Beranda News Lampung Gunung Anak Krakatau Erupsi, Wisatawan Diimbau Tidak Lewati Jarak Aman 2 Km

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Wisatawan Diimbau Tidak Lewati Jarak Aman 2 Km

609
BERBAGI
Erupsi Krakatau (dok PVMBG)

TERASLAMPUNG.COM — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi pukul 07.58 WIB, Senin (30/12/2019). Bahkan, semburan abu mencapai 2.000 meter. Erupsi sebelumnya juga terjadi pada Minggu, 29 Desember 2019.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kasbani mengatakan, erupsi ini adalah hal yang biasa.

“Pada 07.58 WIB terjadi erupsi ya dengan ketinggian sekitar 2.000 meter tapi ini warnanya putih keabu-abuan dan juga ini sebenarnya tidak apa-apa dan siangnya ada lagi tapi sebenarnya ini adalah hal yang biasa ya,” kata Kasbani di Gedung BNPB, Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur, Senin.

Menurut dia, saat ini Gunung Anak Krakatau berada di Level II (Waspada). Oleh karena itu, lanjut dia, potensi erupsi masih mungkin terjadi.

“Gunung Anak Krakatau ini masih dalam level II waspada dan potensi erupsi masih mungkin terjadi dan gunung api ini masih dalam fase membangun ya dan jarak radius amannya 2 kilometer dan selama jaraknya di luar radius itu tidak masalah ya,” ujar Kasbani.

Untuk itu, PVMBG menghimbau masyarakat tidak mendekati Gunung Anak Krakatau pada radius 1-2 kilometer agar tidak terkena dampak erupsi.

“Karena nanti bisa terdampak adanya lontaran batu pijar, terus kemudian juga abu pekat, dan lontaran pasir dan sebagainya,” tambah Kasbani.

Selain itu, menurut Kasbani, erupsi Gunung Anak Krakatau tidak menimbulkan ancaman apapun terhadap aktivitas masyarakat sekitar.

“Tidak bahaya karena ini tidak ada peningkatan yang signifikan, karena masih di level dua belum sampai ke level tiga artinya ancamannya masih sama pada jarak yang dua kilometer itu, tidak boleh masuk di wilayah yang dua kilometer itu,” kata Kasbani.

Meski demikian, dia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan dapat melakukan aktivitas seperti biasa.

“Masyarakat tetap tenang ya, beraktivitas seperti biasa selama tidak masuk dalam radius dua kilometer, itu saja. Kami dari Badan Pusat Vulkanologi selalu memantau kondisi perkembangan gunung itu setiap saat,” ujar Kasbani.

Dia menjelaskan, PVMBG mempunyai pos pemantauan yang memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan baik. Ia juga menyebut turis pun tidak masalah berada sekitar di Gunung Anak Krakatau.

“Jadi gunung itu terpantau dengan baik jadi masyarakat jangan khawatir dan tetap beraktivitas seperti biasa dan jangan mengikuti berita-berita yang bukan dari sumber aslinya. Turis pun tidak masalah yang penting tidak masuk di wilayah dua kilometer itu,” katanya.

Data ESDM Tidak Update

Meskipun erupsi terjadi pada Senin pagi (30/12/2019), laman Badan Geologi Kementerian ESDM merilis, tingkat aktivitas Level II (Waspada) pada Senin malam masih menampilkan data 29 Desember 2019. Padahal, dari data postingan terlihat bahwa konten diunggah pada 30 Desember 2019. Artinya, Badan Geologi tidak memperbarui data (update).

Menurut Badan Geologi, sejak 25 Maret 2019. G. Anak Krakatau (157 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018 dan diikuti rangkaian erupsi pada periode September 2018 hingga Februari 2019. Letusan terakhir terjadi pada tanggal 29 Desember 2019 menghasilkan tinggi kolom erupsi 200 m dari dasar kawah. Warna kolom abu teramati putih hingga hitam.

Gunung api tertutup Kabut. Melalui CCTV teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tipis hingga tebal, tinggi sekitar 25-200 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga mendung, angin lemah ke arah timur. Suhu udara sekitar 24.9-30°C. Kelembaban udara 47 – 54%.

Melalui rekaman seismograf pada 29 Desember 2019 tercatat: 1 kali gempa Letusan
11 kali gempa Low Frequency, Tremor Menerus, amplitudo 5-55 mm (dominan 23 mm)

“Masyarakat/wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah,” kata Badan Geologi.

VONA terakhir terkirim kode warna ORANGE, terbit tanggal 29 Desember 2019 pukul 18:32 WIB. Berkaitan dengan erupsi yang teramati melalui CCTV menghasilkan kolom erupsi berwarna putih –hitam tebal setinggi 207 m di atas permukaan laut atau sekitar 50 m di atas puncak. Kolom erupsi bergerak ke arah utara.

Liputan6.com