Beranda Views Kopi Pagi Hati Benny, Wakil Rakyat Kita

Hati Benny, Wakil Rakyat Kita

205
BERBAGI

Oleh Insan Purnama*

Benny akhinya menyerah pada saran yang disampaikan teman-temannya. Ya, ia bertekad untuk pergi menemui Ki Jambrong, yang konon disebut-sebut sebagai paranormal nomor di jagad ini. Dua kali ia nyaleg selalu gagal. Sebab itu, untuk ketiga kalinya, ia tidak mau gagal. Ketika beberapa temannya menceritakan keberhasilan mereka saat nyaleg lewat bantuan Ki Jambrong, ia pun tertarik.

Maka, di suatu hari ia pun pergi sendiri, tanpa ditemani siapa pun ke rumah Ki Jambrong. Jaraknya rumah Ki Jambrong cukup jauh, lebih dari 100 km, bahkan harus melewati rawa-rawa dan perbukitan segala. Rumahnya dicat dengan warna hitam. Ada ruangan untuk bersemedi, dan ada kolam untuk mandi tengah malam.

Keseraman rumah itu tak menyurutkan tekad Benny. Malahan, ia semakin yakin akan kesaktian Ki Jambrong. Apalagi ketika Ki Jambrong memamerkan kemampuannya dengan menyambutnya persis ketika dia akan mengutuk pintu.

“Silakan masuk, Pak Benny,” kata Ki Jambrong. Ia tersenyum kepada tamunya yang tampak lusuh. Saat itu malam Jumat kliwon, waktu yang tepat untuk sebuah ritual.

Pak Benny terkejut ketika Ki Jambrong menyebut namanya, tapi itu sekaligus membuat niatnya untuk meminta pertolongan Ki Jambrong kian kuat.

“Ba…baik, Ki,” jawabnya. Ia agak gugup berhadapan dengan orang tua yang tampak berilmu itu.

“Pak Benny, mari saya antar ke ruangan praktik saya. Saya sudah menyiapkan segala sesuatu yang Bapak perlukan.” Ki Jambrong mempersilakan Benny untuk mengikutinya masuk ke sebuah ruangan. Setelah mereka duduk berhadapan, Ki Jambrong berkata kepada Benny, “Pak Benny sudah tahu syaratnya?”

“Belum, Ki,” kata Benny dengan kepala tertunduk.

“Agar Pak Benny berhasil dalam nyaleg tahun depan, saya minta Pak Benny untuk mengeluarkan hati Bapak. Saya akan menyimpan hati Bapak baik-baik sampai waktu tertentu.”

Kata-kata Ki Jambrong begitu tandes terdengan oleh Benny.

“Hati, Ki? Bagaimana mengeluarkannya?” tanyanya memberanikan diri.

“Itu soal mudah bagi saya asal Pak Benny setuju saja.”

“Tapi, betul nanti saya akan berhasil nyaleg-nya?”

“Saya jamin Pak Benny. Coba Pak Benny sebutkan anggota dewan yang Bapak kenal pasti mereka dulu datang kepada saya saat sebelum nyaleg.”

“Okey, baik, saya setuju untuk mengeluarkan hati saya,” suara Benny sangat mantap.

(2)

Pemilihan umum pun digelar. Benny berada pada nomor urut 3 dari sebuah partai yang konon nasionalis. Ia berkampanye ke sana kemari dengan penuh semangat. Benny sangat yakin bahwa ia bakal terpilih menjadi anggota dewan. Ketika pencoblosan telah selesai dilakukan dan penghitungan suara telah selesai juga, ternyata Benny mendapat suara terbanyak hampir mencapai 75% dari semua suara masuk. Benny sangat bergembira, berkali-kali bibirnya bergumam, “Hebat, hebat Ki Jambrong!”

Setelah pelantikannya sebagai anggota dewan, Benny pun resmi menyandang sebutan tokoh nasional. Banyak teman yang bangga padanya, apalagi keluarganya. Tapi, sayangnya Benny mulai tidak peduli pada teman-temannya. Ia acuh tak acuh jika didatangi teman-temannya. Benny sering pergi sendiri menemui Ki Jambrong, orang yang dianggap sangat berjasa bagi kariernya itu.

Benny sering mencuekkan keluarganya. Ia seperti tidak perduli lagi pada anak-anaknya, pada istrinya.

“Papa seperti sudah tidak punya hati lagi kepada kita,” kata istrinya suatu ketika.

“Kamu ngomong apa sih? Semestinya yang penting bagi kamu, aku selalu memberimu uang yang berlimpah.”

“Tapi, uang saja tidak cukup, Pah. Anak-anak perlu perhatian kamu.”

“Ah, itu cuma kata kamu saja. Semua orang bergantung pada uang. Ya, sudah terserah kamu saja, kalau sudah tidak suka denganku, kita bisa bercerai kapan pun juga.”

Benny sangat angkuh pada keluarganya. Ia tidak peduli bahwa anak-anak sudah menjauhinya. Orang tuanya pun diabaikannya. Ia hanya tunduk dan patuh kepada Ki Jambrong.

(3)

Beberapa kali Benny mengusulkan kebijakan yang memberatkan rakyat. Tapi, ia mampu meyakinkan semua anggota dewan bahwa apa yang diusulkannya itu semata-mata demi kebaikan rakyat. Ia tidak segan pula mengusulkan agar gaji anggota dewan dinaikkan padahal saat yang bersamaan mereka menerima usulan kenaikan BBM. Berbagai fasilitas agar aggota dewan tampak wah, behasil Benny wujudkan. Anehnya, hampir semua anggota dewan setuju atas usulan Benny itu. Malahan, usulan Benny akan mulus disetujui jika Benny berkata, “Menurut petunjuk Ki Jambrong, ….”

(4)

Ki Jambrong tersenyum memandang toples-toples di ruangan praktiknyanya. Toples-toples itu berisi hati dari orang-orang yang sekarang menjadi anggota dewan. Hampir 75% anggota dewan menitipkan hatinya kepadanya. Ki Jambrong mengurus dengan baik hati itu. Sebab baginya, hati-hati itu aset yang akan membuatnya memperoleh kedudukan sebagai paranormal terhebat di jagat ini. Ia bahkan bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah lewat anggota dewan yang hatinya disimpan di ruangannya itu. Ki Jambrong sangat bangga pada Benny sebab Benny anggota dewan yang sangat patuh padanya. Ia mampu memanfaatkan ambisi Benny untuk kepentingan. Tapi, Benny tidak menyadari itu sebab Benny sudah tidak punya hati lagi.

(5)

“Dasar anggota dewan sudah ngak punya hati!” teriak seorang Ibu yang naik di atas balkon parlemen ketika harga BBM disetujui untuk dinaikkan lagi.

“Emang……” begitu jawaban serentak hampir semua anggota dewan.

Mampang Prapatan, 30 Juni 2015

* Insan Purnama adalah seorang pendidik. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Tulisan ini juga dimuat di kompasiana.com