Beranda Seni Sastra Hebat! Udo ‘Mamak Kenut’ Z Karzi Kembali Raih Hadiah Sastra Rancage

Hebat! Udo ‘Mamak Kenut’ Z Karzi Kembali Raih Hadiah Sastra Rancage

524
BERBAGI
Zulkarnain Zubairi alias Udo Z Karzi alias Mamak Kenut (Foto: Istimewa)

TERASLAMPUNG.COM — Sastrawan yang menekuni bahasa Lampung, Udo Z Karzi membali mendapatkan Hadiah Sastra Rancage. Sama seperti penghargaan terdahulu, penghargaan kali ini juga untuk karya sastrawan yang akrab dengan tokoh lokal Mamak Kenut itu adalah untuk kategori karya sastra berbahasa Lampung.

Karya pria bernama asli Zulkarnain Zubairi yang mendapatkan Hadiah Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage adalah roman biografis bertajuk Negarabati. Udo pun berhak atas hadiang uang senilai Rp5 juta.

Sebelumnya pria asli Liwa, Lampung Barat, ini pernah meraih Hadiah Sastera Rancagé 2008 untuk kumpulan sajaknya yang tajuk Mak Dawah Mak Dibingi yang terbit tahun 2007. Penghargaan Rancage ini lepas dari Lampung pada tahun 2016. Pasalnya, karena pada tahun 2015 tidak ada karya sastera Lampung modern yang terbit. Selain Udo, sastrawan Lampung yang menulis karya sastra berbahasa Lampung yang pernah meraih Hadiah Rancage adalah perempuan penyair Lampung, Fitriyani, dan esais kuat Asarpin.

Negarabatin diterbitkan Pustaka LaBRAK, Bandarlampung, tahun 2016. Ini merupakan roman pertama dalam karya sastera Lampung modern. Roman setebal 200 halaman ini mengambil latar alam perdesaan di Liwa, Lampung Barat, tahun 1970-1986 dan berkisah tentang Uyung yang berkali-kali mencoba melarikan diri dari pekon (desa, kampung)-nya yang miskin. Namun berkali-kali pula karena adanya ikatan batin yang begitu kuat, ia pulang kembali ke desanya itu.

Ketua Dewan Pembina sekaligus pendiri Yayasan Budaya Rancage sastrawan Ajip Rosidi, mengatakan, jika buku-buku karya sastera Lampung yang mendapat Hadiah Sastera Rancagé sebelumnya merupakan kumpulan puisi, maka roman ini merupakan bentuk pengucapan baru dalam sastera Lampung modern.” Mudah-mudahan bentuk ini akan banyak ditulis dalam bahasa Lampung oleh para sasterawan Lampung kelak,” ujar Ajip Rosidi.

Penghargaan Sastera Daerah

Ajip Rosidi, lebih lanjut, memaparkan untuk tahun 2017, Yayasan “Rancage” harus memberikan hadiah lebih banyak. Untuk tahun ini, Yayasan “Rancagé” akan memberikan 11 hadiah dan satu penghargaan khusus untuk cerpen dalam bahasa Batak yang berjudul “Parlombu-lombu” (Si Gembala Sapi) karya Soekirman Ompu Abimanyu.

Meskipun jumlah hadiahnya hanya kecil yaitu Rp. 5 juta buat setiap pemenang, namun buat Yayasan “Rancagé” terasa cukup berat. “Mulai tahun depanHadiah Sastera “Rancage” 2018, kami tidak akan memberikan hadiah untuk jasa. Tetapi hanya satu hadiah untuk karya sastera,” tandas Ajip Rosidi.

Untuk sastra daerah lainnya yang berhasil meraih penghargaan Hadiah “Rancage” untuk sastera Sunda buku bertajuk: Diantara Tilu Jaman karya Aaam Amilia terbitan Adicikal Raharja, Bandung 2016. Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” buat sastera Sunda bidang jasa akan diberikan kepadaKomunitas Ngejah, Sukawangi, Singajaya, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Komunitas Ngejah merupakan wadah kegiatan literasi yang dibangun dan dihidupkan oleh sejumlah anak muda yang kelihatan hasilnya serta mendapat sambutan dari pemerintah maupun masyarakat luas. Komunitas Ngejah didirikan tanggal 15 Juli 2010. Penghargaan untuk sastera Jawa diraih buku: Agul-agul Blambangan ,oman sejarah karya Moh. Syaiful , terbitan Sengker Kawung Belambangan, Banyuwangi, 2016.

Sedangkan Hadiah Sastera “Rancage” 2017 untuk jasa dalam sastera Jawa akan dihaturkan kepada H.Abdullah Purwodarsono, yang sudah puluhan tahun terlibat dalam proses penerbitan sastera Jawa yang dimuat dalam mingguan Djaka Lodang yang terbit di Jogjakarta.

Penerima Hadiah sastera “Rancagé” 2017 untuk karya dalam sastera Bali adalah buku bertajuk: Kutang Sayang Gemel Madui, Kumpulan cerpen karya Dewa Ayu Carma Citrawati, terbitan Pustaka Ekspresi, Denpasar 2016

Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk jasa dalam sastera Bali akan diberikan kepada I Putu Supartika. Penulis yang usianya masih terhitung muda ini diganjar penghargaan , karena memberikan sumbangan kepada kehidupan sastera Bali moderen lewat dua jalur. Yang pertana melalui jalur penciptaan dan penerbitan karya sastera dan kedua melewati jalur penerbitan jalur jurnal elektroniik sastera Bali moderen.

Untuk karya sastera Batak yang berhak mendapat penghargaan buku berjudul: Sonduk Hela kumpulan cerpen karya Tansiswo Siagian, terbitan SPT, Jakarta, 2016.

Sedangkan Hadiah Sastera “Rancagé” 2017 untuk jasa dalam sastera Batak akan diserahkan kepada Grup Tortor Sangimbas. Komunitas ini lembaga kelompok penulis yang berkarya dan berdiskusi di facebook sejak 2012. Merekalah yang telah menghidulkan kembali sastera dalam bahasa daerah Batak. Buku-buku yang mereka hasilkan potensial sekali untuk menyumbangkan serba kearifan lawas bagi dunia yang sedang runtuh benteng-benteng kebajikannya.

Diluar kebiasaan , Yayasan “Rancagé” tahun ini ingin memberikan hadiah penghargaan terhadap karya yang tidak berupa buku, melainkan merupakan cerita pendek yang dimuat dalam buku kumpulan bersama. Seperti diketahui biasanya buku karya bersama tidak dinilai untuk mendapat hadiah “Rancagé”. Tetapi cerpen dalam bahasa Batak yang berjudul “Parlombu-lombu” (Si Gembala Sapi) karya Soekirman Ompu Abimanyu (Bupati Serdang –Bedagai) yang adalah seorang Jawa (artinya yang bahasa ibunya bukan bahasa Batak) sangatlah istimewa.

Bukan saja bagus sebagai cerpen, melainkan juga ditulis bukan oleh “pemilik” bahasa ibu tersebut. “Mudah-mudahan akan ada lagi bahkan akan banyak lagi orang yang memperkaya sastera bahasa ibu (bahasa daerah) yang bukan bahasa ibunya sendiri,” ujar Ajip Rosidi.

Terakhir, lanjut Ajip Rosidi, untuk karya dalam sastera Banjar yang berhak mendapat penghargaan Sastera “Rancage” buku bertajuk : Pembatangan, sebuah Roman karya Jamal T. Suryanata
Selain memberikan penghargaan Hadiah Rancage, Yayasan Kebudayaan Rancage juga kan menyerahkan Hadiah “Samsoedi” untuk buku bacaan anak-anak berbahasa sunda bertajuk : Nala karya Darpan berupa piagam uang Rp 5 juta.

Ajip Rosidi menambahkan untuk untuk penyerahan hadiah “Rancage” dan Hadiah “Samsoedi” 2017 akan diserahkan di Bandung. “Untuk waktunya sedang dirancang yang pas,” ujar Sasterawan yang lama bermukim di Jepang ini.

Christian Heru C Saputro