“Guyup Rukun” dalam Korupsi

  • Bagikan
Guru Besar FKIP Unila, Prof. Dr. Sudjarwo

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar ilmu ilmu sosial di FKIP Unila

Pada satu kesempatan seorang sohib mantan jurnalis terkenal di negeri ini dan juga mantan petinggi Pemerintah Daerah; berkirim caption ada mantan Gubernur masuk penjara karena korupsi. Ironisnya,  beberapa hari kemudian sang anak yang sedang menjabat kepala daerah tertangkap tangan oleh lembaga anti-rasuah karena juga korupsi. Wal hasil, ayah dan anak masuk jeruji besi karena kasus yang sama. Caption kiriman tadi penulis jawab dengan satu kata: guyup. Guyup dalam tanda petik (“guyup”). Diberi tanda petik karena sebagai penegas, karena pesan kata guyup di sana jelas berbalik makna.

Kata guyup sendiri dalam kamus Besar Bahasa Indonesia hanya diberi batas artinya “rukun damai”. Secara makna kata mungkin benar, tetapi dari aspek rasa bahasa, kata guyup tidak serta merta bersinonim dengan rukun damai, karena ini menyangkut aspek rasa dengan penjiwaan yang dalam. Oleh karena itu,  ayah dan anak yang masuk jeruji besi bersama dengan kasus yang sama, lebih tepat diberi label kata “serakah”. Namun kata ini tidak tepat jika di tabalkan kepada perilaku manusia, karena lebih tepat untuk hewan.

Sebagai contoh kata serakah cocok untuk menggambarkan bagaimana seekor kera yang sedang makan, maka dikedua tangan ada makanan, di mulut dan kantong mulut kiri kanan ada makanan, namun dia tetap memburu makanan lain yang ada ditangan kawannya. Oleh karena itu,  ada teman ahli bahasa yang membuat lelucon bahwa sifat serakah dan sifat rakus itu satu ibu beda bapak.

Tampaknya kita mengalami kekisruhan bahasa jika ingin menggambarkan banyak perilaku yang tidak umum, dan cenderung tidak masuk akal, tetapi terjadi didepan mata kita, atau di jaman ini. Bayangkan korupsi sampai bilangan angka triliyun, untuk membayangkan angka nol di belakang titiknya saja tidak terbayangkan, terus seberapa banyak uang itu, juga tidak terbayangkan, tetapi kejadian itu nyata di negeri ini.

Kalau angka miliar sudah bukan lagi aneh, bahkan seolah biasa. Perilaku anomali inilah yang sekaran terjadi pada asyarakat kita. Walaupun pengertian anomali sendiri berawal dari istilah dalam Ilmu Penetahuan alam yang mengatakan bahwa ketidakteraturan air dalam proses menyusut dan memuai, yaitu jika air dipanaskan sampai diatas suhu 4 derajat Celcius maka air akan memuai, tetapi air justru menyusut jika di panaskan diantara 0 derajat Celcius sampai dengan 4 derajat Celcius.

Sekarang makna anomali merambah ke ilmu ilmu lain, seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, bahkan kedokteran; walaupun definisi dasarnya tetap sama yaitu penyimpangan.

Kata guyup biasanya disandingkan dengan kata rukun. Bahkan guyup rukun saat sekarang ini dijadikan jargon oleh salah satu Pemerintah Daerah Kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Bunyi lengkapnya jargon tadi kata Guyub dan Rukun digabung menjadi Guyub Rukun. Jargon guyub rukun ini diibaratkan mlaku karo lambehan (berjalan dengan ayunan tangan). Maksudnya adalah terdapat kebersamaan. Jika berjalan tanpa ayunan tangan atau mlaku tanpo lembehan berarti tidak ada kebersamaa (kompasiana:2021).

Pada laman yang sama selanjutnya dijelaskan guyub rukun sejatinya merupakan ruh kehidupan. Bisa dibayangkan andai kata guyub rukun ini terjalin diseluruh Indonesia, maka mantra sakti Persatuan yang pernah diucapkan Sang Patih Gajah Mada akan hidup kembali. Tapi sayang guyub rukun ini semakin sulit ditemui dalam kehidupan. Masyarakat mungkin saja rukun akan tetapi tidak guyub, artinya tidak ada kebersamaan yang terjalin.Terwujudnya masyarakat yang guyub rukun didasari oleh sikap saling menghormati, empati, tepo seliro , dan nilai nilai luhur lainnya. Oleh karena itu,  pepatah Jawa mengatakan guyup rukun agawe santoso, crah agawe bubrah. Terjemahan bebasnya rukun damai membuat sentosa/perkasa, jika selalu rebut atau gontokgontokan akan menjadikan bubar/bercerai.

Ternyata guyup rukun itu sekarang hanya tinggal di desa desa nun jauh di sana; bahkan saking jauhnya daerah itu disebut sebagai desa yang masih termasuk kategori “desa kluthuk”, desa yang terpencil, desa yang menamakan dirinya “adoh ratu cedhak watu” (jauh dari ratu dekat dengan batu), makna bebasnya adalah saking jauhnya daerah itu jauh dari penguasa lebih dekat dengan batu gunung.

Guyup rukun yang kemudian ber-triwikrama menjadi “Bersama Kita Bisa”, terlalu laju jalannya; sehingga makna luhur yang terkandung di awal dalam perjalanannya menyimpang, berubah menjadi “bersama (baca: berjamaah) kita bisa korupsi”. Di sini pula kita temukan adanya korupsi secara sistemik dan massif. Kita tidak terbayangkan betapa ganas dan rakusnya manusia bisa memakan Hambalang, kartu tanda penduduk, dan entah apa lagi kalau di bariskan, mungkin sudah dari  Sabang sampai Merauke panjangnya.

Semoga panggilan keagamaan yang selalu berkumandang tidak hanya berhenti pada gerakan fisik; akan tetapi lebih bermaujud dalam laku kita sehari hari sebagai umat yang beriman. Jangan pula terjadi pula di dalam penjara tampaknya tobat, setelah keluar berubah kumat. Semoga Tuhan selalu memberikan petunjuk kepada kita semua kepada jalan yang benar dan diridai-Nya***

 

 

 

 

  • Bagikan