Beranda Teras Berita Forkopimda, FKUB, dan Tokoh Masyarakat Sepakat Ciptakan Lampung Tengah Kondusif

Forkopimda, FKUB, dan Tokoh Masyarakat Sepakat Ciptakan Lampung Tengah Kondusif

141
BERBAGI

Forum Koordinasi Pimpinan
Daerah dengan Tokoh Agama, Tokoh Pemuda dan Tokoh Masyarakat Kabupaten Lampung
Tengah, menggelar silaturahim menyikapi situasi yang terjadi di Tolikara Papua
Barat baberapa lalu, sekaligus untuk menciptakan rasa aman dan damai menjelang
pemilihan kepala daerah pada  Desember
2015 mendatang.
Sebagai
kabupaten yang memiliki wilayah cukup luas dan terluas di Provinsi Lampung, dan
jumlah penduduk yang cukup besar yang berasalh dari berbagai ras suku bangsa,  tentu saja memiliki potensi konflik cukup
tinggi. Sebab, Lampung Tengah memiliki
titik-titik rawan konflik yang bisa menyulut kerusuhanan di masyarakat.
Silarurahin
yang digelar Pemerintah daerah Kabupaten Lampung Tengah bersama Forum Kerukunan
Umat Beragama (FKUB), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)  sebagai upaya antisipasi terhadap kemungkinan
berkembangnya benih-benih perpecahan di masyarakat.
”Pemerintah
daerah selalu memantau situasi perkembangan dan dinamika di masyarakat,” tegas
Asisten Bidang Pemerintahan Sekkab Lampung Tengah, Azhar, S.H., pada acara silaturahim
yang digelar di aula Kopiah Mas Pemkab Lampung Tengah, Selasa (28/7).
Dalam
kegiatan tersebut Bupati Lampung Tengah H.Ahmad Pairin melalui Asisten Bidang
Pemerintahan menyampaikan arahan dan masukan agar situasi Kabupaten Lampung
Tengah yang sudah kondusif dalam menjalakan kehidupan kerukunan antar umat
beragama dapat dipertahankan dan ditingkatkan lebih baik lagi.
“Para
Camat,
Danramil
dan Kapolsek
lebih peka terhadap situasi yang berkembang di masyarakat, dengan selalu melaksanakan
deteksi dini melalui  kordinasi yang
intensif sekaligus meningkatkan peran  babinkamtibmas, babinsa agar konflik yang
terjadi Tolikara  di Papua Barat tidak berimbas
di wilayah Kabupaten Lampung Tengah,” kata Azhar.
Kepada
para Camat diminta untuk meningkatkan koordinasi dengan para kepala Kampung,
tokoh masyarakat, semua perangkat kampung  harus dirangkul untuk membangun komunikasi
yang harmonis. Setiap ada pertemuan, ada peringatan hari-hari besar, Camat dan
Kapolsek  serta Danramil yang juga
sebagai Pembina umat  harus mengikuti
kegiatan mereka, sehingga mereka merasa diayomi.
”Kita
harus menyatukan persepsi, karena sudah menjadi kewajiban kita untuk
menciptakan situasi yang aman dan kondusif. Karena dengan modal keamananlah
kita bisa melaksanakan pembangunan dalam rangka menyejahterakan masyarakat,”katanya.
Kapolres Lampung Tengah AKBP Kunto
Prasetya, pada kesempatan itu menjelaskan, pada saat ini hal yang sangat
penting harus kita lakukan adalah menciptakan situasi yang aman, nyaman dan
damai. Kita harus menyikapi apa yang terjadi di Tolikara Papua Barat dengan hati
yang lapang, sehingga tidak berimbas terjadi diwilayah Kabupaten Lampung Tengah.
”Pertemuan hari ini harus menjadikan reprensi
kejadian di daerah lain untuk menciptakan kedamaian, keamanan di wilayah
kita,”tegas Kunto.
Kejadian
di Tolikara tidak boleh terulang di Lampung Tengah khusunya dan Provinsi
Lampung pada umumnya. Menurutnya, kalau saja setiap kerusuhan harus berujung
ada perdamaian mengapa konflik atau kerusuhan di masyarakat harus terjadi.
Seperti yeng terjadi di Kecamatan Anak Tuha beberapa waktu lalu, kalau akan
berujung ada perdamaian mengapa harus ada perselisihan. Oleh karenanya, kata
Kunto, sebelum terjadi perpecahan atau kerusuhan di masyarakat, kita harus
mampu menyikapi bagaimana  situasi yang
mengarah kepada perpecahan atau kerusuhan di masyarakat bisa di cegah agar tidak
terjadi.
Tentunya,
untuk menciptakan situasi yang aman damai harus terbangun sikap yang saling
bahu membahu antara tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dengan
pemerintah maupun aparat keamanan untuk menciptakan suasana yang lebih baik,
mengingat luasnya wilayah Lampung Tengah dengan jumlah penduduk yang beragam
ras suku bangsa dan cukup besar.
”Kami
aparat kepolisian tidak mungkin mampu melakukan pengawasan secara maksimal
dengan kondisi wilayah Lampung Tengah yang luas ini. Oleh karena itu, hal yang
termudah bagi kami adalah terjalinnya kordinasi dengan tokoh masyarakat dan
tokoh agama dalam melaksanakan tugas mengantisipasi agar tidak terjadi
kerusuhan didaerah ini,”katanya.
Kunto,
mengingatkan  perpecahan atau kerusuhan
di masyarakat tidak hanya terkait masalah agama saja, tetapi juga terkait
dengan masalah kriminalitas atau beragam masalah sosial yang lain yang bisa
memicu terjadinya perpecahan atau konflik di masyarakat. 
Dia
mengingatkan, tahun 2014 ada 12 konflik yang terjadi di Lampung Tengah yang
berakibat fatal.Sitiuasi yang tidak membikin kehidupan masyarakat merasa nyaman
sudah bisa kita atasi. Lampung Tengah saat ini situasinya sudah cukup
kondusif.Memang, lanjuta Kunto,  sempat terjadi
situasi yang hampir menyulut konflik, tetapi karena cepat terdeteksi dan
penangannya, maka konflik itu bisa dihindari.
”Semua
itu karena adanya kontribusi dari masyarakat dan pemerintah daerah maka kita
bisa meredam konflik,”katanya.
Dia
berharap, ke depan
agar situasi konflik bisa dicegah tentunya 
kita harus mendahulukan koordinasi meredam konflik, bukan sebaliknya
berkordinasi setelah terjadinya konflik, seperti yang dilakukan selama ini.
Oleh karena itu, secara kontinyu kordinasi dan komunikasi harus ditingkatkan
intensitasnya untuk mencegah agar konflik tidak terjadi, karena bila provokasi
sudah masuk sebagai pemicu konflik maka sudah pasti sangat  pelik untuk penyelesaiannya.
”Saya
sangat mendukung perlunya dibentuk forum kordinasi di tingkat kecamatan,
sehingga setiap gejala konflik tidak harus semuanya diselesaikan di tingkat kabupaten,
tetapi sudah dapat di selesaikan di tingkat kecamatan,”katanya. ADVETORIAL
Loading...