Beranda Views Suara Publik Frankfurt Book Fair 2015 dan Kebohongan tentang Kepoloporan Dua Penulis Perempuan Indonesia

Frankfurt Book Fair 2015 dan Kebohongan tentang Kepoloporan Dua Penulis Perempuan Indonesia

358
BERBAGI
Frankfurt Book Fair 2015 (Ist)

Saya membaca beberapa berita di situs DW Indonesia seputar Indonesia yang menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015. Salah satu berita yang ditulis wartawannya dalam Bahasa Indonesia menyatakan bahwa dua penulis perempuan Indonesia telah mempelopori pengungkapan peristiwa 1965. Ada kalimat seperti ini dalam berita itu: “Dari 13-18 Oktober Indonesia akan tampil di Frankfurt sebagai Tamu Kehormatan. Yang cukup mengejutkan, kebanyakan yang memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya adalah penulis perempuan.”
Itu kebohongan yang luar biasa.

Sejumlah wartawan Jerman yang datang ke Jakarta juga sempat bertanya kepada saya tentang hal ini, seolah-olah ada gelombang atau fenomena baru tentang pengungkapan peristiwa 1965 melalui novel atau karya fiksi yang dipelopori dua penulis perempuan.

Saya mengatakan bahwa fenomena atau kecenderungan khusus itu tidak ada sama sekali. Saya hidup di Indonesia, saya penulis, dan saya mengetahui apa saja yang terjadi di sini, di negara saya sendiri.

Penulisan dan penerbitan novel atau karya fiksi yang mengisahkan peristiwa tersebut bahkan telah dimulai tidak lama setelah Suharto berkuasa, ketika Noorca M. Massardi menulis novel September, dengan perspektifnya yang kritis dan menggugat militer. Umar Khayam menulis Sri Sumarah dan Bawuk yang juga mengisahkan seputar peristiwa itu. Ahmad Tohari menulis dua novel tentang 1965 dengan tentara sebagai pahlawannya dan orang komunis yang bertobat. Mira W menulis novel berlatar peristiwa ini dalam karyanya yang dikategorikan “novel pop”.

Penulis Indonesia, laki-laki maupun perempuan, mengisahkan peristiwa tersebut dalam karya-karya mereka sejak masa Suharto sampai hari ini. Bre Redana menerbitkan dua novel tentang 1965 pada tahun 2011, yakni Blues Merbabu dan 65. Kalau harus menunjuk diri sendiri, saya juga menulis cerita-cerita pendek tentang peristiwa 1965 di antara karya lain tentang penculikan aktivis, gerakan politik melawan Suharto, masa pendudukan Jepang, transgender dan sebagainya itu. Selain saya, banyak penulis lain yang menulis peristiwa 1965 dalam karya mereka.

Dengan perspektif yang beragam. Tapi dua karya terakhir yang rajin dibicarakan di Jerman itu justru tidak menawarkan perspektif baru dibandingkan karya-karya yang sudah muncul lebih dulu. Sosok-sosok yang diceritakan adalah korban-korban yang sial atau hedonistik, yang sama sekali tidak bertentangan dengan propaganda Orde Baru tentang peristiwa 1965. Karena itu, berita yang dimuat dalam DW Indonesia tersebut sangat berlebihan.

Tetapi lebih dari itu adalah tidak hanya peristiwa 1965 yang menjadi tema karya-karya fiksi di Indonesia dari dulu sampai sekarang. Tema-tema kemanusiaan dan kekerasan ketika Suharto berkuasa, konflik antarwarga, masalah agama, misteri, alam gaib, urusan rumah tangga, cinta dan seks menjadi tema karya fiksi di Indonesia hari ini. Sangat beragam, sangat kaya. Kalau Indonesia ingin mengusung slogan “17 Ribu Pulau Imajinasi”, maka keberagaman itulah yang harus ditampilkan di Frankfurt Book Fair pada bulan Oktober nanti.

Berita yang menyatakan bahwa dua penulis perempuan Indonesia ini telah menjadi pelopor bagi pengungkapan kembali peristiwa 1965 atau memaksa Indonesia berhadapan dengan sejarah gelapnya selain suatu kebohongan, juga penghinaan yang luar biasa dan mendalam terhadap semua upaya siapa pun yang tanpa kenal lelah dengan segala risikonya, baik komunitas, organisasi, para aktivis, dan anak-anak muda dalam mengungkap kebenaran yang terkait peristiwa tersebut dari masa Suharto hingga hari ini. Upaya-upaya mereka yang saya sebutkan terakhir itu tidak dipicu oleh karya fiksi atau film fiksi apa pun, melainkan karena keingintahuan mereka untuk menemukan kebenaran dalam sejarah. Tidak hanya untuk peristiwa 1965, tetapi juga untuk menemukan kebenaran dalam berbagai peristiwa politik yang terjadi di masa Suharto dan di masa sesudahnya demi mengupayakan keadilan.

Saya mendukung Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, tapi tidak mendukung kebohongan atau manipulasi yang berlebihan untuk tujuan perdagangan dengan alasan apa pun.

Linda Christanty