Beranda Teras Berita Hari-Hari Akhir Sang Presiden

Hari-Hari Akhir Sang Presiden

231
BERBAGI

Oleh Sunardian Wirodono

Dalam pembukaan rapat pimpinan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) di Istana Negara beberapa hari lalu, betapa memukaunya pidato Susilo Bambang Yudhoyono. Ia seolah bukan hanya pelaku, melainkan juga the thinker dari sebuah ilmu bernama demokrasi.

Dalam pidato yang mempesona, clean, penuh irama, kadang juga canda, ia menguraikan demokrasi per-definisi. Dan bagaimana mestinya sikap-sikap kita sebagai bangsa dan negara, baik di dalam maupun di luar negeri.

Demikian pula, betapa mulia pandangannya mengenai media massa, bahwa ia lebih membutuhkan freedom of the press meski tetap lebih pada soal tanggungjawab. Padahal, beberapa kali sering kita dengar pernyataan tak dewasanya mengenai dunia media, dan bagaimana ia berkeluh kesah mengenai hal itu.

Tak lama kemudian, SBY (mengaku selaku presiden dan ketua umum PD) mengundang Koalisi Merah Putih ke Cikeas, minus Prabowo Subianto dan ARB. Betapa ia tampak begitu tua dibandingkan yunior-yunior macam Fahri Hamzah, Fadli Zon, Rohamurzy, Idrus Marham yang tua,… Lagi-lagi ia pidato soal demokrasi, dengan mengatakan PD akan menjadi kekuatan penyeimbang, di luar pemerintahan, tetapi tidak bergabung di Koalisi Merah Putih. Dikatakan pula, Jokowi ‘hanya’ memperoleh 50 persen lebih sementara Prabowo-Hatta didukung tak sedikit suara, yang tak bisa disepelekan. Ini pernyataan apa, Pak Pres?

Politik dua kaki, biasanya hanya dilakukan oleh mereka yang carmuk dan carsel, cari muka dan cari selamat. Dan politikus Indonesia amat suka dengan hal ini.

Khusus pada fatsal perolehan suara dan legalitas, itu sangat aneh. Karena di beberapa negara yang memakai faham demokrasi, jika perolehan suara 25 persen suara itu tertinggi, maka dia adalah pemenang. Dan tidak pernah berarti 75 persen tidak mengakuinya sebagai pemimpin terpilih. Hanya di Indonesia saja ada istilah aneh, ‘presiden terpilih’ dan ‘presiden belum beruntung’ seperti kata Syarif Hassan. Dalam pilpres lalu, senyatanya Jokowi adalah presiden. Dan Prabowo? Prabowo capres yang kalah dalam kompetisi.

Tapi, orang yang mau lengser dari kekuasaan, kayak orang mau mati, ngomong baik-baik di beberapa tempat. Celakanya, tahu-tahu Jero Wacik dijadikan tersangka oleh KPK. Apapun omongan SBY, fakta itu menunjukkan dia pemimpin yang gagal dalam memimpin partai dan pemerintahan. SBY adalah presiden sekaligus ketua umum partai. Beberapa anggota PD terlibat korupsi. Beberapa menteri pembantunya, terlibat korupsi. SBY adalah pemimpin yang gagal dalam mengontrol anak-buahnya. Omongannya tentang anti-korupsi, tidak operasional.

Hanya orang PD dan pemuja SBY yang punya logika ‘dalam era SBY-lah berlangsung pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu’ (orang Demokrat pun disikat, jadi mending anak buah dijadikan contoh kebaikan pemimpinnya). Padahal, salah satu amanat 1998 adalah pemerintahan bebas KKN, dan itu yang tak bisa dilakukan oleh SBY. Bahwa SBY adalah petinggi negara yang tidak mau intervensi hukum, bukan berarti ia hebat. Karena tentu hanya yang mau bunuh diri di jaman sekarang ini melakukan intervensi hukum.

Loading...