Beranda Views Opini Foto Palsu Letusan Gunung Anak Krakatau Banyak Beredar di Medsos, Ini Contohnya

Foto Palsu Letusan Gunung Anak Krakatau Banyak Beredar di Medsos, Ini Contohnya

1055
BERBAGI
Letusan Gunung Puyehue di Chile hasil jepretan Daniel Basualto dari Kantor Berita EPA. Di medsos, foto ini tersebar luas dan diklaim sebagai foto letusan Gunung Anak Krakatau.

TERASLAMPUNG.COM — Seorang pemilik akun Facebook menyebarluaskan beberapa foto letusan dahsyat yang disebutnya sebagai “letusan Gunung Anak Krakatau terbaru”, pada Jumat malam, 27 Desember 2018. Foto-foto tersebut terasa aktual karena diedarkan beberapa hari pasca-tsunami Selat Sunda dan bersamaan denganterus terjadunya erupsi Gunung Anak Krakatau.

Beberapa foto disebarluaskan di medsos disertai keterangan “malam ini saudaraku mengungsi”, tetapi tidak disertai foto itu milik siapa, yang menjepret siapa, atau sumbernya dari mana. Pengunggah foto di medsos itu seolah ingin mengatakan bahwa foto-foto itu adalah hasil jepretannya malam ini (27 Desember 2018).

Memang benar, pada Kamis siang, 27 Desember 2018, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status Gunung Anak Krakatau (GAK) dari  Waspada menjadi Siaga. Artinya, kondisi Gunung Anak Krakatau makin berbahaya karena ada peningkatan erupsi.Namun, PVMBG maupun BMKG tidak melansir foto dahsyatnya letusan Gunung Anak Krakatau dengan lava pijar merah menyala, kilat menyambar, dan gumpalan abu vulkanik hitam pekat membubung tingi ke atas dari kawasnya pada Kamis malam (27 Desember 2018).

Kalau foto itu benar-benar nyata, jelas warga di sekitar Gunung Anak Krakatau di Lampung dan Banten harus makin waspada.

Teraslampung.com berusaha menanyakan kepada pemilik akun Facebook yang menyebarluaskan foto “Gunung Anak Krakatau meletus dahsyat” itu soal kebenaran foto tersebut. Namun, pemilik akun itu tidak menjawab. Ia terlihat sibuk menjawab pertanyaan lain soal saudara-saudaranya yang mengungsi malam tadi (27 Desember 2018) karena letusan Gunung Anak Krakatau yang dahsyat itu.

Penasaran dengan makin masifnya penyebarluasan beberapa foto yang diklaim sebagai foto letusan Gunung Anak Krakatau, Teraslampung.com kemudian melakukan pengecekan ke BMKG, PVMBG, dan Google. Hasilnya sungguh mengecewakan: beberapa foto yang disebut sebagai letusan Gunung Anak Krakatau itu adalah palsu alias bukan foto letusan Gunung Anak Krakatau.

Pertama yang Teraslampung.com cek adalah foto yang menjadi ilustrasi tulisan ini. Foto tersebut sangat dahsyat dan indah. Namun, kami meyakini bahwa itu bukanlah foto Gunung Anak Krakatau. Penelusuran Teraslampung.com menyimpulkan bahwa itu adalah foto letusan Gunung Puyehue di Chile hasil jepretan wartawan foto kantor berita EPA, Daniel Basualto.

Foto kedua yang kami cek adalah gambar di bawah ini yang juga diklaim sebagai letusan Gunung Anak Krakatau pada Kamis malam, 27 Desember 2018, dan disebarluaskan di medsos:

Erupsi Gunung Rinjani (Foto By Oliver Spalt)

 

Foto letusan gunung berapi karya Oliver Spalt tersebut lumayan terkenal dan banyak dijadikan ilustrasi tulisan tentang gunung berapi di banyak media berbahasa asing. Sayangnya, banyak media asing yang juga tidak memberikan keterangan bahwa itu adalah foto Gunung Rinjani karya Oliver Spalt.

Foto ketiga yang diklaim sebagai letusan Gunung Anak Krakatau yang kami cek adalah foto berikut ini:

Foto letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 karya Martin Rietze/APOD.

Bersamaan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang makin sering, tiga hari terakhir foto ini beredar di medsos dan oleh para penyebarnya diklaim sebagai foto erupsi Gunung Anak Krakatau terkini.

Orang awam mungkin akan percaya bahwa foto di atas merupakan foto erupsi Gunung Anak Krakatau. Apalagi si penyebar foto tanpa ragu menyebutkan keterangan “Di Merak, Cilegon, Banten”. Si penyebar foto di medsos seolah ingin mengabarkan bahwa ia menjepret gambar itu dari wilayah Banten atau setidaknya dalam perjalanan di atas kapal dari atau menuju Merak, Banten.

Foto letusan Gunung Sakurajima di atas juga termasuk sangat terkenal. Di Google sangat mudah ditemui karena menjadi koleksi foto para kolektor foto dan dipakai sebagai ilustrasi beberapa peniliti dan wartawan.

Pengecekan yang kami lakukan menyimpulkan bahwa foto di atas bukanlah foto letusan Gunung Anak Krakatau melainkan foto letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 karya Martin Rietze/APOD. Foto tersebut sudah beredar di Google sejak lima tahun terakhir.

Para penyebar foto palsu letusan Gunung Anak Krakatau itu maksudnya sekadar mau memberi informasi bahwa saat ini warga Lampung dan Banten harus waspada karena Gunung Anak Krakatau sedang rajin erupsi. Namun, dengan menyebarluaskan foto-foto palsu itu sebenarnya sudah merugikan masyarakat. Selain berbohong, menyerbarluaskan foto-foto palsu letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau hanya membuat masyarakat yang menjadi korban tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 makin resah. Warga di wilayah pesisir Lampung dari Bandarlampung, Pesawaran, hingga Lampung Selatan dan Tanggamus pun akan makin resah.

Jika tidak memiliki foto tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau lebih baik tidak usah mencari-cari foto letusan gunung api dan menyebarluaskan ke medsos dengam mengklaimnya sebagai letusan Gunung Anak Krakatau. Seperti dikatakan pejabat BMKG, lebih baik publik mempercayai gambar dan video tentang aktivitas Gunung Anak Krakatau yang bersumber dari PVMBG dan BMKG.

Oyos Saroso H.N.

Loading...