Harga Solar dan Gas Turun, Harga Kebutuhan Pokok Masih Tinggi

Bagikan/Suka/Tweet:
Antrean di SPBU Kalianda, Lampung Selatan (Ilustrasi)

TERASLAMPUNG.COM–Rencana turunnya harga BBM jenis solar turun Rp 200/liter mulai Sabtu (10/10/2015), direspons dingin warga Lampung. Sebab, berdasarkan pengalaman turunnya harga gas, harga kebutuhan pokok tidak serta merta ikut turun.

“Kemarin harga gas turun, tapi juga tidak berdampak pada harga sembako di pasar. Beras tetap mahal,” kata Rodiyah, 56, warga Pasar Kangkung, Bandarlampung, Kamis (8/10).

Hal serupa diungkapkan Rojikin, nelayan di Pasar Gudang Lelang, Bandarlampung. Rojikin mengaku tidak begitu berharap turunnya harga solar bisa mendongkrak penghasilannya sebagai nelayan.

“Turun hanya Rp 200 per liter, tetapi harga kebutuhan pokok tetap tinggi.Itu sama saja bohong atau gak berpengaruh,” kata Rojikin.

Pengumuman rencana penurun harga solar itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Rabu lalu  (7/10).

“Solar turun 200 rupiah dari 6.900 menjadi 6.700 berlaku mulai tiga hari setelah pengumuman ini (Rabu, 7/10). Jadi, kita kasih kesempatan karena biasanya turun itu memerlukan persiapan logistik,” kata Sudirman Said kepada wartawan di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10) petang.

Menteri ESDM juga menyampaikan, harga avtur internasional turun 5,33% atau kira-kira 10 sen per dollar AS, namun untuk domestik turun 15%. Mengenai lebih kecil turunnya harga Avtur di dalam negeri ini, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, karena pemerintah punya tugas yang memang harus meng-create seluruh bandara termasuk bandara perintis sementara pemain internasional hanya fokus kepada bandara besar.

“Jadi, di sini Pertamina memberikan diskon penurunan lebih besar untuk yang internasional sementara untuk yang 1,4%,” jelas Sudirman.

Untuk harga elpiji (LPG) 12 kilogram, menurut Sudirman, turun 4,72%, dari Rp 141.000/tabung menjadi Rp 134.300, dan berlaku sejak 16 September lalu.

Pertamax turun 2,7%, dari Rp 9.250 menjadi Rp 9.000, berlaku sejak 1 Oktober. Pertalite walaupun masih harga diskon, tetapi Pertamina menurunkan harganya  Rp 100 atau 1,2%, dari Rp 8.400 menjadi Rp 8.300.

Menurut Sudirman Said, jika  nanti terjadi proses efisiensi terus dan nanti rupiah terus membaik kemudian harga minyak Indonesia (ICP) mengalami kestabilan, maka Pertamina bisa menyesuaikan sesuai harga keekonomian.