Beranda Kolom Sepak Pojok Gas untuk Orang Miskin

Gas untuk Orang Miskin

288
BERBAGI

Syofiardi Bachyul Jb*

Dua kali saya gagal menulis tentang ini. Ini kali ketiga. Jika ini akhirnya bisa Anda baca berarti saya berhasil.

Saya gagal karena takut menyinggung banyak orang. Membuat orang tidak senang lebih buruk daripada membuat orang senang.

Ini tentang pilihan dan ‘sikap politik’ saya tidak ingin membeli dan memakai tabung gas melon. Alasannya sederhana, bukan karena terlalu murah, tetapi karena di sana tertulis “Hanya untuk Masyarakat Miskin”.

Dulu waktu produk melon keluar, Pak RT mengetok pintu rumah. Ia menawarkan saya untuk menerima pembagian tabung melon gratis. Saya tanyakan, kenapa melon ditawarkan juga kepada rumah di kompleks perumahan (nonsubsidi), bukankah itu untuk masyarakat miskin.

Jawabannya cukup saya simpan saja. Yang jelas saya mengatakan tidak mau dimasukan ke daftar penerima melon.

Saya menilai keluarga saya bukan keluarga miskin, karena tidak masuk dalam daftar keluarga miskin yang dibuat pemerintah. Juga tidak termasuk dalam perhitungan yang dikeluarkan BPS.

Pada 2017, seperlima atau 237.328 penduduk Kota Padang berada di bawah garis kemiskinan. Versi BPS, penduduk yang disebut miskin di Sumatera Barat jika pengeluarannya per bulan per orang di bawah Rp453.612 (patokan pendapatan garis kemiskinan).

Artinya jika ada empat orang anggota keluarga, jika pengeluaran per bulan Rp1,8 juta ke bawah maka disebut miskin. Memang ada sejumlah indikator ‘kekayaan’ lain, misalnya kondisi rumah dll.

Karena saya tidak berhak maka saya memakai gas non subsidi, meski membelinya lebih 500 meter dan melewati lima kali tempat penjualan gas melon. Sekali lagi, itu adalah ‘sikap politik’ saya memilih membeli dan memakai sesuatu yang sesuai hak saya.

**

Ketika waktu SMA saya pernah berhadapan dengan hal yang sama. Waktu itu ada sebuah yayasan yang menawarkan beasiswa kepada siswa berprestasi. Wakil kepala sekolah memanggil saya.

Sebagai siswa juara satu di kelas (dan juara umum) saya ditawari sebagai penerima. Syaratnya adalah mengurus surat keterangan keluarga miskin dari kepala desa. Penerima beasiswa ini hanya satu orang per kelas.

Saya katakan kepada Pak Wakasek, saya tidak mau mengurus surat miskin tersebut karena merasa tidak miskin. Waktu itu era Orde Baru, pemerintah tidak memiliki data keluarga miskin seperti sekarang.

Jadi mengurus surat keterangan miskin itu sangat gampang, apalagi orang seperti saya yang memang dari kaluarga biasa-biasa saja.

Wakasek menyebutkan, jika juara 1 menolak, maka nanti ditawarkan ke juara 2, dan jika juara 2 menolak ditawarkan ke juara 3. Maka akhirnya saya pergi ke kelas dan berunding dengan kawan juara 2 dan 3.

Waktu itu saya sudah menulis di koran dan mendapatkan sedikit honor setiap bulan. Honor bisa untuk membayar uang sekolah dan membeli buku-buku.

Kawan saya yang juara 2 menurut kami adalah orang yang dari keluarga yang ekonominya di atas kami.

Sedangkan kawan yang juara dua adalah perempuan yang saya kagumi keuletannya. Setiap minggu ia membantu orang tuanya berjualan cabe ke pasar, pergi ke sawah, dan ke sekolah bersepeda dengan jarak yang cukup jauh.

Saya menyarankan agar beasiswa diberikan kepada kawan Juara 3. Strateginya, saya menolak, kemudian kawan juara dua menolak, sehingga kawan juara tiga akan menerima beasiswa.

Akhir kisah, saya sukses menolak beasiswa itu, tetapi kawan Juara 3 juga tidak berhasil mendapatkannya, karena ternyata yang menerima adalah teman yang Juara 2.

Kami berdua akhirnya menelan sesuatu yang pahit, meski saya tahu betapa besarnya jiwa orang seperti teman saya yang juara tiga. Wakepsek pun mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa.

**

Bagi saya kemiskinan psikologis sekelompok orang berkontribusi terhadap kemiskinan struktural sekelompok lainnya. Ketiga gas, listrik, BBM, beasiswa, dll untuk orang miskin disabot orang yang tidak miskin, maka ia tidak hanya ikut memperlambat pengentasan kemiskinan orang miskin, tetapi juga ikut memperlama negara ini menjadi negara yang kaya.

Saya hanya ingin berbagi pendapat, bukan menghakimi. Karena setiap orang berbeda alasannya.***

*Jurnalis, tinggal di Padang

Loading...