Gayatri Walissa, “Doktor Remaja” Menguasai 14 Bahasa Asing Itu Meninggal Dunia

  • Bagikan
Gayatri Wailissa (dok kabartimur.co.id)

AMBON – Inalillahi wa innailaihi roji’un. Gayatri Wailissa, salah satu remaja putri kebanggaan Provinsi Maluku, meninggal dunia  Kamis (23/10) pukul 19.15 WIB. “Doktor Remaja” yang menguasai 14 bahasa itu gagal melawan penyakit pendarahan otak yang dideritanya.

Tidak hanya di Maluku, kematian Gayatri juga mengejutkab publik di seluruh Indonesia. Kepergian  putri pasangan Deddy Darwis Wailissa dan Nurul Idawaty/Wailissa itu begitu mengejutkan karena sebelumnya tidak pernah terdengar informasi bahwa Gayatri sakit.

Gayatri menjadi perhatian publik karena pada usianya yang masih 17 tahun menguasai 14 bahasa asing. Hal itu mengantarnya meraih sejumlah penghargaan di level internasional. Prestasi remaja putri kelahiran Ambon ini mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia.

Namun, di usia remaja, ajal datang begitu cepat menjemputnya. Putri kedua dari tiga bersaudara ini tak mampu melawan sakit dideritanya. Kemarin, tepat empat hari Gayatri berjuang melawan pendarahan di otaknya, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Ia harus menjalani perawatan di RS Abdi Waluyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat sejak, Senin (20/10) lalu. Sebelum menjalani perawatan, Gayatri belum genap sepekan berada di Jakarta, setelah kembali dari Negara Rusia menghadiri undangan sebagai narasumber.

Ia kembali ke Indonesia setelah mendapatkan undangan untuk menghadiri pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI Joko Widodo-Jusuf Kalla di gedung MPR RI pada 20 Oktober lalu. Namun, keinginannya menghadiri undangan itu tak kesampaian. Rencananya setelah berolahraga di Taman Suropati di kawasan Menteng, Senin pagi, Gayatri akan menghadiri acara pelantikan Jokowi-JK, namun, batal.

Ia mengeluh pusing kepada teman-temannya yang berolahraga bersamanya di taman itu. Sakit yang dideritanya memaksa dirinya dilarikan ke RS Abdi Waluyo oleh Hasim, salah seorang perwira di Mabes TNI. Di kalangan TNI, Gayatri sudah dianggap sebagai keluarga. Kecerdasannya dan kelebihan membaca “hati dan masa depan” seseorang membuatnya didaulat sebagai motivator di lingkungan TNI.

Ayah Gayatri, Deddy Darwis Wailissa yang dihubungi Kabar Timur tadi malam, begitu terpukul dengan kematian buah hatinya itu. “Tidak ada tanda-tanda atau firasat sebelum Gayatri meninggal dunia,” tuturnya dengan nada sedih.

Terakhir keluarga besar bertemu saat Gayatri mengunjungi orang tua dan saudaranya di Ambon pada akhir September 2014 lalu. “Dia datang di Ambon 21 September lalu.  Di Ambon lima hari setelah itu kembali ke Jakarta,” ujar Darwis.

Selama di Jakarta, Gayatri tinggal di mess Mabes TNI. Oleh dokter Agus dari Mabes TNI yang merawatnya, Gayatri didiagnosis pecah pembuluh darah di otak.

Awalnya, orangtuanya yang berada di Ambon, dikabari Gayatri menderita pusing kepala dan harus dirawat di RS Abdi Waluyo. Senin siang oleh dokter, orangtua Gayatri diminta segera berangkat ke Jakarta. Karena harus menjaga anak bungsunya di Ambon, Darwis meminta istrinya Nurul Idawaty/Wailissa berangkat ke Jakarta.

“Pak Hasim sesuai penjelasan dokter meminta saya dan istri berangkat ke Jakarta Senin siang. Tiket pesawat telah disiapkan pihak Kodam XVI/Pattimura,” katanya.

Akhirnya Darwis beserta istri dan anak bungsunya bertolak ke Jakarta. Tiba di Jakarta mereka langsung menuju ruang ICU RS Abdi Waluyo tempat buah hati mereka dirawat. Begitu kagetnya mengetahui buah hatinya tergeletak tak berdaya. “Saya dan istri menangis melihat kondisi Gayatri. Seluruh tubuhnya dipasangai alat kesehatan,” kata Darwis.

Selama empat hari menjalani perawatan, tubuh Gayatri semakim melemah. Dia tak sadarkan diri, tubuhnya sama sekali tak bergerak. “Saya dan istri menangis melihat Gayatri seperti mayat hidup karena tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Saya berbisik dan mengaji di telinganya tapi tidak didengar, matanya juga tertutup,” ujarnya sambil menangis.

Penyakit mematikan yang merenggut nyawa anaknya itu membuat orangtuanya penasaran. Sebab selama ini, Gayatri tidak pernah mengeluh sakit kepala atau menderita penyakit serius.

“Paling hanya mengeluh sakit maag, karena dia sering lupa makan,” katanya.
Tak hanya sang ayah yang dibuat bingung, dokter Agus juga menyerah menghadi penyakit yang menyerang Gayatri. “Biasanya setelah darah diotak disedot, pasien sudah bisa sadar,” kata Darwis menirukan ucapan dokter.

Kematian Gayatri mengurungkan niatnya melanjutkan studi ke Jerman. “Rencana ke depan ia akan melanjutkan studi di Jerman yang dibiayai Mabes TNI,” kata Darwis.

Gayatri akan dimakamkan di TPU Taman Bahagia Ambon, hari ini (24/10). Jenasahnya akan diterbangkan dengan pesawat Garuda dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 08.15 WIB menuju Bandara Pattimura Ambon. Semua biaya perawatan dan proses pemulangan jenasah Gayatri ke Kota Ambon ditanggung oleh negara.

Kematian Gayatri meninggalkan duka yang mendalam bagi masyarakat di negara ini. Kematian Gayatri cepat tersebar di jejaring sosial. Banyak ucapan duka mengalir ditujukan kepada keluarga Gayatri.

Walikota Ambon Richard Louhenapessy yang berada di Jakarta bersama istrinya Diana Louhenapessy datang melayat Gayatri di RS Abdi Waluyo.

Kematian Gayatri mengingatkan kita tentang sosoknya yang begitu mengejutkan masyarakat Maluku, tiga tahun lalu.

Anak cerdas dan berbakat ini menunjukkan bahwa siapapun dapat maju. Seperti dirinya yang datang dari keluarga sederhana. Ayahnya hanyalah seorang pengrajin kaligrafi kaki lima, sedangkan ibunya seorang ibu rumah tangga. Di usianya yang belum genap 14 tahun Gayatri telah mampu berkomunikasi dalam 11 bahasa asing. Segudang prestasi pun pernah dia raih, mulai dari level nasional hingga internasional.

Ketertarikan Gayatri dalam mempelajari berbagai bahasa bermula saat Ia sedang menonton kartun berbahasa Inggris saat berusia 10 tahun. Karena tidak mengerti apa yang diucapkan dalam kartun itu, Gayatri merasa penasaran dan tertarik untuk belajar bahasa Inggris.

Gayatri tak pernah menempuh sebuah kursus untuk menguasai sebuah bahasa. Ia hanya belajar melalui buku, flm dan musik. Ia juga punya kebiasaan unik berbicara dalam bahasa asing di depan cermin guna memperlancar kemampuan berbahasanya.

Hingga saat ini Gayatri telah menguasai 14 bahasa asing meliputi bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Korea, Jepang, India, Rusia, Thailand dan Filipina.
Selain kemampuannya dalam bidang bahasa, Gayatri juga memiliki bakat dan prestasi dalam banyak bidang lain. Di waktu luangnya, Gayatri aktif diberbagi bidang diantaranya adalah instruktur teater, penyiar radio, penerjemah bahasa, dan bahkan menulis berbagai karya sastra. Ia juga pernah meraih medali perunggu dalam Olimpiade Sains Astronomi 2012.

Tidak hanya itu Ia juga menjadi wakil Indonesia untuk Duta Anak tingkat ASEAN. Ia bahkan menjadi delegasi tunggal (anak) Indonesia yang mewakili Konferensi ASEAN tahun 2012 di Thailand dan delegasi tunggal (anak) Indonesia dalam konferensi ASIA-Pasifik tahun 2013 di Nepal. Di konferensi tersebut, Gayatri kerap mempresentasikan isu-isu dan solusi terkait permasalahan anak.

Ada pengalaman unik saat Gayatri mewakili Indonesia dalam Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-Hak Anak tingkat ASEAN di Thailand. Dalam forum tersebut kebanyakan pesertanya hanya menggunakan bahasa asalnya saat berbicara. Melihat keadaan ini Gayatri lalu menwarkan diri untuk menjadi penerjemah bagi anak-anak yang lain. Berkat aksinya ini kemampuan Gayatri dalam berbahasa mendapat apresiasi dari peserta lain dan Ia mendapatkan gelar doktor.

Berkat kemampuannya berbahas asing dan berbagai prestasinya, Gayatri mendapat banyak tawaran beasiswa untuk belajar di luar negeri. Ia juga mendapatkan berbagai tawaran untuk bekerja di beberapa organisasi dunia termasuk PBB. Hanya saja sampai saat ini Ia belum memutuskan kemana Ia akan melanjutkan masa depannya. Yang jelas Ia berharap dimasa depan bisa menjadi seseorang yang berguna bagi bangsa.

Sumber: kabartimur.co.id

  • Bagikan