Beranda Seni Hadirkan Seniman Indonesia dan Mancanegara, Pemkab Tubaba Gelar “Megalithic Millenium Art”

Hadirkan Seniman Indonesia dan Mancanegara, Pemkab Tubaba Gelar “Megalithic Millenium Art”

631
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Bupati Tulangbawang Barat, Umar Ahmad, kembali menghelat acara budaya spektakuler. Acara yang akan dihelat  pada 22 hingga 26 Januari 2020 itu diberi tajuk “Sharing Time: Megalithic Millennium Art”.

Menurut rencana acara ini akan dibuka oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim. Pejabat Negara yang juga akan hadir adalah Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia) yang akan menjadi pembicara dalam sarasehan dengan tajuk “Membangun Manusia lewat jalan Kebudayaan”.

Lewat perheletan seni yang akan ditampilkan di sejumlah tempat (venue) ini, Bupati Umar Ahmad hendak makin memperkuat persepsi publik seni Indonesia bahwa ia termasuk kepala daerah di Indonesia yang memiliki cita rasa seni dan wawasan yang luas tentang kebudayaan. Sebelumnya, Umar Ahmad sukses membangun ruang publik yang menyatu dengan masjid dan tempat wisata. Ia juga membangun beberapa bangunan seni bernuansa tradisi Lampung yang memiliki relasi dengan sejarah Lampung.

Beberapa tempat yang akan menjadi pusat kegiatan seni kali ini antara lain Kota Budaya Ulluan Nughik, Sessat Agung, Las Sengok (Tiyuh Karta), dan Situs Patung Megouw Pak.

Menurut Semi Ikaranegara, ketua panitia, perhelatan ini sudah digagas lama, ketika maestro tari Suprapto Suryodarmo masih sehat.

“Yang menggagas Mbah Suprapto Suryodarmo dan dan Bupati Umar Ahmad,” kata Semi, dalam rilis yang diterima Teraslampung.com, Sabtu, 18 Januari 2020.

Suprapto Suryodarmo adalah seniman yang dikenal luas melalui sebuah metode performance yang bernama Joget Amerta. Sebagai metode olah gerak, Joget Amerta menekankan pada pencarian ke dalam (inner), dari kedalaman diri lalu membangun kesadaran akan hubungan dengan lingkungan, manusia dan Tuhan.

Joget Amerta bukanlah tari dalam pengertian teknis, memiliki teknik-teknik gerak yang baku, tapi seperti apa yang dikatakan oleh maestro Sardono W Kusumo apa yang dilakukan Suparpto Suryodarmo justru menjadi lebih penting karena dia mampu menciptakan atmosfer tari. Sebagian orang menyebut Joget Amerta sebagai meditasi gerak.

Menurut Semi, Umar Ahmad adalah bupati yang memiliki visi menjadikan Tubaba sebagai satu wilayah yang memiliki atmosfer kebudayaan sekaligus wilayah yang memiliki wawasan ekologis.

“Dia percaya bahwa melalui pendidikan kesenian dan lingkungan manusia bisa berubah menjadi lebih baik, menjadi lebih beradab,” kata Semi.

Semi mengatakan dalam lima tahun terkahir anak-anak di Tubaba bisa berlatih kesenian seperti teater, sastra, seni rupa, musik, film, fotografi dan tari. Juga berlatih pendidikan ekologi untuk membangun kesadaran dalam praksis sehari-hari, menumbuhkan kesadaran seperti tidak membuang sampah sembarangan, pengurangan sampah plastik, menanam pohon hingga pengetahuan pertanian permakultur.

Iskandar GB, penanggung jawab workshop, mengatakan  terma Sharing Time: Megalthic Millennium Art menunjukan pertemuan dua tradisi. Yakni tradisi megalitik dan tradisi milenium.

Megalitik direpresentasikan dengan Joket Amerta karya Suprapto Suryodarmo atau Mbah Prapto. Mbah Prapto selama puluhan tahun berlatih Joget Amerta di situs-situs megalitik (selain candi), sebagai ruang sunyi yang mendekatkan diri dengan alam, Tuhan dan peradaban masa silam.

Sementara millennium merujuk pada manusia dan situasi masa kini. Berkorelasi pula pada masifnya pendidikan kesenian dan lingkungan pada anak-anak di Tubaba, berkat wawasan sebab merekalah sesungguhnya pemilik Tubaba di masa depan.

“Maka terma Sharing Time: Megalithic Millennium Art memiliki spektrum pengertian teramat kaya. Kita akan lebih memahaminya dalam seluruh gelaran acara yang berupa: Sarsehan, workshop dan pertunjukan,” katanya.

Puluhan penampil dari Indonesia dan manca negara akan memeriahkan perhelatan ini. Antara lain: Andy Burnham ( Arkeolog, pendiri dan editor web Megalithic Portal, Inggris), Alex Gebe (seniman, anggota Teater Kober, Lampung), Ari Rudenko (seniman lintas disiplin dari Amerika Serikat), Anna Thu Schmidt (penari asal Jerman,  menyelesaikan studi masternya di Throndeim, Norwegia), Agus Sangishu (penari, pemimpin Rumah Tari Sangishu, Lampung).

Ada juga Bettina Mainz (penari, guru dan terapis trauma berbasis di Berlin, Jerman). Ia akan pentas kolaborasi bersama suaminya Rodolfo Mertig ( Fisikawan) dan putra mereka Sebastian Mainz-Mertig (usia 11 tahun).

Juga akan hadir Daniel Oscar Baskoro (periset asal Yogayakarta yang berbasis di Univesitas Columbia, New York), Dian Anggraini (penari dan dosen asal Lampung) Diantori Dihan (koreografer, pimpinan Gar Dancestory, Lampung), Edhyitia Rio (komposer, anggota Orkes Ba’da Isya, Lampung), Frances Rosario (seniman, Amerika Serikat), Prof Dr Haris Sukendar (mantan kepala badan Arkeologi Nasional), Diane Butler (seniman gerak, pimpinan Dharma Nature Time, Bali),Halilintar Latief (antroplog, Universitas Negri Makassar), Keith Miller (Inspektorat Monumen Kuno untuk English Heritage, Inggris).

Selain itu: Katsura Kan (seniman Butoh asal Jepang), Margit Galanter (penyair Tari dan Instigator Kebudayaan, Amerika Serikat), Mara Poliak (perfomer, Amerika Serikat), Moris Shakaia (performer, Russia), Peter Chin (performer, Kanada), Rianto (penari asal Solo berbasis di Jepang), Sandrayati Fay ( Komposer dan penyanyi asal Ubud, Bali), Transpiosa Riomandha (antropolog, Yogyakarta) dan Mariana Isa (arsitek dan peneliti asal Malaysia).

Ada juga Siswa-siswa Tubaba yang terpilih juga akan menjadi pembicara dalam acara sarasehan dengan tajuk “Tubaba 100 tahun kemudian”.

Pada pembukaan acara sejumlah 70 siswa-siswa Sekolah Seni Tubaba akan membawakan Tari Nenemo, selain itu akan ditampilkan pementasan musik Q-Thik, tari Sigeh Pengunten dan Seni Kulintang. Prosesi lain adalah penanaman bibit pohon bersama, pelepasan ikan, pelepasan kerbau (dalam proses konfirmasi) dan peletakan batu di Las Sengok, sebuah wilayah yang kelak akan dikembangkan menjadi hutan lindung Q-Forest di  di Tiyuh (Desa) Karta.

Loading...