Gedung Kesenian Lampung Sudah Jebol Sebelum Diresmikan

  • Bagikan

Siti Qodratin/Teraslampung.com

Plafon Gedung  Kesenian Lampung yang ambrol (Teraslampung.com)

Bandarlampung—Sejak sepekan ini plafon Gedung Kesenian Lampung di KompleksPKOR Way Halim, Bandarlampung, jebol. Padahal, gedung kesenian ini belum diresmikan.

Menurut Afrizal AR., staf Dewan Kesenian Lampung, Sabtu (21/6) siang, ambrolnya plafon Gedung Dewan Kesenian Lampung yang belum diresmikan dan fasilitas di dalam gedung belum terisi, diketahuinya sekitar sepekan lalu.

“Saya kaget begitu melihat plafonnya ambrol dan asbesnya berserakan di bawah. Sampai kabel listrik juga menggantung,” kata Izal.

Sejumlah seniman Lampung yang tengah berada di Sekretariat DKL yang lama, juga mengaku heran gedung tersebut baru saja dibangun dan belum diresmikan. Gedung Kesenian tersebut dibangun dengan APBD semasa kepemimpinan Sjachroedin Z.P.

Diharapkan gedung untuk pengurus DKL dan pertunjukan kesenian di daerah ini bisa digunakan tahun ini. Namun, karena meubeler dan fasilitas lain belum ada di samping akustik ruang pertunjukan belum refresentatif, pengurus DKL meminta Pemerintah Provinsi Lampung menyelesaikan kekurangan itu.
 

Hal itu pernah diungkapkan wakil sekretaris DKL Bagus S. Pribadi. Dirinya bersama pengurus DKL sempat menemui instansi terkait pembangunan Gedung DKL itu, dan sudah membandingkan dengan gedung pertunjukan kesenian di Jakarta.

“Hasil survei kami dan orang yang layak merapikan gedung kesenian itu, sudah disampaikan ke pemerintah daerah. Tapi, sampai sekarang belum ada kabar kelanjutannya,” katanya.

Menurut Avip, sapaan akrab Bagus S. Pribadi, gedung kesenian itu rencananya pengelolaannya akan diserahkan kepada Dewan Kesenian Lampung (DKL).

Pengurus DKL pada periode lalu sempat diajak musyawarah ketika akan membuat desain. Namun, begitu proses pembangunan, pengurus  DKL sama sekali tidak dimintai pendapat terkait dengan fasilitas ruang pertunjukan.

“Maka, kami pun kaget ketika tahu bahwa ruang pertunjukan tidak standar sebuah gedung kesenian,” kata dia.

Hal sama dikatakan Isbedy Stiawan ZS. Sastrawan Lampung ini meminta instansi terkait bertanggungjawab dengan jebolnya plafon Gedung DKL. “Ini menunjukkan kerja mereka serampangan, harus dikaji mendalam,” katanya.

Kondisi Gedung Dewan Kesenian Lampung yang baru ini juga memprihatinkan. Beberapa jendela kerap terbuka karena tangan jahil tak bertanggung jawab. Karena sekitar gedung pada malam hari gelap, sering digunakan para remaja memadu kasih.

“Saya khawatir kalau tidaik segera ditunggu, gedung itu akan rusak. Jadi mubazir,” tandas Isbedy lagi.

Selain soal ambrolnya plafon, sejumlah seniman di Lampung menilai gedung kesenian yang dibangun dengan dana miliaran rupiah itu tidak layak disebut sebagai gedung kesenian karena tidak memenuhi syarat jika dipakai sebagai tempat pertunjukan seni.

“Selain atapnya terbuat dari seng, kabarnya ruang pertunjukannya juga lebih mirip gedung yang biasa disewa untuk pesta pernikahan. Tidak ada wing di samping kiri-kanan,” kata Panji Utama, penyair Lampung yang kini banyak berkiprah di dunia penggalangan dana umat.

  • Bagikan