Beranda Views Opini Hal-Hal yang Membatalkan dan tidak Membatalkan Puasa

Hal-Hal yang Membatalkan dan tidak Membatalkan Puasa

303
BERBAGI

Oleh: Ali Farkhan Tsani

Dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, ada beberapa hal yang
termasuk membatalkan puasa, tidak membatalkan puasa dan makruh. Hal ini
perlu kita ketahui agar dalam melaksanakan puasa dapat mencapai hasil
pahala yang maksimal di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Adapun hal-hal
tersebut adalah sebagai berikut:

Hal-hal yang Membatalkan Puasa

1. Makan, minum (termasuk merokok) dengan sengaja (wajib atas pelakunya menggantinya dan bertaubat).
2. Muntah dengan sengaja.
3. Haid atau nifas (bagi wanita), walaupun tinggal beberapa menit menjelang buka puasa. Wajib menggantinya pada bulan lain, jika dalam keadaan lemah seperti menyusui, maka ia wajib membayar fidyah (member makan seorang miskin).
3. Melakukan hubungan suami-isteri saat berpuasa. Wajib bayar kafarat, berupa : membebaskan budak.   Apabila tidak ada budak maka wajib ganti berpuasa dua bulan berturut-turut. Apabila tidak mampu, maka wajib memberi makan enam puluh orang miskin.

Hal-hal yang Tidak Membatalkan Puasa

1. Makan/minum karena lupa atau keliru (mengira sudah masuk waktu buka, ternyata belum). Tinggal melanjutkan puasanya.
2. Muntah tanpa disengaja.
3. Mencium atau memeluk isteri, selama tidak keluar mani meskipun keluar madzi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah mencium dan memeluk isterinya dalam keadaan beliau berpuasa. Akan tetapi beliau adalah orang yang paling mampu menahan syahwatnya. Tapi, buat apa iseng-iseng memeluk atau mencium isteri dalam keadaan puasa, toh masih ada waktu malam hari. Kecuali waktu I’tikaf.
3. Mimpi basah di siang hari walaupun keluar air mani.
4. Bangun kesiangan dalam keadaan junub. Misalnya hubugan suami isteri, setelah sahur  tertidur,  kemudian bangun subuh kesiangan. Segera mandi junub dan lakukan shalat subuh. Sementara puasa tetap lanjutkan.
5. Keluarnya air mani tanpa sengaja seperti orang yang sedang berkhayal lalu keluar (air mani).
6. Mengakhirkan mandi janabat (mandi wajib), haidh atau nifas dari malam hari hingga terbitnya fajar. Namun yang wajib adalah menyegerakannya untuk menunaikan shalat.
7. Berkumur dan istinsyaq (menghirup air ke dalam rongga hidung), selama tidak berlebihan.
8. Bersiwak atau gosok gigi menggunakan pasta gigi, selama tidak tertelan ke dalam perut.
9. Mencicipi makanan dengan syarat selama tidak masuk ke dalam perut.
10. Bercelak dan meneteskan obat mata ke dalam mata atau telinga walaupun ia merasakan rasanya di tenggorokan.
11. Suntikan (injeksi), selain injeksi nutrisi/infus. Karena injeksi tersebut tidak melalui jalur (pencernaan) yang lazim/biasa.
12. Menelan ludah.
13. Menggunakan obat-obatan yang tidak masuk ke dalam pencernaan, seperti salep, celak mata, obat merah, atau obat semprot (inhaler) bagi penderita asma.
14. Keluar darah karena luka, terjatuh, atau gigi putus/cabut gigi (selama tidak tertelan), atau keluar darah mimisan dari hidung.
15. Mandi pada siang hari untuk menyejukkan diri dari kepanasan.
16. Menggunakan wewangian pada siang hari.
17. Berbekam atau donor darah. Tetapi kalau dengan bekamnya atau donor darahnya dapat menjadikan lemah badan, sebaiknya dilakukan malam hari.
18. Menghirup debu jalanan, asap pabrik, asap kayu bakar dan asap-asap lainnya yang tidak dapat dihindari.

Hal-hal yang Makruh Saat Puasa
 
Makruh saat puasa maksudnya adalah dimaafkan, namun sebaiknya dihindari, dikhawatirkan membatalkan puasa.

1. Berlebih-lebihan dalam berkumur dan menghirup air (istinsyaq) ke hidung dan mengeluarkannya kembali (istinsyar) ketika berwudhu.
2. Mencium/memeluk isteri, dikhawatirkan membangkitkan syahwat yang memungkinkan merambat sampai merusak puasa. Sabar dulu sampai nanti malam lebih baik. Namanya juga puasa, artinya menahan diri. Khususnya pengantin baru.
3. Berlama-lama memandang isteri dengan syahwat. Walaupun isteri sendiri, ya sebaiknya sabar dulu.
4. Mengkhayalkan hubungan suami isteri. Ini juga, apa tidak sebaiknya diisi dengan tadarus Al-Quran misalnya, jadi tidak perlu mengkhayal-khayal segala.
5. Mencicipi makanan, walaupun boleh tetapi sebaiknya dihindarkan. Selama masih bisa pakai perkiraan, nanti sebaiknya dicicipi saja setelah buka. Kalau kurang asin tinggal tambah garam. Untuk kehati-hatian saja.
6. Berkumur-kumur bukan pada waktu diperlukan, seperti wudhu. Dikhawatirkan tertelan.Walaupun boleh, tetapi dikhawatirkan melemahkan badan akibat darah kotor banyak terambil. Karena hal  itu menjurus pada batalnya puasa akibat terlalu lemah.

Ancaman Menyia-Nyiakan Puasa Ramadhan

Hal tersebut perlu kita ketahui dalam amaliyah ibadah puasa Ramadhan, jangan sampai kita meninggalkannya tanpa udzur yang dibenarkan menurut syar’i.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengancam :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, serta berlaku bodoh, maka tidak ada keperluan bagi Allah terhadap meninggalkan makan dan minumnya (puasanya)”.  (H.R. Bukhari dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الظَّمَأُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

Artinya : “Betapa banyak orang yang puasa, tidaklah memperoleh  apa-apa baginya dari puasanya selain lapar, dan betapa banyak orang yang mendirikan shalat, tidaklah memperoleh apa-apa baginya dari shalatnya kecuali lelah”. (H.R.. Ad-Darimi dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu)

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَإِنْ صَامَهُ

Artinya : “Barangsiapa berbuka puasa pada bulan Ramadhan tanpa adanya keringanan dan tidak pula sakit, maka tidak dapat diganti  shaumnya itu walaupun dengan puasa setahun terus-menerus”. (H.R. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyalllahu ‘Anhu).

Semoga kita dapat mengamalkan ibadah puasa Ramadhan dengan mengharap ridha Allah. Amin.  Sumber: Shaum wal I’tikaf. Dr. Abu Sari Muhammad Abdul Hadi. (T/P4/R11).

* Ali Farkhan Tsani adalah da’i di Ponpes Al Fatah Cileungsi (Bogor) dan Natar (Lampung Selatan). Tulisan ini juga dimuat di Mirajnews.com , media online yang dirintis dan dikelola Ustad Ali Farkhan Tsani.

Loading...