Beranda News Bandarlampung Gunawan Handoko: Proyek Jalan Layang Harus dengan Perencanaan Matang

Gunawan Handoko: Proyek Jalan Layang Harus dengan Perencanaan Matang

373
BERBAGI
Walikota Herman HN didampingi mantan Walikota Bandarlampung Thabranie Daud (berpeci) meresmikan jalan layang ruas Jl Ir Juanda-Jl Gajahmada, 31 Desember 2013 lalu.

Teraslampung.com — Mantan Kabid Perencanan Dinas PU Kota Bandarlampung Gunawan Handoko mengatakan, selain memiliki dampak positif mengurai kemacetan lalu lintas, keberadaan jalan layang (fly over juga) berdampak negatif terhadap masyarakat dan lingkungan. Sebab itu, menurut Gunawan, perencanaanya harus matang dan ada sosialisasi kepada masyarakat.

“Dampak negatif yang paling berpengaruh untuk radius 0-25 meter adalah polusi udara, sedangkan radius 26-50 meter adalah dampak kebisingan dan getaran terhadap gangguan tidur. Dan yang paling dikhawatirkan, pada radius 51-75 meter adalah terganggunya kesehatan akibat polusi udara,” katanya, Sabtu (6/2/2016).

Menurut Gunawan, terkait dengan permasalahan kemacetan yang terjadi antara Rajabasa sampai Tanjungkarang, karena belum adanya jalan alternatif bagi kendaraan pribadi roda 4 maupun roda 2 antara Rajabasa menuju pusat kota, sehingga semua menumpuk di Jalan  ZA Pagar Alam dan Jalan Teuku Umar.

“Sementara di jalur ini telah padat dengan kendaran umum, baik angkot dan bus kota. Diperparah lagi dengan munculnya beberapa pusat perbelanjaan di kawasan yang seharusnya menurut tata ruang yang ada merupakan kawasan pendidikan,” katanya.

Sebagai alternatif, kata Gunawan, ada baiknya Pemerintah Kota Bandarlampung untuk membangun jalur tengah, yakni dengan melakukan pelebaran Jalan Pajajaran, dimulai dari Stasiun KA Tanjungkarang, diambil sejajar dengan jalur rel kereta api sampai dengan stasiun Labuhan Ratu.

Gunawan mengatakn, kalaupun pihak Pemerintah Kota Bandarlampung  harus mengeluarkan biaya untuk ganti rugi terhadap tanah, tanam tumbuh dan bangunan, nilainya relatif kecil, mengingat sebagian besar lahan yang akan terkena pelebaran merupakan tanah milik negara/PTKA.

“Kita tidak perlu memaksakan diri untuk membangun fly over, apalagi jika harus menggunakan dana APBD. Kita perlu belajar dari beberapa negara yang sudah me­ninggalkan tradisi menambah jalan layang ini, seperti New Del­hi (India) dan sebagian negara Ame­rika Latin,” katanya.

Menurut Gunawan, hal semacam itu  juga terjadi di kota-kota Asia lainnya seperti di Seoul, Ko­rea Selatan.

Gunawan Handoko mencontohkan, pada 1968, untuk me­ngatasi kemacetan pemerintah Ko­rea Selatan membangun jalan layang. Namun selama 35 tahun kemudian, ternyata masalah ke­macetan tak kunjung hilang. Selain itu, keberadaan fly over juga menimbulkan lingkungan dan merusak keindahan wajah kota. Akhirnya mereka meruntuhkan jalan layang itu dan mengem­ba­likan fungsi sebagaimana semula.

“Pembangunn  fly over harus dengan kajian yang matang, khususnya dari DPRD Kota Bandarlampung. Kajian bukan hanya terkait dengan besarnya biaya yang tidak sedikit jumlahnya, namun juga lamanya waktu pelaksanaan. Diyakini, pada saat proyek jalan layang non-tol  atau fly over di kawasan Jalan Teuku Umar sampai Rajabasa dalam proses pengerjaan, justru akan menambah kemacetan lalulintas, baik yang disebabkan oleh alat-alat berat yang memakan badan jalan, khususnya pada jam-jam sibuk,” katanya.

Gunawan menyarankan, pabila Pemkot Bandarlampung tetap akan membangun fly over, maka perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat, seperti apa bentuk fly over yang akan dibangun.

Menurut Gunawan, jauh hari sebelum pembangunan, masyarakat sudah dapat melihat wujud jadi jembatan/jalan layang tersebut dalam bentuk foto tiga dimensi.

Dengan demikian, kata dia, setiap orang yang lewat terbayang dalam pikirannya akan wujud jadi jalan layang ini. ‘Beginilah bentuk bangunan spektakuler yang akan dibangun, termasuk hal-hal yang bersifat teknis’. Contoh, konstuksinya akan menggunakan balok U, dimensinya sekian, untuk penyambungan balok U akan mencapai beban sekian ton, dan sebagainya.

“Saya kira pihak-pihak yang terkait bisa mensosialisasikan tentang pembangunan fly over ini, serta segala dampak yang bakalan timbul selama masa pembangunannya,” katanya.

Pembangunan fly over di perkotaan, kata Gunawan, sering menimbulkan perubahan kondisi lingkungan yang merugikan dan berdampak negatif bagi masyarakat dan pengguna lalu lintas di sekitarnya.

“Salah satu penyebab munculnya dampak negatif tersebut adalah konsekuensi dari metode konstruksi struktur atas yang dipakai. Dampak negatif tersebut antara lain kemacetan lalu lintas, kebisingan, kecelakaan, dan lain sebagainya,” kata dia.