Beranda Politik Formappi Ungkap Sesat Wacana Pemenang Pilpres ala Arief Poyuono

Formappi Ungkap Sesat Wacana Pemenang Pilpres ala Arief Poyuono

9240
BERBAGI
Wakil Ketua Partai Gerindra Arief Poyuono. - Bisnis.com/Jaffry Prabu Prakoso

TERASLAMPUNG.COM — Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia atau Formappi menganggap persepsi perhitungan pemenang Pilpres 2019 yang diungkap Arief Poyuono merupakan informasi menyesatkan.

Sebelumnya, Waketum Partai Gerindra Arief Poyuono mengklaim kemenangan pasangan calon (Paslon) 02 atas rivalnya pada Pilpres 2019. Dasarnya, Paslon 02 memenangi pemilihan di 22 provinsi.

Dengan begitu, secara total, Paslon 02 meraih kemenangan 64,7% dibandingkan Paslon 01 yang diklaim hanya memenangi 12 Provinsi. Kemenangan Paslon 02 itu diklaim terjadi di wilayah Sumatra serta Kalimantan.

Peneliti Formappi Lucius Karus mengungkapkan bahwa model perhitungan ala Puoyono ini itu terlalu menyederhankan aturan. Menurutnya, basis menghitung kemenangan pada Pilpres adalah suara terbanyak, bukan wilayah pemenangan.

“Paslon dengan perolehan suara nasional terbanyak akan secara otomatis menjadi pemenang,” ungkap Lucius kepada Bisnis.com, Minggu (21/4/2019).

Dengan begitu yang diperlukan tentu hanyalah hitungan jumlah suara bagi masing-masing pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. “Jika semua suara sudah dihitung secara nasional, maka di saat bersamaan akan diketahui siapa pemenangnya,” tambah Lucius.

Oleh karena itu, dia menilai informasi dari Arief Poyuono itu menyesatkan publik. “Apalagi jika dengan hitungan seperti itu mereka lalu sangat yakin menjadi pemenang Pilpres,” ungkapnya.

Lucius mencurigai pola perhitungan yang diasumsikan Poyuono itulah yang dijadikan landasan klaim kemenangan oleh Paslon Prabowo Subianto. “Jangan-jangan model perhitungan ini yang disodorkan ke Prabowo untuk meyakinkan kemenangannya pasca pemungutan suara beberapa hari lalu?” tanyanya.

Dia menyayangkan asumsi Poyuono yang berpotensi menyesatkan banyak pihak. “Kasihan sekali jika akhirnya setelah proses perhitungan manual KPU selesai, jumlah suara Prabowo-Sandi ternyata tak selaras dengan keunggulan mereka secara kewilayahan, yang akhirnya memastikan kekalahan mereka,” tutup Lucius.

Kecurigaan itu, lanjut Lucius, didasarkan apa yang disampaikan Prabowo saat deklrasi kemenangan, yaitu menang 60-an% berdasarkan hasil real count internal. “Maka sepertinya real count yang dimaksud adalah hasil kalkulasi ala Puoyono tersebut,” katanya.

BISNIS

Loading...