Beranda Views Bahasa Gurita

Gurita

737
BERBAGI

Agus Sri Danardana*

DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008:469) terdapat dua lema (yang sudah barang tentu berbeda makna) tentang gurita. Pertama, gurita dimaknai hewan laut, termasuk golongan hewan lunak (moluska), umur mencapai 6 bulan sampai dengan 5 tahun. Kedua, gurita dimaknai kain pembalut dada atau perut anak-anak.

Dengan demikian, sesungguhnya tidak ada hal yang pantas dikhawatirkan atas keberadaan gurita. Sebagai hewan, gurita bukanlah binatang buas, seperti harimau dan ular yang menakutkan. Sebagai pakaian, gurita hanyalah selembar kain yang justru sering melilit akrab di tubuh balita.

Meskipun tidak menakutkan, pada kenyataannya, gurita selalu menimbulkan pro dan kontra. Dalam konteks sebagai hewan, oleh kelompok yang pro, gurita dianggap binatang unik yang pantas dipelihara karena tidak berbahaya; sedangkan oleh kelompok yang kontra, gurita dianggap binatang unik yang pantas dihindari karena berbisa.

Sementara itu, dalam konteks sebagai pakaian, gurita sangat diperlukan untuk membentuk tubuh anak agar tetap sintal dan padat (oleh kelompok yang pro); dan gurita sangat tidak dibutuhkan karena dapat menghambat perkembangan tubuh anak (oleh kelompok yang kontra).

Belakangan ini, secara tiba-tiba, gurita kembali menimbulkan kontroversi di Indonesia. Bukan karena ulah sejumlah ilmuwan Australia yang telah menunjukkan hasil penelitiannya bahwa semua gurita ternyata berbisa (Tempo Interaktif, Minggu, 19 April 2009), melainkan karena George Junus Aditjondro menerbitkan buku: Membongkar Gurita Cikeas. Buku itu tidak hanya mengusik ketenangan “keluarga Cikeas”, tetapi juga mengusik ketenangan hampir seluruh rakyat Indonesia. Pro dan kontra pun serta merta kembali merebak.

Menurut Wikiwedia Bahasa Indonesia, gurita ternyata memiliki kecerdasan dan pertahanan diri yang tinggi. Di samping pandai berkamuflase, melakukan penyamaran dengan mengubah warna kulit, gurita juga pandai meniru bentuk hewan laut lainnya. Bahkan lengan-lengannya (yang konon berjumlah delapan itu) pun, selain dapat mencengkeram erat mangsanya, dapat diputuskannya setiap ada bahaya mengancam, tanpa mengurangi kegesitan dan kelincahannya.

Atas dasar itulah, mungkin, gurita tidak lagi dianggap sebagai binatang yang tidak membahayakan. Mungkin atas dasar itu pula KBBI memberikan dua makna kias pada sublemanya: menggurita dengan (1) melilit sesuatu dengan kuat (seperti tangan-tangan gurita) dan (2) berakar dan menyebar ke mana-mana.

Sebagai sebuah wacana metaforis, judul buku Membongkar Gurita Cikeas memang sangat debatable sehingga tidak hanya perlu mendapat perhatian, tetapi juga perlu dibuktikan kebenarannya. Secara tekstual, judul itu setidaknya mengimplikasikan dua hal: (1) bahwa (di) Cikeas (ada) memiliki sesuatu yang disebut gurita dan (2) bahwa sesuatu yang disebut gurita itu kini sudah melilit, mengakar, dan menyebar ke mana-mana sehingga harus dibongkar.

Konon, yang dikiaskan sebagai gurita itu adalah keluarga Cikeas (SBY, Presiden RI) dengan segala sepak terjangnya, terutama yang berkaitan dengan pemenangan Pemilu 2009. Pertanyaannya sekarang adalah benarkah semuanya itu sungguh-sungguh terjadi? Apa pun jawabnya, mudah-mudahan tidak sampai mengguritakan pro dan kontra. Semoga.**

* Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Laras” Harian Lampung Post

Loading...