Beranda Seni Esai “Harakah Haru”, Puisi-Puisi Iswadi Pratama yang Berhasil Keluar dari Jebakan Klise

“Harakah Haru”, Puisi-Puisi Iswadi Pratama yang Berhasil Keluar dari Jebakan Klise

805
BERBAGI
AY Erwn, Iswadi Pratama, dan Fitriyani pada diskusi peluncuran buku
AY Erwn, Iswadi Pratama, dan Fitriyani pada diskusi peluncuran buku "Harakah Haru" di UKMBS Unila, Sabtu malam (19/4). Foto: Heru Tock

Oleh: Ahmad Yulden Erwin

Apa beda “topik” dan “tema” dalam suatu karya sastra, baik bergenre puisi atau prosa? Ini pertanyaan remeh temeh dan tingkat dasar sekali sebenarnya, tetapi banyak di antara para penulis, bahkan sastrawan sekali pun, yang tidak bisa membedakan antara topik dengan tema.

Berikut mari kita lihat batasan antara topik dan tema dalam konteks penulisan secara umum:

“Topik berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘topoi’, yang berarti tempat bertolak atau pokok dari seluruh isi tulisan yang hendak disampaikan. Sedangkan tema berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘thithenai’, berarti sesuatu yang telah diuraikan atau sesuatu yang telah ditempatkan. Topik adalah hal yang pertama kali ditentukan ketika penulis akan membuat tulisan. Topik, sebagai tempat pijak itu, selanjutnya dikembangkan dengan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas terkait suatu persoalan dan menjadi tema.

Terdapat beberapa kriteria untuk sebuah topik yang dikatakan baik, di antaranya adalah topik tersebut harus mencakup keseluruhan isi tulisan, yakni mampu menjawab pertanyaan akan masalah apa yang hendak ditulis.

Ciri utama dari topik adalah cakupannya atas suatu permasalahan masih bersifat umum dan belum diuraikan secara lebih mendetil. Topik biasanya terdiri dari satu atau dua kata yang singkat, dan memiliki persamaan serta perbedaan dengan tema karangan. Persamaannya adalah baik topik maupun tema keduanya sama-sama dapat dijadikan sebagai judul karangan. Sedangkan, perbedaannya ialah topik masih mengandung hal yang umum, sementara tema akan lebih spesifik dan lebih terarah dalam membahas suatu permasalahan.”

Jadi, topik bukanlah tema. Topik adalah pokok persoalan secara umum. Sedangkan, tema adalah uraian dari topik secara lebih khusus. Topik bicara pokok dari “apa”, sedangkan tema menguraikan “apa” dari topik itu menjadi “tentang”. Contoh:

TOPIK: Cinta 

TEMA: Cinta ditinjau dari aspek samanisme Indian Toltex di Meksiko menurut perspektif Carlos Castaneda.

Jadi, jelas sekali, tema bukanlah topik. Tema dalam konteks penulisan secara umum merupakan pendalaman dari topik, sudut pandang pengarang terhadap satu pokok persoalan. Tema dalam karya sastra selalu bertolak dari persoalan tertentu, dari adanya konflik, baik konflik internal maupun eksternal, yang kemudian bisa diuraikan secara lebih khusus ke dalam sub-sub tema.

Di dalam karya sastra tema selalu bisa menjadi “klise”, karena cara pengarang memandang atau mengambil sudut pandang terhadap suatu persoalan selalu bisa menjadi sekadar mengulangi hal-hal yang telah umum atau lazim dalam dunia sastra. Sebagai seorang seniman, maka sastrawan dituntut untuk kreatif menemukan sudut pandang yang baru atau yang unik terhadap satu persoalan, terhadap satu topik. Jika tidak, maka sastrawan hanya akan mengulang tema-tema yang “klise” dalam sastra. Tema memang bisa jadi klise, tetapi topik tidak bisa jadi klise. Kenapa? Karena topik selalu terkait dengan hal yang sangat umum, sementara tema terkait sudut pandang pengarang terhadap hal yang umum itu.

Kesimpulan dari diskusi peluncuran buku puisi “Harakah Haru” karya Iswadi Pratama malam ini adalah bahwa puisi-puisi Iswadi Pratama berhasil keluar “jebakan tema-tema klise” (bukan topik yang klise, karena tak ada topik yang klise dalam karya sastra), oleh sebab, salah satunya, ia berhasil menurunkan topik seperti “cinta” atau “kritik sosial” atau “religiusitas” ke dalam perspektif yang lokal dan sehari-hari, ke dalam dunia yang akrab dengan diri penyairnya.

Iswadi tak berpretensi untuk menuliskan tema-tema yang megah terhadap topik-topik di dalam puisi-puisinya, tak hendak menjadi sang nabi seperti Khalil Gibran, tetapi justru ingin menjadi bagian dari orang-orang biasa, orang-orang kecil yang akrab dengan kehidupannya sehari-hari, dan menyuarakan keluh atau harapan mereka dengan lirih. Strategi teks ini membuat puisi-puisi Iswadi menawarkan rasa haru yang konkrit, bukan abstraksi dari keharuan, serta mampu membawa rasa haru itu ke dalam batin pembaca secara perlahan-lahan.

Idiom-idiom atau diksi-diksi atau metafora yang muncul dalam banyak puisi-puisinya menjadi terasa akrab–sekaligus segar–karena diambil dari pengalaman sehari-harinya sendiri, seperti “segendong ingatan”, “kenangan tentang Tanjungkarang”, “gerowong dadaku”, “pohon-pohon kersen”, “resep dokter lembab di saku celana”, “tubi gampar”, “nyumput”, “tubuh yang sama keropos dengan sandal jepit”, dll. Keharuan dalam puisi-puisi Iswadi tidak timbul dari upaya untuk mengabstraksi rasa haru ke dalam tema, tetapi menghadirkan rasa haru ke dalam puisinya langsung dari kehidupan sehari-hari yang ia jalani dan atau ia renungkan.

Berikut adalah dua puisi Iswadi Pratama yang berhasil keluar dari jebakan tema-tema klise di dalam puisi, yang mengangkat persoalan besar kritik sosial dan religiusitas dengan cara yang unik, dengan cara kembali menurunkannya menjadi persoalan hidup sehari-hari rakyat jelata itu, kita ini, orang-orang kecil yang tetap bertahan di tengah himpitan situasi yang terpaksa kita terima sebagai sebuah melankoli atau ironi:

IBU YANG BERJANJI


–Sumarni

di toserba yang terang dan meriah
perempuan bunting tertangkap mencuri

wajahnya pasi merunduk dilecut takut
sebelah lengan gemetar layu menjinjing 1 blek susu

seorang balita bergayut di tepi baju lusuhnya
perempuan kecil yang tak mengerti mengapa ibu tiba-tiba dimaki

rambutnya direnggut, kepala dipopor sikut
tubuh yang sama keropos dengan sandal jepit di kaki

didorong ke muka orang ramai, wajah memar ditubi gampar
ujung bibir sobek ketika tinju merangsek

perempuan kecil ikut terhuyung hingga ke ujung
tapi ia tak menangis, memandang ke lain arah;

ke wajah-wajah cerah
orang-orang yang sejenak terpana lalu kembali belanja

ibunya digelandang ke sektor polisi
di luar pintu toserba ia menanti; tak ada yang menghampiri

kuberikan padanya 1 kaleng susu
dan ia berkata; “terimakasih, om. Saya tak minta, ibu yang janji.”

aku tak ingin pergi, tapi harus pergi
aku ingin mendekap dan membawanya serta

tapi hari demi hari hanya haru lalu lupa
dan toserba itu kini semakin megah

Bandar Lampung, 2003/2013

SELIMUT

Ketika kecil aku sering nyumput di balik selimut
Menghindar dari terang cahaya. Ingin sekali melampaui takut;
merasakan sesuatu di luar tata

Di dalam gelap, tak ada kekang. Seperti kumasuki
lorong panjang dan mengangankan nun di ujung
seberkas cahaya membimbingku ke tanah impian
di mana aku menjadi seorang tuan

Tapi ibu selalu menyingkap selimut itu dan berkata,
“Keluarlah cepat, nanti kau tersesat.”

Ah, ibu terlalu serius. Sekadar angan pun harus diurus.

2001