Beranda Views Sepak Pojok Gara-Gara Pilkakam Tombak dan Pedang Beterbangan di Kampung Karang Abang

Gara-Gara Pilkakam Tombak dan Pedang Beterbangan di Kampung Karang Abang

4585
BERBAGI
ilustrasi

Oyos Saroso H.N.

Kampung Karang Abang yang sehari-hari biasanya aman, tenteram, dan terkendali,  tiba-tiba rusuh. Pemilihan kepala kampung (Pilkakam) membuat warga desa terbelah-belah menjadi kelompok pendukung calon kepala kampung dan jadi benih-benih kerusuhan.

Menurut kabar dari koran lokal yang tidak layak dipercaya, hampir tiap hari terjadi pertengkaran antarwarga. Pertengkaran-pertengkaran kecil itu lama kelamaan menjadi perang antarkelompok pendukung. Masing-masing kelompok mempersenjatai diri dengan tombak, pedang dan kelewang.  Hampir tiap hari tombak dan pedang pun beterbangan di kampung.

Masalahnya cuma satu: masing-masing pihak ingin calonnya menang. Bagaimanapun caranya.

Karto Klete yang dalam Pilkakam mendapat gambar ketela rambat (ubi jalar) didukung oleh kelompok masjid dan musala. Meskipun Karto Klete tidak pernah salat di masjid, tiap hari ia pakai kupluk dan sarungan. Makanya, dicaplah ia sebagai wakil kelompok bersarung dan berkupluk.

Karena uang Karto Klete sak hohah (baca: tidak berseri saking banyaknya), maka ia dengan mudah menggalang warga. Warga yang kemudian menjadi massa. Massa yang kemudian akan menjelma anonim ketika saat huru-hara tiba.

“Kita harus pilih pemimpin yang waras! Yakni pemimpin yang memberikan jaminan kita bisa masuk surga!” pekik Karto Klete.

Karto Krambil (dapat jatah gambar kuda terbang) yang uangnya juga seabreg tidak kalah pamor. Ia mencitrakan diri sebagai calon pemimpin kampung pujaan. Ia tampil dengan slogan “Dengkul Obah Rejeki Tambah” dan ingin mengajak semua warga kampung, tua muda, laki-laki perempuan, penggila dangdut maupun keroncong untuk selalu bergerak mencari nafkah tiap hari.

“Intinya, dengkul kita harus bergerak! Harus terus berjalan, dinamis mengikuti gerak laku kehidupan! Bumi itu bulat, saudara-saudara, bukan datar seperti kata tetangga sebelah! Makanya, mari kita terus bergerak! Berputar!” teriak Karto Krambil saat kampanye di lapangan kampung.

Karto Celeng (bergambar pepaya cempluk) tidak mau kalah. Sebagai calon lebih berpengalaman dibanding dua pesaingnya, ia lebih lihai bergerilya untuk mendapatkan dukungan. Karto Klete dan Karto Krambil boleh bangga karena dalam tiap kampanye yang datang selalu membludak. Namun, ia sudah menyiapkan jurus jitu untuk mengubah suara di balik bilik sempit te pe es. Ia lihai karena sudah berpengalaman menjadi wakil rakyat yang menyuap sekian banyak calon pemilih dengan gepokan uangnya. 

bersambung…..

Oyos Saroso HN

BACA JUGA: Karto Celeng Jadi Caleg

Loading...