Beranda Kolom Sepak Pojok Generasi Hacks dan Generasi Hoax

Generasi Hacks dan Generasi Hoax

109
BERBAGI

Syofiardi Bachyul Jb

Saya generasi “hacks”. Anda yang sekarang muda adalah generasi “hoax”.

Hacks adalah permen hitam berbungkus plastik merah bening yang dipelintir. Rasanya mint. Pedas. Tapi semakin dikulum semakin melegakan tenggorokan.

Hoax adalah gambar dan kata hitam yang dipelintir. Rasanya pedas. Semakin dikulum semakin melegakan tenggorokan. Tapi tenggorokan orang-orang yang senang memakai topeng: alim di tampang, busuk di dalam.

Hacks dijajakan di (media) toples. Hoax dijajakan di media massa. Sampai sekarang hacks tak pernah bohong: rasanya tetap mint, melegakan tenggorokan. Hoax selalu berbohong dan bila ketahuan tidak ada pembuat dan penyebarnya yang meminta maaf, kecuali terpaksa.

Media sosial yang ikut sebagai penyebar hoax tersenyum-senyum saja pemiliknya. Sudah jelas sebuah gambar atau video hoax tetap saja bisa ditemukan di medianya dan diulang lagi ditayang penyebar berikutnya.

Pemerintah sibuk mengurus hoax, sepertinya sebuah departemen urusan hoax perlu dibentuk agar tidak semua departemen mengurus hoax.

Dulu pemerintah tidak pernah menjadikan Hacks sebagai ancaman. Bahkan mungkin ada pejabat yang sebelum berpidato terlebih dulu mengambil satu permen hacks, memelintir bungkusnya, dan mengulum-ngulum.

Itu zaman Orde Baru. Isi pidato itu dikutip oleh wartawan dan dimuat di media pers, lalu diejek sebagai “talking news” atau istilah seorang teman “berita ludah”. Isi pidato pejabat itu terkadang juga “hoax”.