Gizi Buruk: Kadis Kesehatan Ragukan Hasil Riset SDT

  • Bagikan
dr. Reihana, M. Kes (kiri).

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com — Kepala Dinas Kesehatan Provinsi  Lampung Reihana meragukan hasil Studi Diet Total yang menempatkan Lampung berada pada urutan ketiga nasional dengan tingkat konsumsi kurang energi protein setelah Provinsi Papua dan Nusa Tenggara Timur.

“Hasil riset SDT tersebut tidak menggambarkan konsumsi protein riil balita di Lampung. Sebab, kata Reihana, riset itu merupakan hasil dari konsumsi rumah tangga dan individu,” kata Reihana, dalam konferensi pers di  Dinas Kesehatan Lampung, Kamis (15/1).

Menurut Reihana, pada 2014 Provinsi Lampung telah melakukan intervensi kepada balita berupa pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP ASI) pabrikan. “Intervensi itu berupa pemberian bubur kepada 6.329 bayi  usia 6-11 bulan, pemberian biskuit bagi 10.500 bayi berusia 12-24 bulan, dan pemberian makanan tambahan bagi 2.500 ibu hamil dari keluarga kurang mampu,” katanya.

Sedangkan jumlah kasus gizi buruk pada tahun 2014, menurut Reihana, sebanyak 134 balita. “Kasus itu sudah telah ditangani dan dipantau perkembangannya.” Tambahnya.

Reihana mengatakan, sistem kewaspadaan gizi buruk telah dilaksanakan dengan berbagai kegiatan pendukung. Di antaranya survei gizi kabupaten/kota, peningkatan kapasitas petugas dalam tata laksana gizi buruk, peningkatan kapasitas petugas dalam penggunaan nutriclin, dan pendampingan tim asuhan gizi dalam penanggulangan gizi kinis.

Selain itu, kegiatan peningkatan kemampuan petugas dalam konseling menyusui, kegiatan peningkatan kapasitas petugas dalam konseling makanan pendamping ASI, peningkatan kemampuan petugas gizi dalam penggunaan standar pemantauan pertumbuhan balita, promosi kesehatan melalui tv dan radio, pengadaan media KIE.

Terkait hasil SDT, kata Reinana, diperlukan peningkatan kerja sama antar lintas sektor seperti Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD), Badan Ketahanan Pangan (BKP), PKK,Dinas Pertanian,Peternakan,Perikanan dan Kelautan serta Bappeda.

Sebelumnya, Studi Diet Total yang digelar Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan 2014 menyebutkan  tiga provinsi yang mengalami kekurangan kalori dan protein terbanyak adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua dan Lampung.

Rilis yang dipublikasikan Senin lalu (29/12) itu tentu sangat mengejutkan Gubernur Lampunh Ridho Ficardo.

Hasil studi juga menyebutkan tiga provinsi yang paling sedikit mengalami kekurangan kalori dan protein adalah DKI Jakarta, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung.

Studi itu menyebutkan kondisi kekurangan kalori dinyatakan dengan menggunakan batasan apabila asupan kalori kurang dari 70 persen Angka Kecukupan Energi (AKE) sedangkan kekurangan protein adalah jika asupannya kurang dari 80 persen Angka Kecukupan Protein (AKP).

Menurut Kemenkes, survei dilakukan Balitbangkes terhadap 46.238 rumah tangga di 497 kabupaten/kota di 33 provinsi di seluruh Indonesia.

Sebanyak 2.372 pengumpul data di lapangan mewawancarai 161.291 individu untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi kecukupan gizi masyarakat Indonesia dan potensi keterpaparan masyarakat terhadap cemaran berbahaya pada makanan yang dikonsumsinya. Secara nasional, proporsi kurang kalori dan protein adalah sebesar 29,4 persen.

Survei juga menemukan kalori utama masyarakat Indonesia merupakan serealia dan umbi-umbian dengan konsumsi serealia tertinggi adalah beras disusul mi, olahan terigu, terigu, olahan beras serta jagung dan olahannya.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan akan menggunakan hasil penelitian tersebut untuk mengambil kebijakan yang dibutuhkan di bidang kesehatan masyarakat.

“Langkah ke depan, kami sosialisasikan (hasil penelitian). Misal Studi Diet Total, kita akan berikan pengertian ke pemerintah bagaimana memberikan pengertian masyarakat bahwa kesehatan itu yang utama,” kata Menkes.

Ariftama

  • Bagikan