Gelapkan Kendaraan Dinas, Sopir Mantan Ketua Komisi D DPRD Lampung Barat Dituntut 1,5 Tahun Penjara

  • Bagikan

Zainal Asikin/teraslampung.com



BANDARLAMPUNG-Sopir mantan Ketua Komisi D DPRD Lampung Barat, Hendra Ramadhan alias Eeng (31), dituntut Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hartono selama satu tahun dan enam bulan penjara. Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 372 KUHP terkait kasus penggelapan mobil dinas jenis Terios yang digadaikan sebesar Rp 23 juta di Palembang, Sumatera Selatan. Hal tersebut terungkap dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (5/11).

Dalam dakwaan yang dibacakan di hadapan majelis Hakim yang dipimpin Poltak Sitorus, terdakwa yang merupakan warga Pemangku Sukamaju Simpang Serdang, Kelurahan Way Mengaku Serdang, Kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat ini didakwa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri yaitu satu unit Daihatsu Terios bernomor polisi BE 2225 MZ warna hitam milik Pemerintah Lampung Barat.

Menurut Hartono, perbuatan itu dilakukan terdakwa pada Kamis, 21 November 2013 lalu seusai mengantar mantan Ketua Komisi D DPRD Lampung Barat SW Sundari ke Bandar Radin Intan II, Lampung Selatan. Terdakwa sendiri bekerja sebagai supir pribadi Sundari sejak 15 Oktober 2013.

“Awalnya saksi Sundari meminta agar terdakwa menyupirinya ke Bandara Radin Intan II karena hendak pergi ke Jakarta pada 21 November sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelum naik ke pesawat, Sundari meminta agar terdakwa pulang ke rumah pribadinya di Jalan Wan Abdurrahman, Kemiling,” ungkapnya.

Setibanya di rumah saksi, terdakwa bercerita kepada suami Sundari, Hasan bahwa ia membutuhkan uang sejumlah Rp 1,2 juta. Cerita itu dikuatnya dengan memperlihatkan surat pernyataan yang isinya terdakwa membutuhkan uang tersebut. Hasan pun mengabulkannya dengan memberikan uang sejumlah yang disebutkan terdakwa.

“Setelah mendapatkan pinjaman uang, terdakwa minta izin meminjam mobil dinas itu untuk pergi dengan alasan hendak main ke rumah temannya di daerah Gedong Air. Hasan yang mengizinkannya sempat berpesan agar hati-hati dalam mengemudi karena itu adalah mobil dinas dan masih baru serta STNK belum terbit,” kata dia.

Sekitar pukul 13.00 WIB terdakwa pergi membawa mobil dinas itu. Di perjalanan, terdakwa mematikan ponselnya. Ini baru diketahui oleh Hasan pada sore hari ketika ia menelepon terdakwa, ponsel Eeng dalam keadaan tidak aktif.

Hartono menjelaskan, ternyata terdakwa tidak pergi ke Gedong Air melainkan ke Palembang ke rumah rekannya, RU (DPO) di Jalan Lada, Perum Pusri, Kota Palembang. Kepada RU, terdakwa Eeng memintanya untuk menggadaikan mobil tersebut. Oleh RU, mobil itu digadai seharga Rp 23 juta. RU diberikan uang sebanyak Rp 4 juta sebagai upah, sedangkan sisa Rp 19 juta dipakai oleh terdakwa.

Sundari yang baru mengetahui penggelapan mobil itu lalu melaporkannya ke Polresta Bandar Lampung. Dan pada 20 Juli 2014 lalu, terdakwa baru berhasil dilacak dan ditangkap di Palembang. Sementara akibat perbuatan terdakwa, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat mengalami kerugian mencapai Rp 200 juta.

  • Bagikan