Beranda Pendidikan Wakil SMP Bandarlampung Borong Juara Lomba Seni Siswa Nusantara

Wakil SMP Bandarlampung Borong Juara Lomba Seni Siswa Nusantara

621
BERBAGI

Isbedy Stiawan ZS/Teraslampung.com

Suguhan tari saat pembukaan (foto isb)

Bandarlampung—Para siswa SMP di Bandarlampung memborong juara satu pada even Festival Lomba Seni Siswa Nusantara (FLS2N) SLTP tingkat Provinsi Lampung yang digelar di Hotel Nusantara, 11–14 April 2014.

Para juara pertama  FLS2N SLTP Provinsi Lampung, sekaligus mengikuti lomba di tingkat nasional.

Perwakilan SLTP Kota Bandarlampung berhasil menjadi juara pertama untuk beberapa mata lomba. Antara lain:  Rarai Masae Soca Wening Ati  dari SMP Global Surya, Bandarlampung untuk lomba menulis puisi;  Agsha Intan Aulia dari SMPN 4 Bandarlampung untuk lomba story telling, dan Grup SMPN 7 Bandarlampung untuk lomba musik tradisional.

Selanjutnya  Salsabila Khalisti dari SMP Al-Kautsar Bandarlampung untuk  lomba cipta lagu, Sara Latifa dari SMPN 2 Bandarlampung untuk lomba desain motif batik, dan  tim  siswa-siswi SMPN 1 Bandarlampung untuk lomba vocal group.

Pada lomba seni  tari,  para penari dari SMPN 1 Tumijajar, Tulangbawang Barat, berhasil meraih juara pertama. Juara pertama MTQ putra diraih  M. Iksan Toha dari  SMPN 3 Tanjung Raja, Lampung Utara, sementara MTQ kelompok putri pemenangnya Siti Maisaroh  dari  SMPN 1 Way Tenong, Lampung Barat.

Pada tangkai lomba menyanyi tunggal, Marselina Milenia S  dari SMPN 1 Pringsewu menjadi juara pertama. Juara pertama lomba menulis cerpen diraih Arrum Amalia dari SMPN 1 Kalirejo, Lampung Tengah, sementara lomba melukis pemenangnya adalah M. Anugerah Utama dari SMN 1 Metro.

Festival Lomba Seni Siswa Nusantara (FLS2N) Tingkat SLTP se-Provinsi Lampung yang berlasung sejak Jumat (11/4), ditutup Senin (14/4) siang.

FLS2N SLTP ini memperlombakan  11 tangkai seni: vocal group, seni tari, MTQ, cipta cerpen, story telling, musik tradisional, menyanyi tunggal, lukis, cipta lagu, cipta puisi, dan desain motif.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung Drs. Tauhidi, MM. saat membuka FLS2N yang diwakilkan kepada Ir. Ria Andari, ketua panitia, mengatakan bahwa FLS2N bertujuan meningkatkan kecintaan dan apresiasi terhadap seni dan sastra.

Diharapkan dari FLS2N ini, kata dia, adanya peningkatan apresiasi sastra dan seni siswa di sekolah, sehingga dapat menunjang peningkatan kualitas akademik. “Kita berharap tahun ini di FLS2N tingkat nasional di Semarang, Juni mendatang, Lampung bisa meraih pretasi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Ria Andari.

FLS2N tingkat Provinsi Lampung diikuti 15 kabupaten dan kota. Para peserta merupakan pemenang di masing-masing kota dan kabupaten. “Sehingga seluruh tangkai lomba seni dan sastra ini diikuti 360 siswa, pelatih berjumlah 180 orang, dan official (15), imbuh Ria Andari.

Dewan juri ditunjuk dari utusan Dinas Kebudayaaan dan Pariwisata Prov. Lampung, Taman Budaya Lampung, Dewan Kesenian Lampung, Universitas Lampung, dan praktisi seni dan sastra di daerah ini.

Sementara M. Harry Jayaningrat, koordinator lomba, menjelaskan penunjukan  para praktisi seni untuk menjadi juri diharapkan kredibiltas dan kenetralannya akan terjamin. “Juri yang kami pilih adalah kredibel dalam bidang seni masing-masing,” ujarnya.

Sementara Ari Pahala Hutabarat,  juri lomba ciipta puisi, mengatakan para peserta pada umumnya masih belum bisa menciptakan puisi. Menurut Ari, masih banyak peserta yang belum paham tentang puisi. Meski begitu, kata Ari, para siswa SMP peserta lomba tidak bisa disalahkan karena mereka memang tidak pernah diajari menulis puisi.

“Harapan saya, sebelum ke tingkat nasional harus ada pembinaan untuk member pemahaman dan pendalaman mengenai tema dan lainnya,” kata penyair Indonesia asal Lampung ini.

Hal sama juga diakui Alexander GB, juri lomba cipta cerpen. Menurut Alexander GB, mayoritas peserta lomba belum mengerti bagaimana menulis cerita pendek yang baik dan bagus. “Cerita masih linier, dan kerap muncul kata-kata atau kalimat yang sudah baku,” kata aktor di Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung ini.

Alexander mencontohkan, suara “gedubrak” yang sering ditulis, lalu kata “assalamu’alaikum” dan sejenisnya yang juga masih dipakai dalm hampir semua karya peserta. “Tampak kalau peserta tidak piawai memainkan narasi, sehingga memainkan dialog yang panjang dan bersahutan,” kata dia. (Editor: Oyos Saroso HN)

Loading...