Beranda News Lampung Gunung Anak Krakatau Meletus, Ini Pengakuan Warga Pulau Sebesi

Gunung Anak Krakatau Meletus, Ini Pengakuan Warga Pulau Sebesi

579
BERBAGI
Letusan Gunung Anak Krakatau dalam tangkapan layar CCTV, Kamis malam (10/4/2020). Sumber: PVMBG

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN--Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Jumat malam 10 April 2020 meletus sebanyak 2 kali. Letusan GAK tersebut menyemburkan abu vulkanik tebal hingga abunya sampai ke rumah warga Desa Pulau Sebesi yang berjarak sekitar 19 kilometer dari GAK yang berada di Selat Sunda.

BACA: Gunung Anak Krakatau Meletus, Warga Pesisir Kalianda Mengungsi

Salah seorang warga Pulau Sebesi, Indra (35) saat dihubungi melalui ponselnya mengatakan, letusan pertama Gunung Anak Krakatau itu terjadi sekitar pukul 21.58 WIB. Saat GAK ini meletus, abu tebalnya secara bersamaan langsung ikut menyembur keatas.

“Abunya itu tebal banget, mulai dari jam 12 malam abu tebal itu turun bahkan abunya ini mas sampai didepan rumah. Sampai pagi ini pun, abunya masih ada di depan rumah,”kata Indra kepada teraslampung.com, Sabtu (11/4/220).

Indra mengutarakan, letusan GAK itu pertama terjadi sekitar pukul 21.58 WIB, dan suara dentumannya keras sekali bahkan rumah yang ditempatinya sampai bergetar. Sekitar satu jam kemudian sekitar pukul 22.33 WIB, kembali terdengar suara letusan dari GAK tersebut lalu disusul dengan suara letusan kecil-kecil sekitar pukul 23.10 WIB.

“Suara dentuman keras dari GAK itu kalau yang yang saya dengar itu dua kali, setelah itu baru suara letusannya kecil-kecil,”bebernya.

Khawtir terjadi sesuatu, kata Indra, ia bersama keluarganya dan warga lainnnya yang tinggal tidak jauh dari bibir pantai di Desa Pulau Sebesi langsung pergi mengungsi ke tempat yang lebih aman karena takut seperti kejadian gelombang tsunami akibat letusan GAK seperti yang terjadi sebelumnya.

BACA: Gunung Anak Krakatau Meletus, Dentuman Suaranya Terdengar Hingga Jakarta

“Takut ada tsunami, makanya warga banyak yang mengungsi. Pagi ini, ada warga yang kembali ke rumah mereka untuk melihat kondisinya. Tapi kalau saya sendiri, masih mengungsi”terangnya.

Selain warga Pulau Sebesi, akibat letusan GAK yang sangat kuat dentumannya tersebut membuat warga yang tinggal di pesisir pantai Kalianda Lampung Selatan seperti Desa Way Muli, Way Muli Timur, Kunjir dan desa lainnya mengungsi ke lokasi yang lebih tinggi karena khawatir terjadi tsunami.

“Mulai dari semalam warga di pesisir Kalianda langsung mengungsi naik ke atas gunung rajabasa, warga masih trauma karena kejadian gelombang tsunami yang belum lama ini terjadi,”kata Mul salah seorang warga Way Muli melalui ponselnya kepada teraslampung.com.

Mul mengatakan, petugas BPBD Lamsel mulai dari semalam keliling patroli menggunakan mobil rescue sembari memberikan pengumuman, warga diminta untuk tetap tenang karena aktivitas GAK sudah reda. Kepala desa dan Camat yang juga berada di lokasi, ikut memberikan arahan kepada warga agar tidak panik.

“Saat warga pergi mengungsi, turut dibantu petugas dari TNI dan Polri yang bersiaga di lokasi untuk mengevakuasi warga,”pungkasnya.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, letusan GAK terjadi sebanyak dua kali pada Jumat malam (1/4/2020). Letusan pertama, terjadi sekitar pukul 21.58 WIB dengan estimasi kolom abu mencapai ketinggian 357 meter diatas permukaan laut. Kemudian letusan kedua terjadi sekitar pukul 22.35 WIB, dengan estimasi kolom abu mencapai ketinggian 657 meter diatas permukaan laut.

Dentukan Keras Bukan dari Gunung Anak Krakatau

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMB) menyatakan suara dentuman yang terdengar pada Sabtu dini hari (11/4/2020)i tidak terkait dengan erupsi Gunung Anak Krakatau. Suara dentuman itu diketahui beberapa kali terdengar dini hari ini

“Bukan (berasal dari Anak Krakatau), karena letusannya dikategorikan miskin akan gas, lebih bersifat aliran,” kata Kepala Bidang Gunung Api PVMBG Hendra Gunawan, dilansir  detikcom, Sabtu (11/4/2020).

Menurut Hendra, tidak terdengar bunyi letusan dari Gunung Anak Krakatau sejak semalam. Letusan Gunung Anak Krakatau ini dinilai Hendra relative kecil.

“Saya sudah cek ke Pos Penganatan Gunung Anak Krakatau di dekat Pantai Carita, tidak terdengar bunyi letusan sejak kemarin malam. Karena memang letusannya relatif kecil (tinggi letusan 600-an meter dari muka air laut),” jelas Hendra.

Loading...