Gurihnya Rezeki Lele

Bagikan/Suka/Tweet:

Supriyanto/Teraslampung

Peternak lele anggota KIM Lampung Tengah sedang panen lele. (Teraslampung.com/Supriyanto)

GUNUNGSUGIH- Nikmatnya budidaya ikan lele mulai dirasakan oleh Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Lampung Tengah yang membudidayakan ikan lele sejak dua tahun terakhir. Selain mudah  pembudidayaannya, kebutuhan pasar akan ikan lele terus meningkat.

Pengembangan budidaya ikan lele oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Lampung Tengah melalui Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) terus berkembang. Tahun 2013 lalu jumlah KIM budidaya lele sebanyak 18 kelompok yang tersebar di 18 kecamatan di Lampung Tengah (Lamteng), dengan anggota mencapai 360 orang atau setara 360 petak kolam budidaya.

Menurut Kabid Budidaya Perikanan Dinas Peternakan dan Perikanan Lamteng Sujiman, tahun ini program pengembangan budidaya ikan lele melalui KIM masih terus dilanjutkan, karena berdampak positif bagi peningkatan pendapatan warga. Hanya saja, kata Sujiman, kelompok yang dibina adalah mereka yang benar-benar bisa mempercepat pengembangan budidaya.

”Tahun lalu kelompok budidaya lele kami kembangkan di 18 kecamatan, tahun ini kami hanya mengambil kecamatan yang bisa cepat dikembangkan. Hal ini untuk mendorong percepatan budidaya ikan lele di Lamteng,” kata Sujiman, Senin (23/6).

Tahun ini, kata  Sujiman, jumlah petani binaan sebanyak 12 kelompok atau 250 petak kolam ikan lele. Sampai tahun ini, total petak kolam budidaya yang memanfaatkan lahan sekitar rumah warga ini menurut, dia lebih dari 610 unit, karena kelompok binaan tahun lalu tidak sedikit yang menambah kolam budidaya.

Melalui pengembangan budi daya lele ini, masyarakat sangat diuntungkan. Karena budidaya ikan lele ini bisa dilakukan sebagai usaha sambilan dengan memanfaatkan peranarang rumah. Sedang perawatan ikan lele sangatlah mudah dan tidak memerlukan keahlian khusus.

”Tiap dua bulan pembudidaya bisa memanen ikan lelenya. Sekali panen per petak kolam mencapai antara 80 – 100 Kg, tergantung banyaknya benih yang dirtebar,”katanya.

Tahun lalu, luas petak kolam yang dikembangkan warga berukuran 2,6 x 5,4 meter yang dapat menampung hingga 3.000 ekor lele. Tahun ini kelompok yang baru di bentuk hanya mendapatkan bantuan kolam seluas 1,6 xa 54, meter yang mampu menampung hingga 2.000 ekor lele.

”Kelompok yang baru terbentuk tahun 2014 ini diharapkan sudah tebar benih ikan lele pada Juli bulan depan, saat ini mereka baru menyiapkan kolam,”katanya.

Menurut Sujiman tahun ini, petani merasakan keuntungan dari budi daya lele, karena harga ikan lele saat ini sudah mencapai Rp16.000 per Kg ditingkat pembudidaya. Harga ini kata dia, tetap memberikan keutung walaupun harga pakan ikan cukup tinggi. Modal operasional budidaya lele perpetak mencapai Rp1.050.000 untuk beli benih dan pakan.

”Setelah dua bulan panen pembudidaya bisa mengantongi  hasil lima ratus ribu perpetak. Kalau seorang punya empat petak saja, pembudidaya bisa memperoleh hasil dua juta rupiah dari pekarangan mereka,”katanya.

Dikatakan Sujiman, kendati perikanan budidaya  sangat memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Setidaknya bisa dilihat dari permintaan benih, kebutuhan pakan, kebutuhan konsumsi ikan, tetapi potensi besar ini belum mendapatkan dukungan serius dari pemerintah daerah maupun DPRD, baik dalam dukungan modal usaha maupun penguasaan teknologi yang dibutuhkan masyarakat.

“Kami berharap semoga Gubernur Lampung yang baru, akan memberikan gebrakan bagi pengembangan sektor perikanan, karena beliau mempunyai basic pendidikan perikanan,” kata Sujiman.

Diakui Sujiman, peluang investasi subsector perikanan budidaya di Lampung Tengah masih terbuka luas, terutama bagi pengembangan industry pakan ikan dan brood stock induk ikan. Selama ini pembudidaya untuk mendapatkan benih ikan yang berkualitas sebagian diperoleh dari Jawa Barat. Selain itu, juga bisa dikembangkan perikanan budidaya keramba jarring apun (KJA), di empat sungan besar di Lamteng, yakni sungai Way seputih, Way Pengubuan, Way Terusan dan Way Pegadungan.

”Di wilayah tengah hingga hilir sungai ini kedalamannya masih memungkinkan untuk pengembangan perikanan melalui KJA. Beragam ikan air tawar bisa dibudidayakan disini,”tandasnya