Hasil Swab Antigen Reaktif, Ibu Hamil Ini Ditolak 6 Rumah Sakit Saat akan Melahirkan

  • Bagikan
Ilustrasi ibu hamil/linkstockphotos

Zainal Asikin l Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN—Pandemi Covid-19 tak kunjung berakhir, hingga membuat sejumlah pihak mengalami kesulitan mendapatkan penanganan medis. Seperti yang dialami oleh Martini (35), seorang ibu asal Dusun Rancasadang, Desa Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang dinyatakan reaktif Covid-19 dan hendak melahirkan ditolak enam Rumah Sakit (RS) di Lampung dengan alasan kapasitas tempat tidur rumah sakit penuh.

BACA: Ditolak di 6 Rumah Sakit, Ibu Hamil yang Reaktif Covid-19 Akhirnya Melahirkan di RS Airan

Informasi yang diterima teraslampung.com, Martini yang tengah hamil 38 minggu hasil swab antigennya reaktif diduga karena terpapar dari suaminya, Slamet (40). Slamet sebelumnya sudah dinyatakan reaktif berdasarkan hasil rapidtes antigen di di salah satu klinik di Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.

Martini ditolak saat hendak melahirkan di salah satu rumah sakit swasta ternama di wilayah Kalianda, Lampung Selatan Jumat (16/72021) malam lalu karena hasil rapidtes antigen Martini reaktif Covid-19. Pihak rumah sakit swasta tersebut berdalih ruangan penuh.

Lalu, Martini dirujuk  ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar Kalianda. Sesampainya di RSUD Bob Bazar, Martini ditolak oleh pihak Rumah Sakit Rujukan Covid-19 di Lampung Selatan tersebut dengan alasan ruangan penuh.

Saat itu juga, Martini dibawa oleh keluarganya ke rumah sakit di Kota Bandarlampung. Empat rumah sakit di Bandarlampung didatangi Martini . Yaitu RSU Abdul Moeloek, RS Advent, RS Graha Husada, dan RS Imanuel. Semua rumah sakit itu menolak Martini dengan alasan hampir sama: kapasitas rumah sakit penuh dan Martini hasil swab antigennya reaktif Covid-19.

Dengan langkah nyaris frustrasi, keluarganya membawa Martini ke Rumah Sakit Airan Raya di Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan. Setibanya di Rumah Sakit tersebut, Martini tidak segera mendapat perawatan medis.

Merasa lelah tidak ada yang menerimanya dan mendapat penolakan dari enam Rumah Sakit tersebut, Martini hanya bisa pasrah. Ia pun menunggu keajaiban dan bertahan selama 9 jam di dalam mobil dengan air ketuban yang sudah pecah di area parkiran Rumah Sakit Airan Raya.

Akhirnya Martini mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Airan Raya setelah bidan Desa Banjarsuri, berkoordinasi dengan ketua organisasi bidan Lampung Selatan serta pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) Lampung Selatan dan pihak RS Airan Raya.

Pejabat sementara (Pjs) Kepala desa (Kades) Banjarsuri, Juliansyah saat dikonfirmasi membenarkan kisah pilu yang dialami oleh salah satu warganya tersebut.

“Ya benar, malam Sabtu kemarin saya dapat informasi itu. Pihak keluarga dari Martini ini mengabarkan, katanya ditolak beberapa Rumah Sakit baik itu di Kalianda, Lampung Selatan dan di Kota Bandarlampung karena ruangan penuh,”ujarnya kepada teraslampung.com, Senin (19/7/2021).

Mendapat kabar itu, kata Juliansyah yang baru seminggu menjabat sebagai Pjs Kades Banjarsuri ini, berkoordinasi dengan bidan desanya dan tim Satgas Covid-19 Kecamatan Sidomulyo serta pihak Dinas kesehatan (Dinkes) Lampung Selatan meminta kebijakan agar warganya yang mau melahirkan tersebut bisa segera mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit.

“Alhamdulillah setelah berkoordinasi, warga saya Martini ini mendapatkan perawatan medis di Rumah Sakit Airan Raya dan saat ini Martini masih dalam penanganan medis,”ungkapnya.

Menurutnya, sebelum Martini dinyatakan reaktif Covid-19, melainkan suaminya dulu yakni Slamet yang lebih dulu reaktif Covid-19. Pihaknya mendapat informasi tersebut, dari tim Satgas Covid-19 Kecamatan Sidomulyo.

Terpisah, bidan desa Banjarsuri, Imania, saat dikonfirmasi teraslampung.com membenarkan informasi tersebyt. Ia mengaku awalnya a ia mendapatkan informasi dari tim satgas Covid-19 Kcamatan Sidomulyo tentang  salah satu warga Dusun Rancasadang, Desa Banjarsuri bernama Slamet reaktif Covid-19.

Setelah mendapat informasi itu, Ia bersama pihak desa mencari informasi tempat tinggal pak Slamet tersebut. Setelah ditelusuri, istri dari pak Salmet yakni Martini ternyata dalam kondisi hamil dan memang sudah waktunya mendekati persalinan (melahirkan).

“Kamis malam, kami memanggil keluarga Pak Slamet untuk diberikan arahan agar tetap menjalankan prokes dan memberikan motivasi agar tetap menjaga imun tubuh,”kata Nia kepada teraslampung.com.

Jumat (16/72021) siang sekitar pukul 14.00 WIB, Ibu Martini datang ke rumahnya untuk berkonsultasi terkait kandungannya dan mengenai suminya yang dinyatakan reaktif Covid-19. Kemudian sore harinya, Martini kembali lagi dan mengkonsultasikan kondisi suaminya bergejala seperti batuk, demam tapi tidak merasakan sesak.

“Sebagai bidan desa, saya memberikan arahan dan dorongan semangat agar Ibu Martini ini tidak stress berlebihan. Takutnya, malah menggangu kehamilannya dan juga bayi dalam kandungannya,”ujarnya.

Selepas mahgrib, dirinya menerima telepon dari salah satu rekan bidan yang memberikan kabar, kalau Ibu Martini sudah pecah ketuban. Malam itu juga, oleh bidan tersebut dirujuk ke Rumah Sakit (RS) swasta di Kalianda.

“Di RS swasta tersebut, Ibu Martini dilakukan pemeriksaan rapidtes antigen. Setelah diperiksa, hasilnya menunjukkan reaktif Covid-19. Lalu Martini dirujuk ke Rumah Sakit Bob Bazar Kalianda,”ungkapnya.

Mengenai kabar bahwa Martini ditolak oleh RS Swasta dan RS BoB Bazar Kalianda dengan alasan penuh, Nia pun membenarkannya, namun Ia tidak mengetahui secara pasti mengenai penolakan tersebut.

“Ya benar, tapi saya tidak tau pasti ditolaknya itu. Saya dapat kabar itu (ditolak), dari pihak keluarga Ibu Martini setelah menghubungi saya malam itu,”kata dia.

Mendapat informasi tersebut, lanjut bidan Nia, malam itu juga ia langsung berkoordinasi dengan Ketua bidan Lampung Selatan lalu diteruskan ke pihak Dinas kesehatan (Dinkes) Lampung Selatan, agar pasien Martini yang dinyatakan reaktif Covid-19 dan mau melahirkan bisa diberikan perawatan di Rumah Sakit Airan Raya.

“Setelah berkoordinasi, Alhamdulilah pasien Ibu Martini ini akhirnya mendapatkan perawatan medis di RS Airan Raya,”bebernya.

Mengenai kondisi pasien Martini yang saat ini sudah mendapat perawatan medis di RS Airan Raya, Ia selaku bida desa bersama pihak Desa Banjarsuri terus memantau perkembangannya, mulai dari pasien Martini berangkat sampai sekarang ini.

“Minggu pagi kemarin, Ibu Martini sempat menghungi saya melalui ponselnya mengabarkan sudah ditangani oleh dokter, kondisinya sehat dan baik-baik saja meski belum melahirkan. Hasil dari USG, kondisi bayinya juga sehat dan masih dalam perawatan di ruang isolasi covid-19 RS Airan Raya,”jelasnya.

  • Bagikan