Gelembung Jebakan

  • Bagikan
Politik tak Suci (FAHIM-ANZOOM, thedailystar)

Alois Wisnuhardana

Sesungguhnya, kita ini sekarang hidup dalam gelembung jebakan yang kita ciptakan sendiri. Melalui aktivitas di media sosial, buih-buih itu menjadi gelembung yang mengumpul lantaran perilaku yang tidak kita sadari. Perilaku apakah itu?

Ambil contoh-contoh ini. Kita mengomentari status teman. Kita mengacungi jempol atas pernyataan teman. Kita tertawa, kita menangis, kita sedih, semuanya terekspresikan melalui akun media sosial yang kita punya: Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lain-lain. Juga mesin-mesin pencari, terutama Google. Kita mengekori orang, mengintip hidup dan aktivitas mereka, membaca dan bereaksi atas perasaan yang mereka ungkapkan.

Semua itu terekam oleh mesin. Secara manusiawi, seringkali kita sudah lupa atas setiap reaksi yang pernah kita buat dan respons kita atas apa yang saat itu terbaca oleh mata kita. Manusia gudangnya lupa dan khilaf. Tapi mesin tidak.

Kita juga membagikan berita dari sumber-sumber berita tertentu. Yang kita rasa cocok dengan suasana batin atau pikiran kita, segeralah kita bagikan ke mana-mana. Tak jarang, kita tambahi pula dengan komentar atau opini tertentu. Terhadap berita yang tidak kita setujui pun, kita juga membaginya, tentu juga ditambah ketidaksetujuan, kemarahan, atau kejengkelan kita atas isi berita-berita tersebut.

Tindakan kita memungkasi pertemanan (unfriend) orang-orang yang menyebalkan, berhenti mengikuti perkembangan mereka (unfollow), juga tertangkap oleh mesin. Biasanya, kita menghentikan pertemanan, atau mengakhiri keikutsertaan (followership) karena kesal, marah, kecewa, tidak setuju, atau berseberangan pendapat. Dan kita merasa terganggu oleh sikap dan pandangan mereka, oleh pilihan-pilihan kata mereka, oleh cara mereka mengekspreksikan. Sebaliknya, demikian pulalah perasaan orang yang berseberangan dengan kita atas diri kita.

Kita lega karena seolah-olah hidup kita menjadi lebih tenteram. Tapi mesin tetap dingin. Ia tak berekspresi. Ia sekadar mencatat. Sebatas merekam.

Atas semua aktivitas itu, Facebook, Google, Twitter, Instagram, dan semacamnya, untuk selanjutnya akan memberikan rekomendasi info atau berita apa yang melintas di depan mata kita. Berdasarkan jejak digital yang kita tinggalkan, mesin-mesin itu dirancang dengan algoritma tertentu sehingga hanya informasi yang “relevan” untuk kita masing-masinglah yang ditayangkan pada akun kita.

Karenanya, info tentang ayam atau anjing yang mati di dekat tempat kita bisa jadi lebih relevan dibandingkan dengan puluhan manusia yang mati di tempat lain yang kita tak pernah punya jejak digitalnya. Omongan Zuckerberg, pendiri Facebook, tentang hal itu, sudah menjadi kutipan yang terkenal: “A squirrel dying in front of your house may be more relevant to your interests right now than people dying in Africa.”

Gejala ini pernah diamati dan diungkapkan oleh Eli Periser, dan pernah dipaparkannya di sebuah forum kreatif TED. Ia menyebut fenomena ini sebagai filter bubble (gelembung penyaring). Filter bubble ini didefinisikan sebagai hasil pencarian personal yang didasarkan pada altoritma tertentu yang secara selektif menerka informasi yang dianggap PALING BERGUNA dan RELEVAN buat si pencari berdasarkan lokasi, perilaku yang terekam dalam jejak digital, dan riwayat pencarian yang dia lakukan.

Gelembung penyaring ini, pada satu sisi memang membantu, tetapi juga punya risiko memisahkan informasi-informasi lain di mana si pengguna tidak setuju atas nilai-nilai dalam informasi itu (sehingga dianggap oleh mesin tidak relevan atau tidak penting untuk ditampilkan). Semua informasi itu, disaring oleh mesin berdasarkan aktivitas kita di ranah digital.

Maka, tak heran jika Anda mencari kata tertentu di Google, hasilnya bisa berbeda dengan teman atau orang lain, sekalipun kata yang dimasukkan sama. Dengan keyword Belitung misalnya, satu pengguna bisa disodori oleh deretan informasi pariwisata eksotik di pulau itu, sementara pengguna yang lain disodori oleh sepak terjang Ahok yang berasal dari pulau itu juga.

Algoritma yang dirancang dalam media sosial semacam ini, tentu saja telah melambungkan informasi-informasi yang ekstrem untuk bergerak viral di ranah media sosial. Sebuah situs yang punya pandangan atau sikap politik ekstrem/radikal, bisa mendapatkan limpahan klik berpuluh-puluh atau beratus-ratus ribu kali hanya karena berita-beritanya terus diviralkan, baik oleh yang pro maupun yang kontra. Berikutnya, mereka bisa menuai ratusan, bahkan ribuan dolar setiap harinya dari iklan-iklan yang terpasang oleh Google di situs mereka.

Oleh karena itu, daripada mengistilahkannya sebagai gelembung penyaring, saya lebih suka menyebutkan algoritma atau fenomena ini sebagai gelembung penjebak.
Melalui aktivitas itu, kita secara tidak sadar telah terjebak pada informasi yang “itu-itu saja”, yang sesuai dengan yang kita inginkan, tetapi tidak mencerminkan realitas sesungguhnya. Pola semacam ini, juga berlangsung di dunia jaringan sosial instan seperti WA, LINE, TELEGRAM, BB, atau apapun, di mana kita tergabung hanya dengan kelompok-kelompok yang punya “tali-temali tertentu” (sejarah, asal usul, kesamaan pandangan atau sikap politik, kesamaan sekolah atau tempat kerja, dan sebagainya). Dalam group-group itu, setiap pesan disaring dan difilter oleh setiap anggotanya, dan bahkan sudah diberi muatan opini atau pendapat. Padahal, informasinya sendiri belum tentu akurat atau benar.

Maka, hari-hari ini beredarlah petuah filsuf Socrates untuk para makhluk digital. Petuah itu penting untuk memfilter setiap informasi dengan cara yang lebih filosofis dan etis: BENAR atau TIDAK, BAIK atau TIDAK, BERGUNA atau TIDAK. Dan jelas, filter ini berbeda dengan filter algoritma yang diciptakan oleh mesin, karena Anda sendirilah yang menjadi aktor utamanya.

Jika tidak benar, mengapa harus dibagikan? Jika benar tetapi tidak baik, mengapa pula harus dibagi-bagikan? Jika benar dan baik, tetapi tidak berguna, untuk apa disebar-sebar?
Ingatlah, setiap klik dan browse yang Anda lakukan, akan menentukan informasi seperti apa yang akan disajikan kepada Anda ke depannya, membentuk kepribadian digital Anda.

  • Bagikan