Beranda News Lampung Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Waspada

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Waspada

261
BERBAGI
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi
Kondisi Gunung Anak Krakatau lewat udara yang terus mengalami erupsi pada Ahad, 23 Desember 2018. Pada Sabtu, 22 Desember 2018, secara visual teramati letusan dengan tinggi asap berkisar 300 sampai 1.500 meter di atas puncak kawah. TEMPO/Syafiul Hadi

TERASLAMPUNG.COM — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis kondisi terakhir  Gunung Anak Krakatau saat ini dalam status level II atau Waspada. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menyatakan sejak Senin hingga Selasa siang (31/12/2019) Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu teramati lebih kurang 1.000 meter di atas puncak atau 1.157 meter di atas permukaan laut.

“Rekomendasi masyarakat dan wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo dalam keterangannya, Selasa, 31 Desember 2019.

BNPB mengimbau wisatawan yang akan berlibur ke pantai sekitar Banten dan Lampung untuk mematuhi anjuran PVMBG. Wilayah sekitar pantai yang berjarak lebih dari 2 kilometer dari Gunung Anak Krakatau dinyatakan aman untuk dikunjungi.

“Tetap harus waspada dan mengikuti informasi dari PVMBG, BMKG, BPBD dan BNPB,” katanya.

Menurut Agus, Bupati Pandeglang dan Serang sudah menginformasikan hal ini kepada media agar diketahui oleh masyarakat luas. Adapun seluruh jajaran seperti BPBD, Camat, Kepala Desa, Lurah, dan petugas lapangan diminta selalu siaga.

“Disiagakan Pos Lapangan Kabupaten Serang di Pantai Anyer, Pos Lapangan Kabupaten Pandeglang di Shelter Labuan, dan Pos Lapangan Kabupaten Lebak di Pantai Bagedur,” ucap dia.

Agus menuturkan BMKG sudah mengoperasikan 12 sensor seismik di Selat Sunda untuk mempercepat info gempa dan peringatan tsunami. Ada pula empat radar tsunami dan tujuh water level untuk deteksi tsunami, selain itu ditambah delapan tide gauge oleh BIG, dua waterlevel ISDL oleh KKP dan satu Buoy oleh BPPT.

“Untuk setingkat kawasan lokal Selat Sunda, sistem mitigasi yang dibangun ini adalah yang paling lengkap, tidak saja di Indonesia, tetapi bahkan dunia,” katanya.

Tempo

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaTahun Baru, Saatnya Membakar Mantan
Artikel berikutnyaPresiden Jokowi Resmikan Bendung Kamijoro di Kulonprogo
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya