Beranda Views Jejak Gua Maria Padang Bulan, “Lourdes Van Lampung”

Gua Maria Padang Bulan, “Lourdes Van Lampung”

783
BERBAGI
Patung Bunda Maria di kompleks wisata Padang Bulan (Foto Christian Heru)

Christian Heru Cahyo Saputro

ANDA ingin berziarah ke Gua Maria? Kalau kantong cekak, tak meski harus jauh-jauh ke Lourdes di Prancis. Gua Maria Padang Bulan, Kabupaten Pringsewu, Lampung, bisa dijadikan salah satu destinasi pilihan wisata ziarah Anda.

Gua Maria yang menyandang nama Maria Perempuan Untuk Semua Manusia ini sering dijuluki para peziarah Lourdes Van Lampung karena tak kalah indahnya dengan Lourdes yang asli di Perancis. Jadi, tak bakalan menyesal kalau menjadwalkan Gua Maria Padangbulan menjadi tujuan wisata ziarah Anda mendatang.

Lourdes di Perancis adalah destinasi wisata ziarah umat katolik paling terkenal di dunia. Tempat ziarah Gua Maria Lourdes diyakini umat katolik merupakan petilasan penampakan bunda Maria.

Berziarah bagi umat Katholik merupakan salah satu ungkapan devosi kepada bunda Maria. Umat Katholik meyakini devosi kepada Maria merupakan jalan dalam mengungkapkan, menghayati, merenungkan, serta mendekatkan diri kepada Allah.

Di Indonesia juga banyak destinasi wisata ziarah umat katholik salah satunya adalah Gua Maria, Padang Bulan, Pringsewu, Lampung. Di kawasan ini Anda bisa retreat dan tetirah menggembalakan rohani yang lelah di dera kehidupan hedonisme.

Muasal Padang Bulan

Padangbulan–dalam bahasa Jawa berarti terang bulan– adalah nama sebuah desa berbukit di wilayah Kelurahan Pajaresuk, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Tanggamus. Dalam struktur Gereja, Padangbulan termasuk di dalam wilayah Paroki Santo Yusuf, Pringsewu.

Jarak Padangbulan dari kota Pringsewu sekitar tiga kilometer saja. Keistimewaan tempat ini yakni alami, masih banyak pepohonan besar yang dipertahankan sehingga jauh dari polusi udara dan kebisingan jalan raya. Selain itu, di sekitarnya masih banyak sawah-sawah yang produktif, sehingga menambah keasrian pemandangan yang hijau segar di musim tanam dan kuning melambai bila musim panen tiba.

Menurut sejarahnya, desa Padangbulan dibuka sekitar tahun 1930-an ole Pemerintah Belanda dengan program kolonisasi istilah sekarang transmigrasi. Di daerah ini ketika itu cukup banyak bermukim umat Katholik. Mereka ini adalah orang-orang Katholik yang aktif.

Kegiatan peribadatan dan juga kerohaniannya cukup semarak. Hari Minggu menjadi Hari Tuhan yang dikhususkan. Jumat pertama menjadi hari kebaktian Hati Kudus yang dihidupi. Maka tak mengherankan bila waktu itu keguyuban jemaat dan keakraban dalam masyarakat sungguh sangat terasa.

Persitiwa yang terjadi pada tahun 1948, merupakan titik penting sejarah Padangbulan. Ketika itu Agresi Militer Belanda Kedua. Terjadilah ketegangan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda yang membonceng NICA untuk kembali menguasai Indonesia.
Perundingan demi perundingan diupayakan, namun akhirnya terjadi clash yang tak terselesaikan.

Belanda menyerbu daerah Lampung termasuk juga Pringsewu. Pringsewu sebagai pusat misi menjadi fokus perhatian. Pastor Padmoseputro Pr. sebagai Pastor Paroki pada waktu itu, mengajak umat katolik meninggalkan Pringsewu. Sikap ini untuk memperlihatkan kalau Gereja Katolik merupakan bagian integral bangsa Indonesia; Selain itu juga, Gereja tidak mau bekerja sama dengan tentara Belanda yang menyerbu Pringsewu untuk menjajah kembali.

Padahal Gereja tidak mendapatkan hambatan sama sekali dari Belanda pada waktu itu. Namun seandainya tidak meninggalkan Pringsewu, tentu saja akan meneguhkan kedudukan Belanda. Mereka dapat saja beranggapan bahwa Gereja Katolik tidak berkeberatan terhadap agresi tersebut.

Atas saran umat di Padangbulan, pada tahun 1949, pastor, suster, guru-guru, anak-anak asrama juga umat katolik Pringsewu diminta mengungsi ke Padangbulan agar dekat dengan tentara Indonesia. Saran yang baik itu ditanggapi secara positif. Mereka diterima oleh keluarga Prawirodikromo, Martodiharjo, Kariyopawiro, Cokrorejo, dan Renosentoso.

Sedangkan tentara Indonesia berada di seberang Sungai Way Semah. Karena jarak yang dekat ini, pada malam hari sering kali mereka menemui Romo Padmo untuk meminta saran dalam menghadapi situasi saat itu. Demikian juga dengan para pejuang yang terluka, sering kali mereka meminta pengobatan kepada para suster.