Ganja dan Pancasilais

  • Bagikan

Fathoni
Pengajar Logika, Fakultas Hukum Unila

Judul di atas mungkin paradoks, kontras, bahkan mungkin antinomi, kontroversial secara logika dan makna bahasa. Sepertinya tidak mungkin ada seorang Pancasilais yang terlibat dengan ganja, atau sebaliknya, tidak ada seseorang yang terlibat dengan Ganja yang sekaligus Pancasilais. Tapi, nanti dulu, Ganja itu juga makhluk Tuhan, seperti cabai, tomat, atau alpukat. Tentu saja, selain Tuhan (yang merupakan pencipta/kholiq), pasti dia adalah makhluq (yang diciptakan).

Ganja yang dalam taksonomi binomial nomenklatur dimasukkan dalam kingdom tumbuhan (Plantae), pasti makhluk Tuhan juga. Ganja, atau yang dalam Bahasa Inggris disebut marijuana, dan dalam Bahasa ilmiah dinamakan Cannabis sativa, entitasnya tentu punya manfaat. Ia terikat oleh sunnatullah termasuk dalam ayat “Robbanaa maa kholaqta haadzaa baathilaan”. Tuhanku, tidaklah Engkau ciptakan (makhluk) ini dengan bathil. Tentu seluruh ciptaan (makhluk) Tuhan tidak diciptakan secara bathil. Secara umum (jumhur), kata bathil dipadankan dengan kesia-siaan. Pasti, termasuk ganja, canabis, marijuana, atau entah apalagi sebutannya, juga tidak Tuhan ciptakan dengan sia-sia, pasti ada manfaatnya.

Menurut ahli kimia, ganja mengandung 100-an bahan kimia berbeda yang membentuk zat cannabinoid. Delta-9-tetrahydrocannabinol (THC) dan cannabidol (CBD) merupakan bahan kimia utama yang sering digunakan sebagai bahan penyusun obat terapeutik tertentu, bahkan konon dapat digunakan sebagai pembunuh sel kanker dan masalah kejiwaan. Tentu, kita tidak sedang membahas ganja dari perspektif itu, karena itu bukan keahlian penulis. Tentang ganja dan Pancasilais yang menjadi judul tulisan ini, pun penulis bukan ahlinya. Cuma menerka-nerka saja, barangkali benar, tapi mungkin sekali salah.

Kembali pada judul “Ganja dan Pancasilais” tadi, pada suatu pagi penulis membaca pesan WA grup dosen tentang motto sebuah skripsi mahasiswa yang berbunyi kira-kira begini, “Sebatang ganja cukup untuk menjadikan kita Pancasilais”. Motto yang tidak lazim, atau mungkin sekali, itu adalah motto yang “haram”, alih-alih sebagai motto yang: Berani!

Entah apa yang dimaksud si penulis motto ini. Ingin sekali mengkonfirmasi kepada si penulis motto, ber-tabayyun, meminta penjelasan tentang maksud motto yang ditulisnya itu.  Paling tidak, ada dua  variabel dalam motto itu: Ganja, dan Pancasilais. Pasal ganja sudah sedikit dibahas di muka, sedang Pancasilais ini, secara sederhana, kita definisikan saja dengan “seseorang yang mengamalkan Pancasila dalam kehidupannya”, atau “di dadanya ada Pancasila”, atau “berjiwa Pancasila”. Itulah, sebabnya penulis jelaskan di awal tulisan ini, judul diatas mungkin paradoks, bertentangan, kontradiktif. Ganja pasti tidak bisa menjadikan kita menjadi Pancasilais, begitu kira-kira kesimpulannya.

Penulis pernah membaca suatu makalah berjudul “Ganja dan Pancasila: Menakar Sila Kelima” yang penulis baca dari https://ksm.ui.ac.id/ganja-dan-pancasila-menakar-sila-kelima/ dengan Tagar (#), #KajianCUK, KSM Eka Prasetya UI. Menarik kajian (tanpa CUK) yang disusun anak muda itu. Jika boleh penulis kutip sedikit tulisan tersebut, “Distribusi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bagi saya hanyalah suatu fantasi yang memabukkan, tak ubahnya dengan kita sedang mengonsumsi ganja”.

Intinya, menurut penulis, tulisan itu beranggapan bahwa sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” belum terealisasi, namun kita “disuruh” berfantasi bahwa sila tersebut sudah terealisasi, padahal belum. Kita seperti “mengonsumsi” ganja, sehingga kita mabuk dan percaya bahwa sila tersebut sudah menjadi nyata, dan saat kita sadar, lalu menyadari bahwa ternyata itu hanya fantasi, kita dipaksa ber-ganja lagi. Berfantasi lagi. Begitu kira-kira tafsir penulis terhadap tulisan tersebut.

Oke, sekarang kita belajar lagi tentang proposisi dalam logika, yaitu suatu pernyataan yang memiliki nilai kebenaran, benar, True (T), atau salah, False (F), tetapi tidak dapat benar dan salah sekaligus. Kalau tidak benar, ya Salah, demikian sebaliknya. Perhatikan proposisi ini, “Sebatang ganja cukup untuk menjadikan kita pancasilais”. “Sebatang ganja” adalah subjeknya (fa’il), “cukup untuk menjadikan” kita sebut predikatnya (fi’il/verb), “Pancasilais” kita anggap sebagai objeknya. Negasinya, pertentangan dari proposisi itu adalah “tidak benar bahwa sebatang ganja cukup untuk menjadikan kita pancasilais”.

Dengan demikian, proposisi “Sebatang ganja cukup untuk menjadikan kita pancasilais” bisa bernilai benar, tapi mungkin juga bernilai salah. Tapi, kenapa harus ganja yang dipilih oleh si penulis motto untuk menjadikan dirinya—si penulis motto—sebagai pancasilais? Kenapa ia tidak gunakan diksi “daun singkong”, jambu, durian, atau lainnya? Itu yang perlu diselidiki. Lagi pula, ganja sudah kadung punya konotosi buruk dalam alam pikir manusia yang waras. Sebaliknya, kata Pancasilais, memiliki konotasi, atau secara denotasi, memiliki makna yang baik, positif.

Makna denotasi (makna lugas) dari kata “ganja” kemudian dipertukarkan menjadi konotasi (makna kias) sebagai pengganti kata “berfantasi”, sedang disandingkan maknanya dengan kata “Pancasilais” dalam makna denotatifnya. Tentu tidak apple to apple. Si penulis motto mungkin sedang mencari jati dirinya, atau mungkin ia sedang membaca fenomena bahwa “ternyata kita sedang berfantasi bahwa negara ini memang sedang melaksanakan Pancasila”, atau “menjadi Pancasilais itu masih merupakan fantasi di negeri ini”, dalam artian, Pancasila belum terwujud dalam kehidupan bernegara kita. Padahal, negara ini mendaku dirinya sebagai “Negara Pancasila”.

Semoga saja, tafsir penulis tentang maksud penulis motto tadi benar adanya, pun jika pun salah, semoga si penulis motto termasuk dalam kategori: “manusia yang salah dan menyadari kesalahannya”, karena manusia jenis ini hanya perlu disadarkan. Jauhi Narkoba, semoga kebaikan untuk Indonesiaraya. Tabik.

  • Bagikan