Beranda News Jiran Sumatera Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Jaya

Gajah Sumatera Ditemukan Mati di Aceh Jaya

811
BERBAGI
Bangkai gajah ini ditutupi pelepah sawit di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur. (Foto: dok. mongabay.com)

BANDA ACEH. Teraslampung.com — Gajah sumatera berumur sekitar 20 tahun ditemukan mati dalam kondisi tanpa kepala, di pinggir Sungai Cengeh, Gampong Pangong, Kecamatan Krueng Sabe, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. Saat ditemukan, kondisinya membusuk dan gadingnya hilang.

Muhammad Yusni, warga Krueng Sabe, menuturkan, awalnya warga tidak mengetahui keberadaan bangkai gajah itu. Namun, aroma busuk yang terpancar, membuat warga curiga dan mencari tahu dari mana sumber bau tersebut.

“Saat warga menelusuri pinggiran Sungai Cengeh, ternyata bau itu berasal dari bangkai seekor gajah jantan yang sudah tidak ada gadingnya,” kata Yusni, Minggu (7/9/14).

Yusni menyebutkan, selain bangkai gajah yang sudah membusuk, tidak jauh dari lokasi tersebut ditemukan juga tulang-belulang gajah. “Warga khawatir, kejadian ini akan menyebabkan gajah masuk permukiman penduduk. Padahal, selama ini masyarakat tidak pernah mengusik gajah,” ujarnya.

Dokter dari Pusat Konservasi gajah (PKG) Saree Kabupaten Aceh Besar, drh. Rosa, yang turun ke lapangan menyatakan kesulitan mengambil sampel gajah yang sudah membusuk itu untuk kebutuhan forensik.

Rosa belum bisa memastikan penyebab kematian gajah tersebut, karena harus melalui pengujian sampel dahulu di laboratorium di Medan, Sumatera Utara. “Kami tidak bisa menduga-duga, yang pasti saat ditemukan, gadingnya sudah tidak ada,” ujarnya.

Dari Aceh Timur juga dilaporkan, dua ekor gajah ditemukan mati mengenaskan, Minggu (07/09/14). Saat ditemukan di areal PT. Dwi Kencana Jamborehat,  Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, gadingnya sudah hilang. Lokasi penemuan ini sekitar 10 kilometer dari pusat permukiman warga dan 50 meter dari jalan kebun PT. Dwi Kencana.

Dua gajah berkelamin jantan itu ditemukan di dua lokasi terpisah yang jaraknya sekitar 100 meter. Saat ditemukan, salah seekor gajah tersebut ditutupi pelepah sawit dan di dekat kakinya terdapat dua butir selongsong peluru. Ada juga bekas ban mobil di lokasi kejadian.

Kematian gajah ini bukan kejadian pertama di perkebunan Aceh Timur. Pada 27 Juli 2013 lalu, seekor gajah ditemukan membusuk di perkebunan sawit PTPN I di Desa Blang Tualang, Kecamatan Bireun Bayeun. Sementara, seekor lagi ditemukan mati mengambang di Sungai Desa Alu Tuwi, Kecamatan Rantau Selamat.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, Genman Hasibuan mengatakan, terkait kematian gajah ini, pihaknya sudah mengirimkan anggota untuk melihat langsung ke lokasi kejadian. Genman juga menjelaskan sepertinya ada pihak yang mengambil keuntungan dari kejadian ini. “Konflik yang terjadi antara manusia dengan gajah dimanfaatkan pihak tertentu untuk membunuh gajah dan mengambil gadingnya,” tutur Genman.

Genman menyebutkan, saat ini diperkirakan ada sekitar 450-500 ekor gajah yang tersebar di Aceh. “Dari semua kabupaten/kota di Aceh, yang tidak ada gajahnya hanya di Banda Aceh, Simeulu, dan Sabang,” ucapnya.

Program Manajer Fauna & Flora International (FFI) Aceh, Syafrizaldi menyebutkan, tahun 2014, konflik antara gajah dengan manusia semakin meningkat, bahkan selain ada gajah yang mati, warga juga ikut menjadi korban.

“Di Aceh Jaya saja, dua ekor gajah mati tahun 2014. Ini tidak termasuk daerah lain di Aceh, bahkan dua bulan lalu, ada warga di Kabupaten Bener Meriah yang tewas karena diserang gajah,” ujarnya.

Loading...