Habiskan Dana Rp11,5 Miliar, 34 Balai Adat di Lamteng Selesai Direnovasi

Mustafa menandatangani prasasti peresmian balai adat untuk 9 kebuayan di Lampung Tengah.
Bagikan/Suka/Tweet:

TERASLAMPUNG.COM — Pada tahun anggaran 2017 Pemkab Lampung Tngah mencairkan dana senilai Rp11,5 miliar untuk membangun 34 balai adat dari 8 kebuayan  di 13 kecamatan di Lampung Tengah.

“Saya meminta masyarakat untuk memanfaatkan balai adat sebagai wadah atau laboratorium pelestarian seni budaya khususnya adat Lampung,” kata Bupati Lampung Tengah,Mustafa, Rabu (3/12/2017).

Menurut Mustafa, pemanfaatan balai adat terebut harus melibatkan para pemuda sehingga  adat istiadat Lampung juga dipahami generasi muda.

“Kita harus terus berupaya mengembalikan ruh kebudayaan Lampung agar dapat menyentuh seluruh masyarakat, khususnya generasi muda. Renovasi balai adat merupakabn  salah satu upayanya menjaga eksistensi kebudayaan Lampung,” katanya.

Mustafa berharap balai adat tidak hanya digunakan untuk pengembangan kesenian, namun juga pelaksanaan kegiatan lainnya yang menunjang pelestarian budaya dan kebersamaan masyarakat.

“Saya percaya, lewat kebudayaan bisa membangun karakter manusia yang lebih beradab. Karenanya upaya pelestarian terus saya lakukan. Saya memberikan ruang dan tempat untuk suku apapun yang ingin melestarikan kebudayaannya di sini,” tandasnya.

Menurut Mustafa, anggaran Rp 11,5 milliar itu tidak dibagi secara merata untuk tiap balai adat. Besarnya dana yang dikucurkan untuk tiap kecamatan tergantung pada tingkat kerusakan balai adat.

“Ada yang menerima Rp150 juta, tapi ada yang hingga Rp 1miliar,” katanya.

“Ada 9 kebuayan atau kerajaan di Lampung Tengah yang masing-masing mempunyai balai adat untuk pengembangan kesenian. Tahun ini Pemkab telah anggarkan Rp 11,5 miliar untuk rehab 34 balai adat. Saya minta anggaran ini dimanfaatkan sebaik mungkin. Kita percantik balai adat kita, sehingga pelestarian budaya berjalan maksimal,” ungkapnya.

Sembilan kebuayan tersebut adalah  Nunyai,  Unyie,  Subing, Nuban, Beliuk, Selagai, Anak Tuha,  Nyerupo dan Pubian. Dengan ini Mustafa tidak hanya focus kegiatan pelestarian budaya, tetapi juga focus pada sarana dan prasarana yang menunjang kebudayaan tersebut.

“Pelestarian budaya tidak hanya berbicara even atau kegiatan, tetapi juga pengembangan sarana dan prasarana. Balai-balai adat kita perbaiki, selain itu menyalurkan bantuan alat musik tradisional untuk sanggar-sanggar kesenian. Tahun ini Pemkab juga membangun simbol-simbol kebudayaan yang ada di Lampung Tengah, mulai Tugu Sembilan Gajah, Tugu Canang, Tugu Pepadun, Tugu Gajah Beratai dan lainnya” kata Mustafa.

Penyunting: Mustafa