Harta

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di Pascasarjana FKIP Unila

Harta merupakan segala kekayaan yang berwujud maupun tidak berwujud. Dalam ilmu ekonomi, harta juga disebut sebagai aktiva. Harta dapat dihitung dalam nilai mata uang untuk menentukan besaran dari nilai harta tersebut. Menurut sifatnya, harta atau aktiva dibagi menjadi dua jenis. Yaitu aktiva tetap (fixed asset) dan aktiva lancar (current asset).  Dalam bahasa Arab, harta disebut dengan al-mal,  dalam bentuk jamaknya adalah al-amwal.

Menurut kamus al-Muhith, harta adalah ma malaktahu min kulli syai (segala sesuatu yang engkau punyai). Berdasarkan pengertian ini, harta bisa berupa benda yang berguna dan bermanfaat, seperti uang, tanah, rumah, kendaraan, perhiasan, perabotan rumah tangga, hasil peternakan dan perkebunan, dan juga berupa harta intelektual (bisa dinilai dengan harga, apapun macamnya) seperti hak cipta, yang kesemuanya itu termasuk dalam kategori al-amwal, harta kekayaan.

Urusan harta dalam konsep ekonomi kita serahkan pada ahlinya; tulisan ini akan lebih fokus pada kaitannya dengan hakikat serta asas manfaat secara uhrowi, hal  ini seperti diyakini  dalam aturan agama yang penulis anut bukan hanya sekedar konsep kepemilikan, akan tetapi lebih kepada pertanggungjawaban; karena akan ada pertanyaan asalnya dari mana, dengan cara apa, dan digunakan untuk apa. Pertanyaan dimensional seperti ini tentunya tidak dapat dijawab dengan halaman yang terbatas.

Esensi harta oleh Buya HAMKA lebih jauh diungkap bahwa “…Harta yang kamu makan akan menjadi kotoran. Harta yang kamu simpan akan menjadi warisan dan rebutan. Tapi harta yang kamu sedekahkan akan menjadi tabungan yang abadi di akhirat…”. Nukilan ini sangat dalam artinya jika kita ingin memposisikan diri sebagai hamba Tuhan. Namun bisa terjadi kita menghamba pada harta, karena hanya melihat kemudahan yang didapat karena memilikinya, bukan untuk apa harta itu diperbuat.

Sementara itu ada adagium orang cerdas mengatakan “… hidup di dunia kaya raya, mati masuk surga …..” Orang cerdas akan memanfaatkan kekayaannya sampai dia sudah tidak ada pun di dunia ini; namun amal yang dilahirkan oleh harta yang dimiliki tetap mengalir ke alam akheratnya, contoh kekayaan yang dimiliki oleh sahabat Rasullullah yaitu Ustman Bin Afan. Penghasilan kebun kurmanya yang disedekahkan kepada para fakir miskin sampai jari ini; tentu saja pahalanya akan terus mengalir kepada beliau, sekalipun beliau sudah lama wafat.

Banyak hartawan yang menjadi dermawan; sebagai salah satu contoh seorang tajir dari satu daerah di Jawa Tengah yang membangun jalan di desanya  dengan uang pribadi. Terlepas apa motif yang ada di dalam hati, hanya Tuhan yang maha mengetahui. Tampaknya hartawan sekaligus dermawan ini ingin memanfaatkan hartanya untuk kemaslahatan orang banyak.

Contoh lain bagaimana Jufuf Hamka alias Babah Alun alias “Si Raja Jalan Tol” yang selalu dengan rendah hati mendermakan hartanya di jalan Tuhan dengan selalu berbagi kepada sesama. Sekalipun beliau kaya raya, namun dengan ringan tangan membagikan hartanya dengan pihak pihak yang membutuhkan. Dah inilah yang dimaksud Buya Hamka –ulama terkenal yang juga ayah angkat Jusuf Hamka — pada poin ketiga dari esensi harta itu. Tampaknya pada ranah manfaat banyak hal positif yang ditemukan.

Persoalan yang paling banyak justru dari metode atau cara mendapatkannya. Hal ini merupakan persoalan tersendiri. Metode atau cara ini tergantung dari banyak variabel yang menyertainya, termasuk akan keteguhan iman seseorang terhadap keyakinan yang diyakininya.

Bisa jadi metode yang dipilih salah, atau tidak tepat, seperti hasil dari suatu pekerjaan yang merugikan orang lain atau negara. Tentu saja hasil yang diperolehpun dipertanyakan keabsahannya secara agama. Bisa jadi yang bersangkutan lolos dari jeratan hukum dunia, namun hukum Tuhan tetap akan berlaku adil kepada makhluknya.

Oleh karena itu,  dalam agama dikenal suatu ajaran bahwa harta yang kita miliki hakikatnya sebagian adalah milik orang lain; sedangkan esensi kepemilikan adalah hak pakai atau hak pinjam yang diberikan Tuhan kepada kita; dan sewaktu waktu Tuhan menghendaki untuk kembali dengan cara-nya. Maka, tak satu pun makhluk yang dapat menghalangi. Pada posisi ini biasanya manusia menunjukkan egonya; seolah-olah apa yang dimilikinya adalah mutlak sifatnya. Padahal jika kita mau sekadar merenungkan sebentar, betapa repotnya manusia meninggal jika harus membawa semua yang dimilikinya. Merepotkan yang hidup dalam mempersiapkannya untuk memasukkan ke liang lahat.

Semoga pada bulan Syawal yang pernuh berkah ini dapat kita jadikan untuk mengevaluasi diri, adakah ilmu yang kita miliki sebagai harta paling berharga itu dapat juga memberikan manfaat pada diri sendiri dan orang lain. Untuk diri sendiri salah satu di antaranya dapat menggunakan dan mempertanggungjawabkan harta fisik, apa pun itu, di dunia dan akhirat kelak. Sedangkan untuk orang lain adalah memberikan manfaat bagi sesama baik selama di dunia, maupun kelak di alam sana, dan di sanalah sebenarnya hakikat keberkahan itu.

Selamat ngopi pagi!

 

 

 

 

 

You cannot copy content of this page