GOR Saburai, Riwayatmu Kini

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh : Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Pada awal tahun delapan puluhan, saat pertama kali terdaftar sebagai warga Tanjungkarang (sebelum bernama Bandarlampung). Salah satu kebanggaan sebagai warga baru adalah saat berjalan ke lapangam Enggal, saat itu terkenal namanya demikian. Banyak sekali kegiatan olah raga jika senja hari di sana. Bahkan salah satu cabang olah raga Bola Kaki, terkenal dengan julukan “anak anak enggal”; mereka jago mengolah bola di kaki, bahkan menjadi terkenal persatuan atau club ini pada jamannya.

Pada tempat yang sama ada bangunan bernama Gedung Olah Raga berdiri megah di sana. Gedung ini sebagai gedung serba guna yang dimiliki Lampung saat itu, menjadi pusat semua aktivitas masal dari semua acara kegiatan. Pada waktu Universitas Lampung belum memiliki gedung serba guna sendiri, setiap acara wisuda sarjana selalu menggunakan Gedung Olah Raga Saburai; bahkan salah satu Guru Besar yang masih aktif saat ini, beliau adalah mahasiswa beprestasi (terbaik) tingkat universitas yang dilantik oleh Petinggi Pemerintahan saat itu, juga di lakukan di gedung ini.

Pada saat hari raya, Bbaik Idul Fitri maupun Idul Adha, lapangan yang ada digunakan untuk melaksanakan salat berjamaah. Sementara jika perayaan hari hari besar kenegaraan juga dilakukan di sini. Tampak sekali bagaimana peran dan fungsi fasilitas sosialnya. Bahkan wilayah daerah sekitarnya merupakan daerah elite pada zaman itu. Jika ada sanak saudara yang tinggal di sekitar daerah ini, ada rasa kebanggaan tersendiri.

Demikian juga anak anak mudanya, mereka memiliki persatuan yang kuat, dan juga merupakan salah satu di antaranya organisasi kepemudaan yang disegani. Jejak-jejak itu sampai kini masih ada pada ingatan mereka mereka yang hidup pada jaman sebelum delapanpuluhan, tentu saja tinggal sedikit jumlahnya, dan yang adapun usianya sudah tidak muda lagi.

Sekalipun daerah itu memiliki dua lapangan terbuka yang dimiliki oleh dua instansi berbeda, namun yang paling terkenal adalah lapangan Enggal sebagai icon Provinsi Lampung pada waktu itu. Sementara lapangan yang dimiliki oleh salah satu matra angkatan bersenjata republic ini, tidak beegitu terkenal, karena kekhasan sifat dan fungsinya, maka masyarakat kurang begitu tertarik dahulunya untuk beraktivitas di sana.

Seiring perjalanan waktu, masa berganti, kepemimpinan daerahpun silih berganti, jaman berganti, periodesasi berjalan terus; namun pergantian itu tidak beriring dengan kemajuan gedung bersejarah tadi. Pada tanggal dua mei tahun duaribu duapuluh dua, saat dilakukan penelitian mini dan singkat karena sambil lalu di saat libur lebaran, ditemukan kondisi fisik yang sangat memprihatinkan.
Kerusakan fisik terjadi di mana mana, tribune kebanggaan, tempat lapangan Basket tengah gedung, serta atap bangunan dalam kondisi hancur. Kesan kumuh ada di mana mana serta hancurnya atap membuat kerusakan semakin parah. Hal ini diperparah oleh keadaan lingkungan yang tampak semula ditata setengah hati, dengan berakhir membuat mirisnya hati.

Uang rakyat yang semula dari pajak daerah untuk pembangunan dan pemeliharaan, seolah hilang entah kemana rimbanya. Atau karena sudah ada Gedung Olah Raga Way Halim, sehingga perhatian tidak lagi kesana. Bisa jadi juga karena “ego pemimpin” yang dari atas sampai bawah gemar untuk tidak meneruskan apa yang sudah diperbuat pemimpin sebelumnya. Selalu ada di kepala mereka bahwa yang lama itu semuanya jelek dan harus diganti dan harus beda. Mereka lupa uang untuk membangun itu bukan uang nenek moyang akan tetapi uang rakyat yang harus dipertangungjawabkan dihadapan Tuhan.

Menurut informasi yang belum begitu valid kebenarannya, ada pengusaha tajir lampung yang ada di Jakarta, mantan menteri bahkan dengan menteri yang masih aktif, akan bergabung untuk membangun tempat peribadatan sebagai alih fungsi gedung olah raga menjadi tempat peribadatan. Tempat peribadatan itu sekaligus menjadi ikon baru bagi Provinsi Lampung.

Jika itu jadi pilihan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan: Pertama, ajak tokoh masyarakat Enggal untuk bermusyawarah guna mendapatkan masukan terutama disain bangunan. Hal ini diperlukan karena belajar dari pengalaman hasil pembangunan tidak bisa terpelihara keberlangsungannya karena ketidakadaan partisipasi masyarakat sekitar.

Kedua, belajar dari Sumatera Selatan, pimpinan daerahnya masuk penjara karena korupsi dana masjid. Untuk satu ini harus sangat hati-hati agar Lampung tidak menyusul, dan memang tidak harus disusul.

Ketiga, belajar dari Kota Lubuk Linggau Sumatera Selatan, mereka berhasil mengalihfungsikan Lapangan Merdeka yang semula jadi ikon kota, dialihfungsikan menjadi masjid yang indah dan megah, tanpa menyisakan masalah dan bahkan menjadi ikon kota yang luar biasa. Bahkan menjadi tujuan wisatawan setelah mereka naik ke Bukit Sulap, karena posisi letak yang strategis.

Keempat, jangan lupa ada lahan parkir bus untuk wisatawan, mengingat Lampung saat ini menjadi destinasi wisata bagi provinsi tetangga. Buatlah kondisi nyaman dan menyenangkan, jangan sampai terulang wisata di air panas di sutu tempat tertentu di Lampung beberapa waktu lalu, yang tempatnya kumuh sehingga wisatawan tidak akan pernah pingin kembali karena merasa tidak nyaman, terkesan jorok tak terurus.

Semoga yang diberi amanah untuk memajukan Lampung dapat membaca tulisan ini dengan kepala dingin dan tidak disertai prasangka buruk, Selamat Indul Fitri semoga Tuhan mengampuni.

Selamat ngopi pagi.

You cannot copy content of this page