Beranda News Pertanian Gurihnya Hasil Budi Daya Lele

Gurihnya Hasil Budi Daya Lele

225
BERBAGI
Barokah di dekat kolam ikan gurame (Teraslampung.com/Mashuri)

Mashuri Abdullah/Teraslampung.com

LAMPUNG TIMUR—Diversifikasi sumber mata pencaharian bagi petani menjadi solusi untuk meningkatkan pendapatan.  Menggantungkan asa dari hasil bertani sawah tidak lagi dilakukan bagi sebagian petani. Terlebih bagi petani gurem dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektare.

Hasil dari bercocok tanam padi hanya cukup, bahkan terkadang kurang untuk makan. Sementara untuk kebutuhan hidup lainnya seperti biaya pendidikan, mereka harus memeras otak mencari sumbernya.

Sebagian petani memilih memelihara ternak sapi sebagai investasi. Sementara itu memelihara ayam kampung atau menjadi buruh serabutan dilakoni untuk menutupi kebutuhan harian. Sebagian lagi ada yang membudidaya ikan kolam.

Di Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur (Lamtim), budidaya ikan kolam sedang booming di masyarakat.  Warga memanfaatkan sisa lahan pekarangan rumah disulap menjadi kolam ikan. Umumnya mereka menggunakan plastik, untuk mencegah penyerapan air.

Salah seorang petani yang memelihara ikan kolam adalah Barokah (53). Warga desa Tamanfajar ini sudah sekitar 4 tahun membudidayakan gurame di kolam  halaman belakang rumahnya. Mulanya dia hanya membuat 2 kolam dengan ukuran 10 x 20 meter. Setelah tiga tahun berjalan, sekarang dia sudah menambah 2 kolam lagi, membeli milik rekannya yang bangkrut.

Dengan senang hati, Barokah menceritakan pengalamannya mengusahakan ikan gurame, di pinggir kolamnya, Sabtu (9/8). Menurut Barokah hasil dari gurame yang dipeliharanya sangat membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

“Saya lebih memilih gurame daripada ikan lainnya seperti lele dumbo atau nila, karena harganya stabil”, urai Barokah.

Ikan gurami baru dipanen.

Barokah menjelaskan, budidaya lele memang lebih singkat, kurang dari 3 bulan, namun harganya naik-turun. “Kalau memelihara lele, kadang kita untung, tetapi terkadang bisa rugi besar sewaktu harga jatuh,”ujarnya.

Menurut Barokah, masalahnya karena jumlah yang memelihara lele relatif lebih banyak, sementara harga ditentukan pedagang. Selain itu sifat kanibal lele sering membuat petani gagal panen, sehingga tidak heran banyak petani yang bangkrut karena memelihara lele.

Barokah menjelaskan dia biasa memanen ikannya saat usia 14 bulan. “Sebenarnya yang terbaik panen umur 18 bulan atau 2 tahun, tetapi itu terlalu lama bagi saya”, ujarnya.

Jika dipanen pada usia 14 bulan menghasilkan ikan gurame dengan ukuran 0,5-0,6 ons. Sedangkan jika dipanen umur 18 bulan ke atas dapat menghasilkan ikan dengan ukuran 1 kg lebih.

Sementara bibit ikan yang dipakai Barokah yang sudah berumur 2 bulan dengan harga Rp 1.000/ekor. Biasanya dia membeli bibit dari Purbolinggo atau terkadang dari Metro.

Pria paro baya itu mengaku, untuk seribu ekor gurame dibutuhkan modal sekitar Rp10 juta. Itu digunakan untuk membeli bibit dan terbanyak adalah pakan konsentrat. Sesudah 1 tahun dia memanen, biasanya didapatkan ikan sekitar 7,5 kuintal.

Barokah menjelaskan dengan asumsi harga jual hanya Rp 20.000/kg, akan didapatkan keuntungan sekitar Rp 5 juta. Umumnya dia menjual lebih dari Rp 20.000 per kilonya. Tidak sulit untuk menjual gurame, karena pengepul membeli langsung ke kolam dengan harga kompetitif.

Sementara untuk satu kolam ikannya bisa diisi hingga 2500 ekor bibit ikan.  Sehingga Barokah bisa mendapatkan untung sekitar Rp 12,5 juta untuk 1 kolam.

Menurut Barokah, tidak banyak kendala dalam budidaya gurame. “Yang terpenting mencegah jamur, bisa menggunakan fungisida,” jelasnya.

Kemudahan lainnya dalam membudidaya gurame adalah pakannya.  Jika sudah besar, gurame dapat diberi pakan tumbuhan seperti jenis keladi dan kangkung. Ini untuk mengurangi pemberian konsentrat.

Meski demikian, Barokah mengakui untuk budidaya gurame dibutuhkan modal besar. Sedangkan waktu panennya relatif lebih lama minimal setahun. Untuk mengatasi kendala modal dia memanfaatkan fasilitas kredit usaha rakyat dari BRI. “Kreditnya ringan kok, dibayar musiman sesudah panen”, ujarnya berpromosi.

Di akhir obrolan Barokah berpesan kepada yang tertarik budidaya gurame, untuk tidak patah semangat jika gagal sewaktu pertama memulai. “Pengalaman adalah guru terbaik,” kata dia.

Loading...