Beranda Teras Berita Hati-Hati, Jangan Mem-“bully”Rumah Dunia

Hati-Hati, Jangan Mem-“bully”Rumah Dunia

249
BERBAGI

Gola GongSaudaraku, yang sastrawan atau bukan, perbedaan pendapat tentang buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” ” jangan sampai memecah-belah persaudaraan kita. Sebagai sastrawan (penulis) harus mau terbuka menerima sebuah gagasan baru. Kisruh ini sudah irasional, tidak mencerminkan lagi ciri-ciri sastrawan ; intelektual, berbudi pekerti luhur.

Sikap saya terhadap buku “33” sudah jelas, buku itu tidak sesuai dengan selera saya. Itu versi tim 8. Jika di dalamnya ada “rekayasa sastra” (Firman Venayaksa, Koran Tempo), itu persoalan moral. Bukankah selama ini kita mengagungkan adagium “pengarang itu sudah mati”? Jika kita mengatakan buku itu lemah dalam metode, itu berarti kapasitas tim 8 sebagai penulis patut dipertanyakan. Beberapa nama juga ada yag tidak layak masuk, itu kalau versi saya.

Saya tetap menghargai buku “33” sebagai sebuah gagasan. Saya tidak setuju dengan teman-teman yang ingin menarik buku itu dari peredaran. Tugas para akademisilah yang menguji buku itu di seminar, bukan lantas membombardir dengan caci-maki, apalagi meminta pemerintah menarik buku “33” dengan alasan sesat.

Saya sangat menyayangkan strategi dari teman-teman yang menolak buku “33” itu, yang sangat kasar, tidak beretika, sehingga jadi tidak produktif. Awalnya ingin meminta dukungan kepada kami, pada akhirnya jadi tidak bersimpati.

Saya mengalaminya. Padahal saya bukan penulis buku “33” itu. Bahkan jadi bagiannya pun tidak. Saya, Ahda Imran, Toto St Radik, Ahmadun Herfanda, Firman, Halim HaDe dan Leak Sosiawan hanya ingin “menengahi” saja dengan menggelar diskusi di Rumah Dunia pada 9 Maret. Jamal D Rahman dan Halim HD sudah bersedia,. tapi sayang Katrin Bandel menolak.Alasannya, tidak terrtarik dengan ide saya yang oportunis, memancing di air keruh, bahkan saya disuruh diam dengan ancaman akan menyerang Rumah Dunia.

Saya tidak paham, serangan apa yang dimaksud, karena rumah Dunia dibangun bukan untuk menyerang sesama sastrawan, kecuali kalau ia korup merugikan masyarakat.

Faruk HT yang direkomendasikan Halim mengganrikan Katrin juga tidak bisa hadir, karena teman-temannya (yang menolak buku “33”) tidak setuju Faruk hadir di Komunitas Literasi Rumah Dunia.

Tapi kemudian timbul perlakuan yang tidak menyenangkan; saya dibully, oleh kelompok yang ingin menarik buku “33” di grup FB anti pembodohan “33 Tokoh Sastra. Saya dianggap oportunis, bahkan yang paling tidak masuk akal, Rumah Dunia, komunitas yang kita bangun bersama-sama untuk menyiapkan penulis dan pembaca sastra di masa depan dituduh bagian dari DJA.

Saya menyarankan kepada teman-teman semua, agar tetap berpikir jernih. Saya hanya ingin mengingatkan, Rumah Dunia adalah perwujudan dari surat Alaq dan agama yang kami yakini; Islam. Jika ngebully saya, itu wajar dan saya anggap itu dialektika dan kritik kepada saya. Tapi jika ngebully Rumah Dunia adalah bagian dari DJA atau hal negatif lainnya, itu sama saja mencari banyak musuh, karena Rumah Dunia tidak hanya saya, tapi juga sastrawan se-Indonesia. Rumah Dunia itu sudah milik semua. Dan secara pribadi, saya tidak akan tinggal diam.

Sebaiknya kita harus tetap penuh cinta, menjaga ruh kesusasteaan Indonesia agar tetap indah. Jika ada yang mengotorinya, kita harus sama-sama melenyapkannya. Kita harus buang sampah yang mengotori kesusateraan kita. Sastra itu budi pekerti.

Abdul Salam, sastrawan muda dari Banten beranalogi, “Pernah di Chili rakyatnya berpesta pora merayakan nobel Pablo Neruda, tapi di kita, yang dirayakan ‘caci maki’ seperti ini. Tidak menarik.”

Justru yang harus kita rumuskan adalah tujuan besar kita sebagai sastrawan dalam berkarya. Menurut Fakhrunnas Jabbar, sastrawan dari Riau, “Hal yang paling penting adalah mengangkat martabat sastrawan Indonesia di luar negeri, misalnya.”

Sekali lagi, status ini substansinya hanya satu: jangan ngebully Rumah Dunia. Ingat itu.

Tetap semangat, penuh cinta damai. Jayalah sastra kita.

Serang, 14 Februrari 2014

Loading...