Filsafat Kopi

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Sudah menjadi kebiasaan entah mulai kapan; begitu selesai makan, tuntutan selera rasanya tidak lengkap jika tidak dilanjutkan dengan minum kopi. Sore itu pun seorang anak yang sudah berpangkat lektor, diperintah untuk membuat kopi dengan racikan tertentu. Kopi sendiri adalah minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk. Kopi merupakan salah satu komoditas di dunia yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua spesies pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi robusta dan kopi arabika.

Banyak teman, sahabat; bahkan seorang sohib yang mantan pimpinan perguruan tinggi negeri ternama di daerah, yang sekarang menjabat Ketua Yayasan salah satu Perguruan Tinggi Swasta berujar; ”Jangan jadi warga Lampung kalau tidak minum kopi”. Gurauan ini sering beliau ulang ulang pada saat ada teman yang berkumjung di ruang kerjanya. Bahkan setelah lama tidak menjabatpun sohib satu ini tetap berslogan demikian. Bahkan semua redaktur dari pemberitaan baik online maupun konvensional di daerah ini ternyata pecandu minum kopi yang berat; konon slogan seorang sahabat mengatakan kopi dan rokok adalah isteri keduanya dalam bekerja.

Minuman kopi sendiri merupakan perpaduan bubuk kopi dengan gula; yang racikannya masing masing orang dengan selera berbeda. Justru di sini letak kekhasan dari rasa kopi. Peran gula amat penting untuk mendapatkan rasa kopi yang sesuai selera, namun nasib gula tidak pernah dijadikan pembenaran, justru dijadikan bantalan kesalahan.
Jika rasa kopi itu nikmat sebenanya ada peran gula yang signifikan di sana. Sebaliknya,  jika rasa kopi kurang sedap, maka gula menjadi alasan, untuk ditambahi atau justru disalahkan terlalu banyak. Itulah nasib gula; sekalipun sudah berjasa untuk membuat Kopi itu sesuai selera, tetap saja dia tidak seterkenal kopinya; justru nama cita rasa Kopi yang melambung; ingat kopi tarik di Aceh, kopi sedu di Kintamani Bali, kopi luwak di Liwa, dan lain sebagainya.

Begitulah kehidupan di dunia ini, sejak dari rumah tangga sampai Negara ada yang memiliki peran kunci sebagai gula dalam kopi, tetapi tidak pernah disinggung sedikit pun. Sampai sampai ada pepatah mengatakan di belakang suami yang sukses ada istri yang perkasa. Di belakang dai kondang, ada istri penunjang yang super kuat. Namun sekali lagi peran mereka tidak pernah tampak; karena jikapun tampak atau menonjol; maka lain kejadiannya, tidak jarang berkontasi negatif.

Demikian halnya suatu organisasi; seorang pemimpin seharusnya tidak harus jumawa mengatakan dirinya berhasil; karena sejatinya keberhasilannya itu adalah ditunjang oleh sejumlah komponen yang satu sama lain bersinergi, berkolaborasi, dan terintegrasi dalam satu sistem. Menggunakan teorinya Gunnar Myrdal, risiko paling besar menanggung piramida kurban manusia itu adalah pada lapisan paling bawah. Dengan kata lain keberhasilan yang dicapai, dan diklaim oleh pemimpin, sejatinya yang dijadikan bantalan itu adalah mereka yang ada pada lapisan paling bawah.

Sekalipun teori ini dibantah oleh banyak ahli, namun pada tahapan-tahapan tertentu benar adanya. Oleh karena itu, pemimpin yang tawaduk tidak pernah mengatakan kesuksesan dirinya dengan berani menepuk dada; justru yang keluar dari mulutnya adalah “ini hasil kerja bareng kita, atau ini adalah keberhasilan kita bersama”. Seorang kandidat doctor yang memiliki kematangan pribadi akan mengatakan “Disertasi saya adalah hasil buah pikiran saya serta bimbingan promoter saya”. Dan tidak akan mengatakan dengan congkak “itu sepenuhnya hasil saya”.

Semua itu juga menunjukkan jika seseorang bekerja sampai pada tingkatan berpikir paripurna maka dia akan bekerja hanya karena cintanya kepada Tuhan semata, bukan berharap surga; karena surga  itu ciptaan Tuhan; manakala kita berharap surga berarti kita menduakan Sang Pencipta. Imam Ghazali dalam kitab Bidayah mengisahkan bagaimana seorang anak muda yang mencari ulama untuk dijadikan guru sesuai pesan ibunya sebelum meninggal yaitu “Carilah ulama dan kau jadikan guru yaitu ulama yang tidak berharap surga”.

Ternyata keihlasan “gula dalam kopi” adalah tamzil lebur dan “nyawijinya” (menyatunya) pengabdian manusia, apa pun pekerjaannya, jika semata mata hanya cintanya kepada Allah; maka sempurnalah dia sebagai insan kamil. Tidak berharap syurga karena itu ciptaan Sang Maha Pencipta, tidak berharap pujian karena puji itu semata milik Sang Khalik.

Semoga kita bukan hanya menjadi penikmat “kopi” secara lahiriah saja, tetapi mampu juga menikmati secara sufi peristiwa yang ada di sana. Semoga kitapun mampu menjadi “gula” yang membuat manis disekeliling kita, dengan tidak harus menyebut nama siapa kita. Dan jangan menjadi racun bagi sesama, sehingga kehadiran kita dinanti kapan akhirnya.***

  • Bagikan