Beranda Views Kopi Sore Filsafat Media

Filsafat Media

600
BERBAGI
Asarpin*
“Apa
perbedaan antara cinta dan media?” tanya seorang cowok kepada ceweknya di
sebuah obrolan santai menjelang sore. “Cinta menuntut kesetiaan, sementara
media sebaliknya”, jawab sang cewek. 
“Betul-betul-betul”, kata sang cowok
menirukan logat Ipin-Upin.
Beberapa
waktu lalu media menjadikan seorang Joko Widodo sebagai idola, hari ini ia  jadi bulan-bulanan media. Karena media pula
rakyat Indonesia mengenal dengan cepat sosok dan tindak-tanduk Joko Widodo
sehingga memutuskan untuk memilihnya sebagai presiden. Karena media juga
hari-hari ini Joko Widodo mulai digoyah, diragukan, dicaci dan dibenci. Sebentar
lagi ia juga akan dielukan dan dipahlawankan kembali, dan begitu seterusnya.
Media
memang tak pernah mengenal arti kesetiaan. Pahlawan di masa lalu kini bisa
menjadi pengkhianat. Koruptor dan bandit di masa lalu kini bisa menjadi
pahlawan berkat peran media. Sebagaimana pernah dikatakan Akbar S. Ahmed lewat
olok-olok yang getir: “Media mengangkat Anda selama satu menit, hanya karena
senang menjatuhkan Anda pada menit berikutnya”.
Saya
ingat betul bagaimana media memberitakan sosok Joko Widodo yang lebih layak dan
pantas sebagai sosok presiden hingga mengantarkannya sebagai sang pemenang
dalam pemilu. Ketika baru beberapa hari sang presiden terpilih bekerja, media
mulai menunjukkan watak tak setianya. Dimulai dari penyusunan kabinet hingga
pengumumuman nama-nama kabinet, media mulai menjalankan kontrolnya dan tak lagi
menempatkan sang idola yang harus terus dibela.  
Berbagai
peristiwa sepanjang enam bulan terakhir benar-benar memberikan pelajaran
berharga bagaimana filsafat media menjalankan wataknya yang tak setia dengan
amat baiknya. Rakyat Indonesia perlahan mulai mengenal Joko Widodo sebagai
sosok lain dari yang dikenal sebelumnya, lain dari yang selama ini dicitrakan.
Joko Widodo yang semula disanjung dan dielu-elukan perlahan mulai dihujat dan
dicaci maki. Mulai dari masalah KPK vs Polri, kenaikan BBM, kenaikan gas,
kenaikan beras dan harga kebutuhan pokok.
Hari-hari
ini kita menyaksikan Joko Widodo yang kembali dipuji sejumlah kalangan dan
membuat kekesalan rakyat sedikit mereda ketika kasus hukuman mati sejumlah
terpidana Narkoba menjadi berita menghebohkan di negeri ini. Sang presiden yang
sebelumnya terlihat lemah, lembek, ragu-ragu, seketika terlihat tegas  dan konsisten untuk tetap melakukan eksekusi
terhadap para penjahat narkoba.  
Berubah-ubahnya
media mencitrakan Joko Widodo, ketidaksetiaan media menjadikan sang presiden
sebagai pahlawan atau penyebab penderitaan rakyat, adalah sebuah pembelajaran filsafat
politik penting yang tak bakal diperoleh di bangku kuliah atau sekadar membaca
buku. 
Kita mesti
berrimakasih pada media karena dengan berlaku tak setia, sang media telah menjalankan
fungsi kritik yang kita butuhkan. Media memang seharusnya bukan milik
perorangan dan menjadi budak seseorang. Tapi di hari-hari ini kita juga menyaksikan
tumbuhnya media partisipan yang menyuarakan kesetiaan pada satu tokoh. Terutama
media milik perorangan yang didirikan dengan semangat kesetiaan dan kecintaan
yang dibuat-buat.
Tapi,
percayalah, besok atau lusa rakyat Indonesia juga akan mengerti karena, selain
watak media memang tidak setia, juga tak ingat teman dan majikan.      

*Esais

Loading...