Gravitasi Sosial

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu Ilmu Sosial di FKIP Unila

Beberapa saat yang lalu seorang shohib mengirimkan video burung yang menari nari kegirangan, kemudian terjerembab karena saking asyiknya menari sehingga tidak kontrol diri. Keterangan foto itu diberi komentar oleh sang sohib dengan satu kata yang menohok “mati gaya”. Terbersitlah membaca komentar tadi, kemudian membalas dengan satu komentar yang menohok dan tidak akan ditampilkan di sini. Akan tetapi kepenohokan itu membuktikan bahwa Gravitasi adalah sifat yang dititipkan oleh Sang Pencipta kepada makhluk ciptaanNya semua yang ada di alam semesta ini; termasuk manusia.

Sebelum lebih jauh membahas ada baiknya kita mengenali kembali apa itu Gravitasi. Dalam satu nukilan (diunduh pukul 06.00 WIB); Gravitasi atau gravitas (dari bahasa Latin gravitas, berarti “berat”, adalah fenomena alam di mana semua hal yang memiliki massa atau energi di alam semesta—termasuk planet, bintang, galaksi, dan bahkan cahaya saling tarik-menarik satu sama lain. Di bumi, gravitasi menyebabkan benda fisik memiliki berat, gravitasi Bulan menyebabkan air laut pasang laut, dan gravitasi matahari mengakibatkan planet dan beragam objek lainnya berada pada orbitnya masing-masing tata surya. Gaya gravitasi dari materi di ruang angkasa yang ada di alam semesta menyebabkan materi tersebut mulai berkumpul, membentuk bintang dan menyebabkan bintang-bintang tersebut berkumpul membentuk galaksi, sehingga dapat dikatakan struktur berskala besar dalam alam semesta diciptakan oleh gravitasi. Gravitasi memiliki bentang nilai tak terbatas, walaupun efeknya akan semakin melemah seiring suatu objek berjarak semakin jauh.

Pada fisika modern paling akurat mendeskripsikan gravitasi menggunakan teori relativitas umum yang diajukan oleh Albert Einstein pada tahun 1915, yang menjabarkan gravitasi bukan sebagai sebuah gaya, namun sebagai konsekuensi dari massa yang bergerak “lurus” dalam sebuah kelengkungan ruang-waktu yang disebabkan oleh distribusi massa yang tidak merata. Contoh paling ekstrim dari kelengkungan ruang-waktu tersebut adalah lubang hitam, di mana tiada suatu benda apapun, bahkan cahaya, dapat lolos begitu ia melewati horizon peristiwa lubang hitam. Namun, untuk kebanyakan kasus, gravitasi dapat dijelaskan oleh hukum gravitasi universal Newton yang lebih sederhana. Newton menjabarkan gravitasi sebagai sebuah gaya yang menyebabkan dua benda fisik untuk saling tarik-menarik satu sama lainnya, dengan daya yang sebanding dengan massa yang dihasilkan dan berbanding terbalik dengan jarak di antara kedua benda dikuadratkan. Beberapa teori yang belum dapat dibuktikan menyebutkan bahwa gaya gravitasi timbul karena adanya partikel graviton dalam setiap atom.

Lalu bagaimana dengan manusia ? Hal ini menjadi menarik karena pada pergaulan antarmanusia juga mempraktekkan langsung teori diatas melalui Sociometri; yaitu metode kualitatif untuk mengukur hubungan sosial. Ini dikembangkan oleh psikoterapis Jacob L. Moreno dan Helen Hall Jennings dalam studi mereka tentang hubungan antara struktur sosial dan kesejahteraan psikologis.

Jejaring sosial itu terbentuk dari adanya gaya gravitasi yang terbangun akibat diberlakukannya birokrasi. Pimpinan tentu menjadi sumbu semua arah panah baik yang menerima maupun sebagai pemberi. Dan bentuk akhirnya adalah jaringan sosial yang memberlakukan “kita, mereka, kami, dan dia”. Dengan kata lain ada pembeda orang dalam lingkaran dan luar lingkaran.

Jejaring sosial ini akan dipelihara oleh Sang Pemimpin guna “meneguhkan” kepemimpinannya, tentu dengan berbagai cara yang dapat ditempuh, diantaranya: Pertama, berbagi kekuasaan; maksudnya peneguhan tadi akan ditopang oleh orang orang setia sang pemimpin, untuk menjaga agar tetap setia dan loyal; maka diberilah kekuasaan. Cara seperti ini sudah ada sejak jaman Majapahit – Sriwijaya , apalagi Mataram. Semula kekuasaan ini berupa wilayah fisik, dan pada masa itu dikenal adanya tanah perdikan; yaitu tanah atau wilayah pemberian Raja kepada seseorang yang dianggap paling berjasa. Untuk zaman modern itu diganti dengan jabatan utama setelah pimpinan, apapun namanya, sesuai dengan label birokrasinya.

Kedua, berbagi pendapatan; maksudnya adalah memberi “bebono” (dana cuma-cuma) kepada para pengikut sesuai posisi lingkar dari masing masing orang. Makin dekat garis lingkar pada pemimpin, maka “bebono” yang diberikan semakin besar, semakin jauh posisi lingkaran, kucuran bebono semakin kecil.

Ketiga, terbangunnya sub-ordinat: maksudnya adalah masing masing orang yang ada pada posisi lingkar satu dihadapan Pemimpin utama, masing masing mereka memiliki “gerbong” sebagai subordinat. Ciri mereka ini adalah “sendiko dawuh” (Siap Perintah) jika yang memerintah pimpinan tertinggi ordinatnya. Mereka inilah merupakan barisan “Sabaya Pati Sabaya Mukti” yang pernah ditulis pada Media ini tgl 4 Oktober 2021 lalu. Mereka juga tidak taat kepada Ordinat lain, walaupun satu garis, lebih gila lagi mereka lebih Siap Perintah kepada Pimpinan Ordinat dibandingkan dengan Pimpinan Tertinggi. Dalam bahasa Mataraman kelompok ini bersemboyan “Ti ji Ti Beh” (mati siji mati kabeh = mati satu mati semua). Semangat Boshido ala kita barang kali lebih tepat dilabelkan kepada mereka.

Pertanyaan lanjut bagaimana menjaga daya gravitasi sosial ini ? pada umumnya mereka menggunakan cara cara konvensional, seperti saling mematamatai antara satu dengan yang lain, baik sesama anggota kelompoknya atau orang lain yang posisinya ada pada wilayah abu abu, atau dicurigai mendua. Dalam bahasa Mataraman disebut “mangro tingal” artinya orang yang sewaktu waktu bisa jadi kutu loncat atau tidak berpendirian. Di sini banyak berkeliaran “penjilat penjilat” jabatan, keuntungan dan apa lagi namanya yang berprisip seperti yang dikatakan oleh Orang Minang “mangguntieng dalam lipatan, manusuak teman seiring”. (maaf jika kurang tepat penulisan diksinya pada teman teman dari Minang); Ini banyak diperankan oleh para matamata tadi guna menyelamatkan “priuk nasi dan kursi”.

“Daya Magnet” yang dibangun oleh Sang Pemimpin ini, sudah menjadi hukum sosial bahwa di antara ordinat yang ada bisa dipastikan ada yang menjadi pecundang. Tampak muka sebagai pahlawan, namun tampak belakang adalah penghianat sejati. Inipun berlaku pada subordinat, subsubordinat dan seterusnya. Mereka pandai bermain muka sehingga tampak santun, sebenarnya racun.

Pemimpin utama sering tidak jeli atau malah terbuai dari ayunan yang memang diciptakan oleh para pecundang ini untuk mengambil untung bagi dirinya. Lebih parah lagi jika para pecundang ini melakukan dengan sangat halus melalui pihak ketiga. Tentunya hasilnya menjadi luar biasa.

Peluang kejadian di atas sangat besar jika periodesasi Pemimpin Utama di batasi. Makin dekat waktu menuju finis; maka ordinat dan subordinat makin mengeras dalam membentuk jaringan. Penghianatan, transaksional, perjanjian kontrak sosial, dan lain lain sejenisnya sangat mudah dilakukan dan dijadikan alat untuk menghimpun pengikut dan pemilih pada lembaga pilihan, apapun namanya.

Analisis di atas sifatnya berlaku umum dan berada pada wilayah Ontologi; jika pada aplikasinya terjadi penambahan dan pengurangan; hal itu wajar, karena sudah masuk pada wilayah Kajian Keilmuan.

Selamat menikmati Kopi Panas….

 

 

  • Bagikan