Beranda BOLA Final Piala Dunia: Tim Panser Punya Kans Menang pada 90 Menit...

Final Piala Dunia: Tim Panser Punya Kans Menang pada 90 Menit Waktu Normal

170
BERBAGI
Oleh Ari Pahala Hutabarat*

Pada Senin  dinihari, 14 Juli 2014,pukul
02.00 WIB, Stadion Maracana, Rio deJaneiro, Brasil  akan menjadi saksi duel pamungkas, pertemuan
dua tim terbaik di Piala Dunia 2014 ini, Jerman vs Argentina. Duel itu bisa
juga kita baca sebagai persandingan antara rasional versus mitos, atau antara
sistematika versus keajaiban dan percik kebetulan.

Jerman yang sedang berada dipuncak kepercayaan diri karena
mampu menghempaskan Brasil dengan skor tinggi plus kebugaran yang lebih baik
karena punya cukup waktu istirahat yang lebih akan berhadapan dengan
Argentina–yang pastinya akan bermain dengan rasa ‘cukup tahu diri’, mitos
bahwa hanya tim asal amerika latin yang akan jadi juara ketika PD dihelat di
tanah Amerika, dan Lionel Messi.
Jerman dibangun oleh semacam rasionalisme di lapangan
hijau. Apapun yang kita lihat saat Jerman bertanding adalah cerminan langsung
dari fungsi rasional tersebut–skema dan struktur yang rapih dan solid,
hubungan antarlini yang saling menopang, organisasi serangan yang
keteraturannya hanya bisa ditandingi geometri, passing-passing yang akurat dan presisif, sekaligus menyisakan visi
dan ruang imajiner bagi para gelandang untuk sedikit menyipratkan nuansa bir
Muenchen yang amat terkenal ke ihwal yang serba terukur dan rapi itu.
Di bangunan yang disusun oleh ukuran dan organisasi seperti
tim Jerman memang tak dibutuhkan pemain bintang, seperti sosok Messi di
Argentina. Yang dibutuhkan adalah individu yang tahu posisi sekaligus mampu
menjalankan fungsinya dengan optimal.
Jerman dianugerahi pemain-pemain yang fungsional semacam
ini. Ada Toni Kroos, pemain tengah yang merupakan pembagi bola sekaligus
penyeimbang tim. Ada Lham dan Schweini yang berfungsi sebagai palang pintu area
pertahanan dan gelandang. Juga ada Muller dan Ozil–para pemain sayap yang
berfungsi membuka dan menerobos ruang bagi Klose untuk melesakkan golnya.
Sementara itu, Argentina adalah sekumpulan individu yang
terampil plus Messi yang dianugerahi semacam keajaiban. sejauh ini Penampilan
mereka kurang meyakinkan. Tempo permainan selalu bergerak lambat. Peralihan
adegan serangan bergulir tersendat dan selalu mengarah ke Messi sebagai
pengatur serangan. karena itu Argentina jadi mudah ditebak–mereka begitu
tergantung pada sosok Messi.
Jadi, jika Messi berhasil mereka ‘amankan’–seperti yang
dilakukan Belanda di semi-final–maka daya serang Argentina jadi merosot tajam.
Selain Messi, sosok Angel di Maria juga bisa jadi pembeda dan amat fungsional
perannya bagi Argentina. Di Maria begitu cepat berlari, dribelnya hampir
sempurna, juga visi yang amat bagus dalam membuka ruang serangan.
Namun, ada kabar bahwa Di Maria belum tentu dimainkan dalam
partai final nanti. Jika ini terjadi, maka Argentina sama saja sudah memberikan
separuh kemenangan kepada Jerman. Pertandingan final ini mungkin saja dibuka
dengan sikap hati-hati. Kedua tim mungkin berusaha keras untuk menahan diri,
sambil sesekali mencari peluang untuk melakukan serangan. Argentina akan
bermain lebih rapat dan memaksimalisasi peran Messi, atau Maria jika ia
dimainkan. Transisi bolak-balik antara serangan dan kembali bertahan harus
mulus dan cepat dimainkan Argentina jika ia tak mau dipecundangai Jerman. kedua
tim pasti berupaya untuk melesakkan gol cepat untuk membuat lawannya jadi limbung
dan kehilangan kepercayaan diri.
Jerman dan Argentina mempunyai kecenderungan untuk
melakukan strategi penguasaan bola. Meskipun Jerman, menurut saya, akan bisa
lebih cantik melakukannya, karena pengaruh dari gaya Tiki-Taka Bayern Muenchen
yang menjadi aura mayoritas di kubu Jerman.hal ini sudah mereka perlihatkan
saat menekuk Brasil 7-1 di semifinal.
Jika strategi penguasaan bola dan kombinasi operan-operan
pendek dan jauh nan cepat kembali diperagakan–plus berhasil mematikan ruang
gerak Messi–sekali lagi, Jerman akan memenangkan duel maut ini. Tapi Argentina
juga bukanlah lawan yang terlampau mudah dikalahkan. Mereka punya barisan
pertahanan yang solid dan mapuh sejauh ini.
Mereka punya Mascherano, tukang dribel sekaligus pembagi
bola yang secara statistik berada diatas Toni Kroos. Jika saja
Argentinamematikan mampu bermain lebih sabar dan rapat, seperti yang mereka
perlihatkan saat mereka mematikan Persie dan Arjen Robben dari Belanda, maka
Jerman juga bisa terjungkal.
Memang sulit sekali memprediksi siap yang akan menang dalam
pertarungan ini. Keduanya adalah tim yang–sudah pasti–tangguh dan meyakinkan.
Jerman di Piala dunia kali ini adalah tim yang nyaris sempurna. Secara teknis,
Jerman jauh lebih meyakinkan kita ketimbang Argentina. Namun, Argentina punya
Lionel Messi, yang berencana akan melengkapi statusnya sebagai pemain bola
terbaik di dunia dengan membawa negaranya menjuarai dunia.

Saya memprediksi Jerman bisa memenangkan pertarungan ini
jika mereka bisa memanfaatkan 90 menit waktu normal. Jika sampai terjadi
perpanjangan waktu atau adu pinalti, maka kalkulasi rasional akan cenderung
melemah–dan Argentina bisa menjuarai Piala Dunia. Jadi, marilah bersama-sama
kita lihat; apakah kalkulasi rasional akan mampu mengalahkan mitos dan sedikit
keajaiban atau justru sebaliknya–mitos yang akan kembali berjaya!

* Penyair dan guru spiritual, tinggal di Bandarlampung

Loading...