Beranda Views Kisah Lain Hans Miller, Wartawan-Seniman dari Dunia Hiburan

Hans Miller, Wartawan-Seniman dari Dunia Hiburan

305
BERBAGI
Hans Miller Banurea

P Hasudungan Sirait*

Hari ini (7 Agustus 2015) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tepat berusia 21 tahun. Sebagai salah satu pendirinya, sepatutnyalah aku turut merayakannya. Aku tak bisa datang ke acara syukuran di kantor AJI Indonesia di Kwitang, Jakarta Pusat,  malam ini, walaupun sudah kuniatkan. Maka kubuatlah tulisan perkisahan ini sebagai cara merayakan. Ini cerita pertautanku dengan sobat, seorang wartawan senior dari ranah liputan hiburan. Petinggi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)
tersebut berpulang pekan kemarin.

***

Sungguh minggu-minggu yang mengguratkan duka. Begitulah keluarga besarku, memaknainya. Menjelang Lebaran kemarin, adik sepupuku, Ny. Happy Sirait-boru Simanjuntak (Mama Eva), berpulang. Setelah mendadak tak sadarkan diri, perempuan ramah ini sempat dirawat 34 hari di ICU RS Borromeus, Bandung, Riwayat penyakit tak ia punya sebelumnya sehingga kepergian ibu tiga anak ini sungguh tak kami nyana.

Di saat awan duka masih menggelayut, berita duka datang lagi. Horas Sidabutar (Pak Citra), suami keponakanku, Helena Sirait, kecelakan di Lampung. Dalam perjalanan dari rumahnya di Bekasi menuju Pekanbaru, mobil yang membawanya menghantam sasis belakang truk yang sedang berhenti. Posisinya di sebeIah sopir, sementara sisi kiri kendaraan itu yang menghajar truk. Ia meninggal di tempat dalam kondisi yang sangat mengenaskan saat itu juga sedangkan sopir luka ringan belaka. Kembali kami terperangah.

Deraan seperti belum cukup. Minggu lalu kami kehilangan seorang kerabat lagi, yakni Ompu Jeremiah Sirait-boru Gultom. Beliau sudah cukup sepuh memang, 77 tahun. Begitupun kami tetap merasa kehilangan kendati tak seberduka waktu melepaskan jenazah Mama Eva dan Pak Citra.
Bagiku minggu-minggu sejak menjelang Lebaran barusan kelabu sungguh. Berturut, aku pun melayat ke tiga kota sekaligus: Bandung, Bekasi, dan Jakarta. Ternyata itu juga bukan akhir cerita. Aku kembali kehilangan orang yang kukasihi. Dia bukan keluarga melainkan sobat. Tentang dialah kisahku ini lebih panjang.

Dalam perjalanan melayat Ompu Jeremiah di Klender, Jakarta, siang Sabtu 1 Juli 2015, aku kembali mendapat kabar duka. Guru Ethos Jansen H. Sinamo yang memberitahu. “Hans Miller meninggal di Bandung tadi pagi…sudah tahu kan?” ucapnya lewat telepon. Selain kaget, aku merasa serba salah begitu mendengar kabar yang laksana petir menggelegar di siang bolong ini. Hans, setahuku bugar saja selama ini. Bahwa ia pernah ditabrak saat dibonceng tukang ojek [sehabis diwawancarai di sebuah stasiun TV] memang benar; tapi itu sudah lama dan kakinya yang patah waktu itu sudah lama membaik. Ia rajin fitness. Pula rutin berolah pernafasan di Merpati Putih (MP) bersama sang istri, lady rocker tahun ’80-an, Hilda Ridwan Mas. Mbak Hilda guru besar di MP dan Hans pengurusnya.

Ada dua ‘andai’ yang sontak muncul di kepalaku begitu mendengar berita mengejutkan tersebut. Pertama, andai saja lebih awal mendengar kabar itu aku pasti akan melayat Hans dulu. Di Bogor, rumah kami cukup berdekatan. Kedua, andai jenazah Ompu Jeremiah tidak dibawa Klender akan lebih pas lagi. Sang nenek adalah tetangga Hans. Pasti aku bisa melayat keduanya sekaligus di satu kompleks perumahan. Ya…andai!

Di sepanjang perjalanan menuju Klender Hans Miller menyita pikiranku. Kenangan masa-masa bersama muncul laksana mozaik yang dimainkan mesin waktu.

Sudah lama aku akrab dengan nama ‘Hans Miller Banureah’. Ketika Monitor masih berjaya, nama itu hampir selalu muncul di setiap nomor baru tabloid yang dikomandani Mas Arswendo Atmowiloto tersebut. Persuaanku dengan si pemilik nama baru berlangsung sekitar pertengahan 2007 saat persalinan Tatap mulai berlangsung. Hans dan aku menjadi awak redaksi majalah budaya Batak ini. Bergabung juga orang-orang yang menjadi bagian dari lingkaran Bang Jansen H. Sinamo, yakni Nabisuk Naipospos, Benget Besalicto Tinambunan, Martin Lukito Sinaga, Edward Tigor Siahaan, dan Eka Namara Ginting. Bang Jansen yang merupakan ‘kepala suku’ kami daulat sebagai Pemimpin Redaksi Tatap mengingat jejaringnya yang luas.

Kami menggarap Tatap dengan gaya yang tak lazim. Awak tetap terbitan ini praktis itu saja—bauran wartawan, motivator, pendeta, dan pebisnis—selama dua tahun masa terbitnya. Di luar itu kontributor kedudukannya. Tim kecil ini lekas padu. Sebabnya? Kami dipertalikan oleh ‘ideologi’ yang sama yaitu hasrat besar memajukan kebudayaan Batak. Majalah yang tidak berorientasi bisnis ini pun menjadi semacam tempat pengabdian bagi kami yang sehari-harinya bergiat di lapangan masing-masing.

 

Pengelolaan Tatap tidak mengikuti kelaziman sebuah penerbitan. Agar hemat-praktis, kami officeless. Rapat redaksi kami bisa di mana saja, terutama di tempat ngopi berlokasi strategis. Suasana selalu rileks dan ramai termasuk saat pokok bahasannya berat; begitu rupanya kalau orang-orangnya datang dari pelbagai lapangan pekerjaan. Sebelum dan sesudah rapat kami pasti akan berkombur (bercakap bebas). Inilah saat yang sangat kami dambakan sebab paling dua kali saja adanya dalam sebulan.

Kami jarang bersua sebab koordinasi terkait tugas redaksi cukup lewat e-mail dan telepon seluler saja. Saat kombur, dari Hans biasanya akan kami dengar cerita eksklusif seputar dunia selebriti. Tentu saja bukan gossip yang ditangkap kuping kami. Sebagai sesepuh di media hiburan, Hans merupakan tempat curhat dan mengadu banyak orang sehingga menyimpan banyak informasi yang bukan pengetahuan umum.

Aku dan Hans Miller memiliki pertautan khusus. Aku langsung menyukai dia sebaik kenal. Kendati namanya besar di dunia liputan musik dan film yang glamor, ia tidak jumawa. Rendah hati dan santun, pembawaannya. Pula, suka bercanda. Pengetahuaannya ensiklopedis, khususnya ihwal jagat entertainment di Tanah Air. Lelaki kekar berkepala plontos yang berpergaulan luas ini ringan tangan pula membantu. Saat menyiapkan artikel ihwal Bill Saragih, misalnya, dari dialah aku mendapatkan kontak Buby Chen. Ia yang menghubungkan aku dengan pianis jazz terbaik Indonesia itu.

Seniman, itulah Hans Miller. Suaranya empuk. Sebagai penyanyi, ia pernah tampil di TVRI diiringi orkes Telerama-nya Pak Isbandi. Bergitar lelaki jebolan Sekolah tinggi Publisistik (STP) ini piawai. Dia mencipta lagu pula termasuk yang berbahasa Pakpak (ia orang Pakpak). Sebagai wartawan ia sangat berfokus pada liputan hiburan; tak pernah ia berpaling dari sana. Tak syak lagi, dia adalah salah satu dari segelintir wartawan hiburan terbaik yang pernah dilahirkan pers Indonesia.

Suatu waktu, Hans pindah dari Sentul ke Bogor. Kediaman barunya ternyata tak jauh dari rumahku. Pertalian kami kian erat sebab sehabis pertemuan redaksi atau liputan biasanya ia akan mengajak aku pulang bareng naik mobilnya. Tentu saja aku tak pernah menampik. Selain mendapatkan tompangan gratis, aku menikmati setiap percakapan dengan dia. Kawan berbincang yang asyik, dia. Topik obrolan kami selama dalam lintasan Jagorawi biasanya sekitar perkembangan industri musik dan film dalam negeri. Ada kalanya kami membahas soal dunia wartawan kita. Yang terakhir ini juga menjadi hirauan khusus kami.

Kami berdua sebenarnya berasal dari organisasi yang berhadapan secara diametral di masa Orde Baru. Ia pengurus teras di PWI Pusat (terakhir ia Ketua Departemen Infotainment), sedangkan aku orang yang dipecat organisasi tersebut karena ikut membidani Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 1994. Begitupun, kami saling menghargai. Sejak awal latar ini tak pernah menjadi penghalang yang membuat kami berjarak secara psikologis. Kami berlelaku gentlement. Ada hal yang lebih penting bagi kami dibanding perkara masa lalu, yakni kehendak membangun pers Indonesia yang jauh lebih baik dari yang sekarang. Kami sama-sama prihatin melihat media massa kita yang tak kunjung membaik mutunya meski press freedom sudah mewujud di Indonesia.

Sebagai sesepuhnya, Hans sangat memperhatikan nasib para pewarta infotemen. Ke aku ia beberapa kali menggambarkan realitas pahit yang dihadapi kaum peliput selebriti itu. Mereka ini, ucap Hans, sesungguhnya punya plus-minus. Tahan banting dan berdaya juang tinggi, itulah plusnya. Wawasan yang cekak, itulah minusnya. Kalau saja dibekali dengan wawasan dan skill jurnalisme standar, lanjut dia, mereka itu berpotensi besar menjadi pewarta tangguh. Aku amini pendapat dia.

Suatu waktu Hans menanyai aku. “Anak-anak infotemen umumnya bergabung dengan PWI. Kalau saja nanti ada kesempatan, Lae [begitu ia menyapa aku—bahasa Batak Toba yang artinya: ipar] mau nggak ikut melatih mereka? Kita bersinergi…” ucapnya di mobil. Kukatakan aku mau. Memang buat aku organisasi asal bukan masalah lagi; yang penting orangnya mau belajar. Lagi pula sebelumnya aku sudah pernah mengajar di kelas yang dipenuhi anak PWI. Kami pun sepakat untuk mencari waktu yang pas.

Setelah Tatap berhenti terbit [penyebabnya adalah sakitnya motor utama kami, Bang Jansen] awaknya lantas bercerai-berai; masing-masing larut dalam dunia lamanya. Kalaupun masih berhimpun, sesekali saja dan itu pun yang turut tak pernah lebih dari separuh. Rencana kami untuk memigrasikan majalah ini ke on-line dalam bentuk yang terus dimutakhirkan sampai hari ini tak kunjung terwujud kendati rindu kami untuk bersama lagi tidak padam. Aku dan Hans menjadi jarang bersua meski kediaman kami tidak berubah.

Rencana melatih bareng anak-anak infotemen belum terlaksana. Pekan lalu aku mendengar kabar: Pemimpin Redaksi tabloid XO itu berpulang karena serangan jantung. Semula aku tak percaya. Setelah kukonfirmasi ke beberapa kawan, memang begitu adanya. Aku pun langsung teringat lirik lagu Billy Joel: “….only the good die young. Ya, Hans Miller—sang wartawan-seniman yang konsisten meliput di dunia hiburan—telah pergi. Ia terbilang masih muda, seperti halnya saudaraku: Mama Eva (49) dan Pak Citra (51) saat berakhir kisah hidupnya.

Di hari Ultah AJI yang ke-21 ini aku pun berucap ke sobat dan kerabatku yang baru saja berpulang: “Selamat jalan ya….kisahmu akan tetap berada di relung hatiku.”

* P. Hasudungan Sirait adalah salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

Loading...