hal tentang Islam. Lalu kenapa jika Quran karangan Muhammad SAW Islam tidak dari dulu
hancur di tangan orang kafir Mekkah? Itu karena merekapun(orang arab yang pada zamannya adalah terbaik dalam bahasanya)
tak mampu memenuhi tantangan Al-Quran. Sehingga mereka mengganti cara dengan
memerangi Islam.
Al-Quran menantang manusia untuk
membuat yang serupa dengan Quran, bukan membuat yang lebih baik dari Itu. Tapi
Serupa…., Implikasi dari ini adalah Gaya Bahasa Quran berarti berbeda dengan
kaidah tata bahasa Arab sesungguhnya. 
William Shakespeare, seorang
pujangga inggris dan dramawan, secara luas dinobatkan sebagai penulis besar
dalam bahasa inggris, sering digunakan sebagai contoh dari kesastraan yang
unik. Argumen yang dibentuk adalah Jika Shakespeare mengekspresikan puisi dan
prosa dengan cara yang unik – dan dia tetaplah manusia biasa – maka tentunya
tak masalah sebagaimana uniknya Al-Quran, itu pastilah karangan Manusia.
Meskipun demikian, ada beberapa
masalah dengan argumen di atas. Itu tidak memperhitungkan keunikan alami Quran
dan Itu tidak dapat memahami keunikan akan kejeniusan kesastaraan semacam
shakespeare. Meskipun demikian Shakespeare mengarang puisi dan prosa yang
terdapat resepsi estetika yang tak tertandingi. Bentuk sastra yang dia
ungkapkan tidak unik. Dalam banyak kasus Shakespeare menggunakan iambik
pentameter.Artinya masih dapat diketahui bentuk kesastraannya.
Namun dalam Al-Quran, bentuk Sastra secara menyeluruh tidak diketahui dan tak tertandingi.Fitur-fitur
struktural pesan Quran membuatnya Unik. Seorang orientalis bernama Irving
menjelaskan:
“Qur’an adalah kitab yang menabjubkan… karena tiadabandingannya atau ketidakmampuan
untuk ditiru.”
Dengan pemikiran ini,ada dua
pendekatan yang dapat menunjukkan alasan yang lebih masuk akal untuk
mempercayai bahwa Al-Quran itu dari Tuhan. Pendekatan pertama adalah deduksi rasional dan kedua
adalah filosofi dari keajaiban/mukjizat.
Deduksi Rasional
Deduksi rasional adalan proses
perpikir dimana kesimpulan logis dapat ditarik secara universal berdasarkan
pernyataaan yang disetujui atau premis-premis yang dapat dibuktikan. Proses ini
juga disebut penalaran rasional atau deduksi logis.
Dalam konteks keunikan Quran secara
universal pernyataan yang disetujui dan didukung baik oleh cendekiawan timur
maupun barat adalah:
“Quran Tidak Berhasil DITIRU oleh
orang-orang Arab pada masa turunnya wahyu”.
Dari pernyataan ini kesimpulan logis
yang dapat ditarik adalah: pertama, Quran tidak berasal dari seorang
arab, karena orang-orang arab pada masa pewahyuan, yang mana mereka pada waktu
itu adalah ahli-ahli/terbaik dalam bahasa arab,mereka GAGAL memenuhi TANTANGAN AL-QURAN. Kedua, Quran tidak berasal dari Orang
Non-Arab karena bahasa Al-Quran adalah Arab. Pengetahuan Bahasa Arab adalah pra
syarat untuk dapat memenuhi tantangan Al-Quran.
Ketiga, Quran Tidak Berasal(karangan) dari
Nabi Muhammad SAW karena alasan berikut:
(1) Nabi Muhammad adalah seorang arab,
seluruh orang arab gagal memenuhi tantangan Quran.
(2) Para Ahli Bahasa arab pada masa
pewahyuan tidak pernah mengakui bahwa nabi adalah Pengarang Al-Quran. Mereka
hanya menganggap itu sihir .
Nabi Muhammad mengalami banyak cobaan dan kesengsaraan selama menjalani misi kenabian. Sebagai Contoh
Anak-anaknya meninggal, Istri yang tercinta khadijah wafat,dia diboikot ,
sahabat dekatnya disiksa dan dibunuh. Meskipun begitu, karakteristik kesastraan
Quran tetap menghadirkan suara dan karakter keilahian.
Tidak ada dalam Quran  ungkapan tentang kekacauan dan emosi Nabi Muhammad.Ini adalah psikologis yang
tidak mungkin terjadi terhadap apa-apa saja yang dilalui oleh Nabi Muhammad
tanpa satu pun emosi2 tertuang dalam karakterisitik sastra dari Quran.
Al-Quran adalah mahakarya sastra
yang terkenal akan ayat-ayatnya yang diungkapkan/diturunkan untuk keadaan dan
kejadian khusus yang terjadi(Event-Based Book). Namun begitu, Quran Tidak
Pernah Mengalami Revisi. Padahal Biasanya Semua mahakarya pasti mengalami
revisi dan penghapusan untuk memastikan kesempurnaannya.
Hadis atau Riwayat-riwayat tentang
Nabi Muhammad sangat berbeda gaya penyampaiannya dengan Gaya Al-Quran.
Bagaimana Seorang Manusia dapat mengungkapkan secara lisan dalam 23 tahun
periode dalam dua gaya yang amat berbeda? Ini adalah psikologis yang tidak
mungkin menurut penelitian modern.
Semua tipe ekspresi manusia dapat
ditiru jika blueprint ekspresi itu
ada. Sebagai Contoh Karya Seni dapat ditiru Meskipun bagaimanapun karya seni
itu sangat luar biasa atau mengagumkan selama blueprint-nya ada. Namun, berbeda
dengan Al-Quran , meskipun kita mempunyai blueprint-nya, tak satu pun yang
berhasil meniru keunikan sastra dari Al-Quran itu Sendiri
Quran pasti dari Tuhan karena ini
adalah satu-satunya penjelasan yang logis. Penjelasan yang lain tidak dapat
diterima dikarenakan penjelasan tersebut tidak dapat menjawab keunikan AQURAN
dengan cara yang komprehen dan koheren.
Filosofi dari Keajaiban/Mukjizat
Mukjizat biasanya didefinisikan
untuk suatu hal yang keluar dari hukum alam/aturan alamiah. Menurut Filsuf
Bilynskyj selama hukum alam terkandung generalisasi
induktif universal, gagasan pelanggaran terhadap hukum alam adalah tidak masuk
akal.
Hukum alam adalah generalisasi
induktif dari pola-pola yang kita amati di alam semesta. Jika definisi dari
Mukjizat sebagai pelanggaran dari hukum alam,dengan kata lain, pelanggaran dari
pola-pola yang kita amati di alam semesta, maka permasalahan konseptual yang
nyata bisa terjadi. Permasalahannya adalah : “Mengapa kita tidak mengambil
pelanggaran dari pola ini sebagai bagian dari pola?”.
Oleh karena itu, deksripsi yang lebih
masuk akal dari mukjizat adalah bukan sebuah “pelanggaran” tapi
sebuah “ketidakmungkinan”.Filsuf William Lane Craig menolak definisi
Mukjizat sebagai “pelanggaran dari hukum alam” dan menggantikannya
dengan definisi yang masuk akal yaitu “peristiwa yang berada di luar
kapasitas produktif alam”.
Itu berarti bahwa mukjizat
adalah tindakan-tindakan yang mustahil tentang hubungan sebab-musabab atau
logis.
Quran Sebagai Suatu Mukjizat
Apa yang membuat Quran bisa
dikatakan MUKJIZAT,adalah
bentuk kesastraannya berada di LUAR
KAPASITAS PRODUKTIF ALAMIAH BAHASA ARAB itu sendiri. Kapasitas
Produktif alamiah, tentang bahasa arab, yang mana setiap ekspresi tata bahasa
bahasa arab akan selalu berada pada bentuk kesastraan yang diketahui yaitu
prosa dan puisi.
Quran adalah Mukjizat sebagaimana
bentuk kesastraannya tidak dapat dijelaskan melalui kapasitas produktif dari
bahasa arab itu sendiri, karena semua kombinasi kemungkinan dari kata-kata
arab, huruf dan aturan tata bahasa telah gagal menjelaskan dan bentuk sastra Quran tidak dapat ditiru.
Orang-orang arab yang terkenal sebagai yang terbaik dalam bahasa mereka gagal
memenuhi tantangan Quran. Forster Fitzgerald Arbuthnot , seorang yang
orientalis inggris terkenal menyatakan:
“…dan meskipun telah banyak
usaha yang dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang sama dengan Al-Quran seelegan
mungkin tulisannya diciptakan, tetap TAK SATUPUN berhasil.”
Implikasi dari ini adalah bahwa
tidak ada hubungan antara Quran dan bahasa arab, walaupun begitu ini tampak
tidak mungkin karena Quran disusun dengan bahasa arab. Sebaliknya, semua
kombinasi kata-kata dan huruf arab telah digunakan untuk mencoba dan meniru
Quran. Oleh karena itu, itu dapat disimpulkan bahwa penjelasan supernatural adalah satu-satunya
penjelasan yang masuk akal untuk menjawab bentuk sastra quran yang tak mungkin
ditiru.
Apabila kita lihat lebih jauh
tentang produktif alami dari bahasa arab untuk menemukan jawaban atas keunikan
bentuk satra Al-Quran, kita tidak menemukan hubungan diantaranya. Oleh karena
itu ketidakmungkinan itu dapat dijelaskan dengan penjelasan supernatural. Jadi
secara logis itu mengikuti bahwa Al-Quran adalah Keajaiban sastra yang berada
di luar kapasitas bahasa arab itu sendiri. Maka menurut istilah, Quran adalah Mukjizat.
“.. Penduduk Mekah Masih
Menginginkannya menunjukkan Mukjizat, dan dengan keberanian dan kepercaaan diri
yang mengagumkan, muhammad menunjukkan sebagai konfirmasi tertinggi misinya
adalah Quran itu sendiri. Sebagaimana Seluruh Orang Arab mereka dahulu adalah
ahli dalam bahasa dan retorik. Maka, Jika Quran adalah Karangan Muhammad
pastilah orang-orang dapat memenuhi tantangan, dan mengalahkannya. Buatlah 10 ayat saja semisal Quran. Jika mereka tidak bisa (dan pastinya mereka tidak bisa), maka terimalah Quran sebagai bukti mukjizat yang tak terbantahkan.”
(Arabis terkenal Hamilton Gibb of the University of Oxford)
Maka benarlah apa yang telah Allah
Janjikan: “Maka jika kamu tidak dapat
membuat(nya) – dan PASTI KAMU TIDAK AKAN DAPAT MEMBUATNYA , peliharalah dirimu
dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi
orang-orang kafir. “
 (Qs.Al-Baqarah:24)

Sumber: Hamza Andreas Tzortzis
Loading...