Beranda Views Opini Hardiknas dan Peradaban Unggul

Hardiknas dan Peradaban Unggul

233
BERBAGI
Slamet
Samsoerizal *)
Hari
ini, 2 Mei 2014, kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Tema yang
dipilih pada 2014 adalah  “Pendidikan untuk Peradaban Indonesia yang Unggul”.  Apa maknanya? Pendidikan bukan hanya untuk
menyelesaikan atau menjawab persoalan-persoalan yang bersifat teknis dan
kekinian semata. Akan tetapi, hakikat pendidikan adalah upaya memanusiakan demi
membangun peradaban  yang lebih unggul.
Ada
yang ditekankan pemerintah melalui peringatan Hardiknas kali ini yakni ihwal
Implementasi Kurikulum 2013. Melalui titipan penerapan Kurikulum 2013, pemerintah
melalui Kemendikbud mengharapkan agar peserta didik memiliki kompetensi secara
utuh: sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Tujuan mulianya adalah menyiapkan
generasi emas, menuju kejayaan Indonesia 2045.
Mampukah
kita mencapai tujuan tersebut? Pertanyaan sangat mendasar ini, sebenarnya grenengan klasik sekaligus menggelitik.
Pendidikan yang sejak awal pendirian bangsa ini memang diniatkan dalam upaya
mencerdasakan bangsa, sebagaimana tertuang pada Pembukaan UUD 1945,  diterjemahkan dalam berbagai rupa tafsir.
Ragam
Cerdas
Ketika
bangsa ini merdeka, kita menganggap bahwa kungkungan semasa penjajahan
berdampak terhadap kebodohan intelektual. Maka, kebodohan diupayakan dalam
bentuk bagaimana secara intelektual bangsa ini digembleng lewat jalur-jalur
pendidikan formal. Nalar dan akal didewakan. Dengan kata lain, kecerdasan
intelektual adalah segala-galanya. Lantas, apakah setelah kecerdasan
intelektual dipenuhi, kita dipenuhi generasi yang sukses membangun bangsa ini?
Secara empiris, itu tidak terbukti. Bangsa ini dibangun oleh beragam kecerdasan
secara komprehensif.
Lewat pendidikan, insan Indonesia cerdas
komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas
sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis.
Cerdas
spiritual memiliki makna bahwa peserta didik diharapkan
mampu beraktualisasi diri melalui olah hati/kalbu untuk menumbuhkan dan
memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan
kepribadian unggul. 
Cerdas emosional memiliki makna bahwa peserta didik
mampu beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan
apresiativitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta
memiliki kompetensi untuk mengekspresikannya.
 Cerdas
sosial memiliki bermakna agar peserta didik
memiliki kemampuan beraktualisasi diri melaluiinteraksi sosial dengan cara (a)
membina dan memupuk hubungan timbal balik; (b) demokratis; (c) empati
dan simpati; menghargai kebhinnekaan dalam bermasyarakat
dan bernegara;berwawasan kebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban
sebagai warga negara.
Cerdas intelektual memiliki makna bahwa peserta didik
diharapkan mampu beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh
kompetensi dan kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi
insan intelektual yang kritis,kreatif,inovatif,dan imajinatif. Cerdas kinestetis memiliki makna bahwa peserta didik
diharapkan mampu beraktualisasi diri melalui olahraga untuk mewujudkan insan
yang sehat, bugar,
berdayatahan, sigap, terampil, dan
trengginas.
Model-model
pendidikan berbasis kecerdasan memang perlu. Akan tetapi, alihalih keberadaan
manusia yang utuh, maka pelangi kecerdasan mesti ditebarkan pada semua lini
pendidikan mulai dari pendidikan formal hingga nonformal. Mulai dari jenjang
pendidikan dasar, menengah, hingga tinggi.  Hasil yang diharapkan adalah kesantunan dalam
berperilaku dan kecerdasan dalam menyikapi segala persoalan.
Niatan
yang Perlu Ditopang
Ragam
cerdas mengindikasikan sebuah bangsa beradab, karena itu unggul. Namun, sebagai
individu, ego manusia cerdas terkadang mewujud dalam dinamika kontraproduktif.
Ada
catatan menarik pascareformasi dalam perjalanan berbangsa dan bernegara. Apa
pun yang menjadi kebijakan pemerintah, acap dipatahkan oleh masyarakat (terdidik).
Dalam bingkai akademis, dialektika ini memang harus terjadi. Namun, kemasannya
mesti menarik ketika dikonsumsi publik sebagai produk bersama bangsa.
Saya
paling suka jika ada ilmuwan yang tanpa bekoar,
tetapi memiliki karya nyata. Ia begitu suntuk, demi sebuah temuan, penelitian, dan
berunjuk rasa tentang keahliannya kepada warga darat  tentang kiat bertani mulai dari bertanam
hingga memasarkan hasil pertaniannya secara online.
Ia sibuk meneliti dan mempublikasikan penelitiannya bertajuk darat dan
kehidupan baik dalam bentuk artikel popular, jurnal ilmiah, dan terutama buku-buku.
Ia mencontohkan
kepada para warga laut ihwal trik memanfaatkan kelautan untuk kehidupan. Ia
sibuk begadang menulis sejumlah buku pengetahuan kelautan untuk diwariskan
kepada bangsa yang sejak dahulu kala cuma bangga sebagai bangsa bahari tetapi
selalu terpinggirkan dari segi tekonologi kelautan. Ia sibuk –sebagai
ilmuwan—dengan kepakarannya demi kemaslahatan umat.
Insan-insan
terdidik yang demikian, pastilah mendampak pada generasi berikutnya karena sejak
awal ia  berhasil menyebarkan virus
budaya belajar-cerdas-berguna. Dengan demikian, mengusung tema  “Pendidikan
untuk Peradaban Indonesia yang Unggul”
pada Hardiknas kali ini perlu
dimaknai sebagai niatan yang perlu ditopang. Ini berarti, sebagai bangsa yang semakin
 cerdas, kita berkewajiban untuk andil
dalam membentuk bangsa dan negara kembali kepada khittah sebagai bangsa dan Negara yang terhormat baik di dalam
maupun luar negeri.   ****
—————————-
*) Peneliti
pada
Pusat Kaji Darindo

Loading...