Beranda Views Jejak Gunung Sari, Kini Menjadi Permukiman Padat

Gunung Sari, Kini Menjadi Permukiman Padat

586
BERBAGI
Sebagian Kota Tanjungkarang dari puncak Gunung Sari

Isbedy Stiawan ZS | Teraslampung.com

Bandarlampung—Meski banyak nama kampung memakai nama gunung, tapi hanya Gunung Sari benar-benar sebuah pemumikan di tubuh gunung (baca: bukit).

Kalau Gunung Terang, Gunung Sugih, Gunung Katun, dan masih banyak lagi nama perkampungan, tapi wilayah itu tidak berada di gunung.

Gunung Sari kini lebih padat penduduknya. Sulit mencari lahan kosong, termasuk pula pepohonan. Sejak kaki gunung, pinggang, leher, sampai puncak Gunung Sari sudah dipenuhi rumah tinggal.

Awalnya daerah ini masuk wilayah Kampung Sawah, sekarang bagian dari Kecamatan Tanjungkarang Pusat. Dari hanya sebuah desa, sekarang menjadi Kelurahan Gunung Sari.

Wilayah kelurahan ini termasuk Ramayana Jalan Radin Intan dan Jalan Pemuda, Jalan Dipo, Bambu Kuning Square, dan Stasiun Tanjungkarang.

Jika luas Kelurahan Gunung Sari mencapai 16,8 hektare, sedangkan Gunung Sari sendiri tak sampai segitu meskipun datanya tak ada di kelurahan.

Kelurahan Gunung Sari merupakan salah satu pusat bisnis di Kota Bandarlampung. Kantor kelurahan berada di Jalan Teuku Umar No. 4,  bersebalahan dengan Koramil.

Di Kelurahan Gunung Sari ada pusat perbelanjaan Ramayana—Terminal Pasar Bawah, Bambu Kuning Square (BKS), Stasiun Tanjungkarang, Masjid Taqwa, Gereja Katedral Kristus Raja, Kantor Pos Tanjungkarang.

Selain itu, pertokoan di Pasar Tengah, Jalan Radin Intan, serta bisnis di sepanjang Jalan Teuku Umar hingga Jalan Kota Raja.

Meski dulunya dikhawatirkan terjadi musibah longsor lantaran penduduknya padat, kenyataannya daerah ini maju pesat. Kelurahan ini, tentu saja, diuntungkan sebab berada di pusat Kota Tanjungkarang.

Kelurahan Gunung Sari dihuni oleh beragam etnis dan agama. Daerah ini kaya akan sejarah, dan diakui sebagai salah satu pusat bisnis di Bandarlampung.

Salah satu sejarah yang tak bisa dihilangkan, bagaimana kawasan perbukitan bernama Gunung Sari pertamakali dijadikan pemumikan oleh warga pada masa kolonial Belanda.

Berada di atas Gunung Sari, kita bisa melihat wajah sebagian Kota Tanjungkarang. Sedangkan dari bawah, Gunung Sari sudah sangat penuh oleh rumah penduduk.

Beberapa pintu untuk sampai ke Gunung Sari, yakni dari samping Kantor Kelurahan, satunya dari sebelah kiri Masjid Taqwa Jalan Kota Raja, lalu bagian Barat atau masuk dari Stasiun Tanjungkarang, serta dari Jalan Dipo.

Bagaimana pertama kali warga menempati daerah ini? Genenerasi awal yang singgah ke Gunung Sari, diperkirakan pada masa penjajahan Belanda.

Saat itu, setiap warga yang datang ke sini langsung meng-kaveling lahan lalu membangun rumah sederhana. Dimulai dari bagian kaki Gunung Sari, khususnya di daerah yang sekarang disebut Jalan Dipo.

Almarhum Kasan, konon merupakan generasi pertama menempati Gunung Sari. Sekitar tahun 1940, Kasan membangun rumah di kaki Gunung Sari.

Menurut cucu Kasan, Subhi, saat itu baru beberapa rumah di sini. Mereka membangun tempat tinggal di bagian kaki gunung, karena menganggap lahan di sini tidak bertuan.

Setelah itu berdatangan warga lain, dan ikut membangun rumah pula. Setiap warga yang hendak membangun rumah dengan bebas memilih lokasi.

Lahan pun seperti tak berharga. Sehingga warga yang lebih dulu menetap dan memiliki tanah lumayan luas, bisa menyerahkan ke orang lain yang membutuhkan. Tentu saja dengan cuma-cuma.

gunung sariPada tahun 1940-an, Gunung Sari masih penuh pohon bambu. Bahkan pada bagian bukit, adalah hutan belantara. Hewan, seperti monyet ataupun binatang buas, juga masih berkeliaran.

Suasana di situ pada malam hari dipastikan gelap gulita. Sehingga benar-benar senyap. Satu-satunya penerang adalah lampu minyak tanah.

Sebelum menetepkan lahan untuk tempat tinggal, warga harus terlebih dulu membabat hutan serta menebangi pohon bambu. Lalu dibangunlah rumah berdinding geribik dan beratap rumbia.

Sementara keluarga Mbah Sudarmi diduga sebagai generasi berikut yang menetap di Gunung Sari. Perempuan berusia 96 tahun pada tahun 2012 lalu, datang dan membangun rumah di situ setelah suaminya dipindahkan tugas dari Gedongtatatan.

Mbah Sudarmi menempati kaki Gunung Sari di bagian Barat (kini Jalan Dipo) pada awal tahun 1950. Dia termasuk saksi sejarah Gunung Sari saat kini.

Suami Mbah Sudarmi adalah TNI. Saat mutasi dari Gedongtatan ke Tanjungkarang pada awal tahun 1950, keluarga Sudarmi membangun rumah di bagian bawah Gunung Sari.

Sebagai isteri prajurit, Sudarmi tidak takut tinggal di Gunung Sari yang saat itu belantara dan binatang buas masih berkeliaran. Apalagi setiap malam rumah Sudarmi tak pernah sepi. Teman-teman suaminya yang kini sudah almarhum, kerap bertandang. Itulah yang menguntungkan, sehingga tak begitu khawatir.

Dari kaki, menuju lereng Gunung Sari demikian warga mendirikan tempat tinggal di kawasan yang semula milik PJKA (PT KA). Kini, di puncak pun sudah penuh bangunan rumah. Anak-anak tak punya lahan untuk sekadar bermain.

Rumah warga di paling atas dibangun tahun 1980 sampai 1984. Diperkirakan inilah rumah terakhir yang bisa dibangun di kawasan perbukitan ini.

Artinya, dalam rentang 44 tahun, atau dari tahun 1940-an sampai tahun 1984-an, Gunung Sari bergeliat. Setahap demi setahap, warga menempati lahan kosong dari kaki hingga puncak Gunung Sari.

Untuk mencapai pemukiman penduduk di puncak Gunung Sari, maka dibuat jalan kecil berbentuk tangga. Hanya kendaraan roda dua bisa naik, itu pun tidak sampai ke puncak. Motor diparkir di bagian bawah, atau dititip pada warga yang memunya teras—kalau tidak diletakkan begitu saja di jalan kecil.

Dapat dibayangkan, sekiranya warga yang berada paling tinggi ingin turun atau sebaliknya. Lebih-lebih seandainya membutuhkan air bersih pada musim kemarau.

Inilah Gunung Sari…